KETIKA IBU PERGI



 

Semenjak ibu menghilang dalam lorong kamarnya yang berliku, tungku di rumah kami tak lagi menyala. Ibu, terlalu sibuk tersesat pada gambar yang mulai menguning pinggirannya. Berkali usaha untuk mengeluarkan Ibu dari lorong itu menemui jalan buntu. Ia pasti meninggalkan ujung benang dan melangkah tanpa pertanda yang akan membawanya kembali. Ibu, apakah kau melihat lentera yang menyala di depan tingkapmu?
Aku, tak ingin mereka--para tetangga yang suka mengintip dari balik tirai--mengetahui bahwa Ibu telah pergi. Tidak! Mereka akan menghubungi petugas-petugas berseragam yang akan menjauhkanku dari Layla, adikku. Ia adalah satu-satunya alasan agar pikiranku tetap waras. Tak bisa dibayangkan jika Layla harus memasuki rumah-rumah singgah yang rapuh sebelum akhirnya ia berpindah ke rumah lain yang lebih kokoh. Layla, gadis sembilan tahun yang sangat manis. Muka pucat, bibir seranum apel, rambut ikal menggantung. Ia mirip boneka porselen yang kami lihat di pasar malam. Layla akan dengan cepat membuat siapapun jatuh hati. Jika ia beruntung, salah satu tetangga baik hati akan membuka pintunya dan Layla tak perlu merasa sendirian di rumah singgah yang rapuh.
Mereka--para pengintip itu--tak boleh mendengar, bahwa ada hari ketika gigil menembusi dinding yang berlubang atau mendobrak masuk melalui celap di atap. Kami hanya sanggup memeluk dingin dan bergulung dalam kekosongan yang memukul-mukul dinding perut. Mereka tak boleh tahu itu. Karena keesokan harinya, kami akan tetap berjalan tegak ke sekolah dengan baju yang licin berkilat dan rambut tersisir klimis.
Suara-suara kengerian dari rongga perut masih terus memaksa keluar dan mendesak tubuh ringkih hingga hampir terjatuh. Layla semakin pucat, bahkan hampir transparan tertimpa sinar matahari. Berhari, kami hanya menanak sebongkah batu hingga air periuk mendidih dan meniupi air beruap seperti meniup sup panas. Khayalan bisa terbang setinggi-tingginya. Saat itu, khayalan kami hanya sanggup terbang pada semangkuk sup panas yang segera menerjang harimau kumbang yang berlari menuruni bukit. Harimau yang membawa angin dingin di punggungnya.
Aku dan Layla, hampir tumbang. Tak sanggup lagi memasukkan deretan huruf dan angka ke dalam otak. Semua semakin berkabut dan melayang ketika matahari makin meninggi. Kami terduduk kehabisan tenaga di emperan toko yang belum beroperasi. Rasanya, kami tak akan sanggup tiba di rumah tanpa terjatuh di tengah jalan. Tuhan, apakah ini waktunya?
Bayangan lelaki, terlihat menjulang menutupi teriknya matahari. Ayah, apakah kau yang berdiri meneduhi? Menjemput kami dengan keretamu? Di mana Ibu? Mengapa kau tidak menjemputnya juga? Kau pasti bisa menemukan Ibu, bagaimanapun tersesatnya ia. Seperti di pasar malam waktu itu, saat tangan kita saling berpencar lepas.
Saat itu, hari pertama pasar malam dibuka. Riuhnya bukan main. Padat tak tanggung. Bahu dan tubuh saling desak, tak peduli orang tua atau anak. Semua lesak dalam keramaian yang tak lapang. Kau genggam erat tangan kami di masing-masing tanganmu, kau desak punggung ibu dengan dadamu. Tapi cabikan keras membuat genggammu tak lagi kuat. Arus mengantarkan kami ke tepi-tepi keriuhan. Ke sisi penjual makanan dan aksesoris. Aku mendengar lengking bingung dan ketakutan Layla. Menyayat serong dari telinga hingga ke dada. Arus menahanku untuk tetap mematung di tempat sembari menegakkan cuping-cuping telingaku mencari suaranya. Entah dari mana datangnya kehangatan itu, ia sanggup mencairkan kekakuanku dan membungkam isakan Layla.
"Kita akan mencari Ibu. Pegang kuat tangan Ayah!"
Lalu tubuh kekarmu menyeruak kerumunan manusia, seperti kau menebas lebatnya ilalang di tanah kosong sebelah rumah kita. Ilalang yang menggores kulit-kulit arimu dan tak kau hiraukan perihnya. Kau tak ingin hewan melata tak bertuan bersarang di sana dan melukai kami, putrimu.
Matamu menyoroti tiap kepala di pasar malam itu. Ibu dan pikirannya yang kalut tak sulit kau temukan. Ibu yang ringan dan rapuh, begitu mudah rusak bila tersentuh. Ia lebih kuat bila Ayah mengiringinya. Tanpa Ayah, Ibu kehilangan palang untuknya tegak. Siulan atau batuk kecil membuatnya mengasap dengan cepat.
Ibu bersandar pada tiang yang kokoh ketika mata Ayah menyoroti matanya. Seketika ia menghambur ke pelukan Ayah dan menguras isi bola matanya hingga kering. Aku dan Layla memegang ujung kemeja Ayah hingga seratnya berderak-derak. Kami tak mau hanyut lagi dan terdampar di tepian antah berantah.

***

Lelaki yang berdiri menghalangi matahari itu, bukan Ayah. Ia melewati kami begitu saja. Membuang iba dan melemparkan plastik hitam yang membuntal, tepat kehadapan kami. Layla meraih plastik itu dengan jemari kurusnya. Bintang-bintang bertandang pada kelabunya kabut di dua bola mata.
"Bisa kita masak ini, Kak?"
Aku meraih plastik dari tangan Layla dan membiarkan anak-anak sungai membentuk jejaknya di kedua pipi. Gegas kuraih tangan Layla. Hanya kekuatan harapan yang membuat kami melaju begitu kencang. Melupakan angin yang bosan bertiup di rongga perut. Meninggalkan jajaran toko yang meliuk tersapu angin. Melewatkan kelebat pohon-pohon lamtoro yang berebut meniupkan sejuknya pada kami.
Siang itu, kami berpesta mi instan. Menyisihkan untuk Ibu seandainya ia berniat pulang. Dan membeli beras dari uang yang ditinggalkan lelaki tadi di dalam plastik hitam. Siapapun ia, Tuhan meminjam tempatnya untuk mencegah kepergiaan dua jiwa. Malam itu, kami berdua tidur dengan perut keras dan wajah puas. Melupakan kebiasaan kami mengutuki kepergian Ibu yang tanpa izin.

***

Para pengintip punya kegiatan baru. Mereka kini sibuk saling membisiki. Meniupkan angin puyuh pada setiap pintu dan jendela yang terbuka. Menunjuk dengan matanya pada tirai-tirai yang rapat. Pintu yang tertutup. Juga rimbun tapak dara yang mengering dan membungkuk. Kemana Ibu kalian? Apakah ia sakit sejak Ayah kalian meninggal? Siapa yang memberi makan kalian? Dengung-dengung pertanyaan seperti gerombolan lebah membentuk lingkaran di kepala. Ibu kami baik, ia berduka tapi ia tak terluka. Para pengintip mengerling jahat pada daun pintu yang mengunci.
Ibu menghilang, tak seorang pun tahu. Bagaimana kami mencari makan? Tidak mungkin aku mencari pekerjaan di pasar basah sebagai kuli angkut atau petugas gang di supermarket. Tidak ada yang mau mempekerjakan gadis lima belas tahun dengan tulang bahu menonjol dan pandangan tidak bersahabat. Kepedihan, juga kelaparan menggerus masa kanak-kanak yang tersisa. Aku diperam dengan paksa untuk cepat dewasa. Hari-hari tertawaku memasuki masa kadaluarsa lebih cepat. Tidak ada pekerjaan untuk anak yang harus merahasiakan kepergian ibunya dan menjaga adiknya tetap hidup. Sejak kapal yang membawa Ayah pulang meledak dan karam, aku merasa tak punya lagi masa depan.
Selepas kepergian Ayah, kami bertahan hidup dari uang asuransi. Aku berharap Ibu bisa berbuat sesuatu dengan uang itu. Tapi Ibu hanya diam memandangi foto Ayah di meja rias. Uang asuransi tak sempat beranak pinak dan mengering di bulan ketiga Ayah pergi. Aku mengguncang tubuh Ibu, berteriak padanya, menangis, memohon agar ia tak pergi. Tapi Ibu pergi. Meninggalkan kami yang mulai kelaparan.
Kadang aku ingin membiarkan lapar membunuhku. Tak peduli pada Layla, sama seperti Ibu yang tak peduli pada kami. Tapi mata adikku mengingatkan pada sorot hangat Ayah, seolah mampu menghidupkan kembali keinginan-keinginan yang hampir pupus.

***

Aku memandangi senja yang hampir menua. Entah bagaimana langkahku bisa sampai di tepi pantai. Sepertinya aku berjalan sambil melamun. Pemberian lelaki yang berdiri menghalangi matahari, hampir habis. Kami sudah berhemat sebisa mungkin. Makan sehari sekali, dengan porsi yang sangat minim. Berulangkali suara di kepalaku membodoh-bodohi lambatnya aku mengambil keputusan. Seharusnya..., seharusnya ketika uang pemberian lelaki itu masih ada, aku bisa menyisihkan sebagian untuk membuat bakwan. Yang bisa kujual dan kutitipkan ke warung-warung. Tapi aku malah sibuk membeli bahan makanan, untuk memuaskan perut kami yang selalu kosong.
Aku ingat, sewaktu Ayah masih ada, ia pernah mengajakku ke teluk tersembunyi ini. Menyusuri jalan-jalan tanah dan lebatnya hutan kecil di belakang pemukiman kami. Jalan yang mendaki membuatku sering mengeluh lelah. Belum lagi jalanan yang tidak rata dan banyak akar pohon, membuat kakiku sering tersandung. Ayah hanya tertawa, ia bilang aku lemah dan cengeng. Kata Ayah, jika aku ingin menjadi pelaut seperti Ayah, aku tak boleh lemah apalagi cengeng.
"Laut sangat menyukai orang-orang lemah dan cengeng. Ia selalu menyambut baik kedatangan mereka dan menjamunya di tempat terdalam dan terdingin."
"Ayah tidak lemah. Ayah juga bukan orang cengeng. Aku tidak pernah melihat Ayah menangis. Jika laut menyukai orang cengeng dan lemah, pasti laut membenci orang-orang kuat seperti Ayah. Mengapa Ayah masih pergi melaut?"
Ayah mengelus kepalaku lalu merangkul pundakku.
"Laut juga punya sisi baik, Nay. Ia kelelahan mengandung bermilyar benih di perutnya. Kita membantu laut mengail benih-benih itu. Tentu saja kita melakukannya dengan cara yang baik sehingga laut tidak marah dan membenci kita."
"Aku tidak mengerti Ayah. Aku hanya ingin menjadi pelaut seperti Ayah, supaya bisa naik di kapal besar dan tinggi!" kataku sambil merentangkan tangan.
Ayah tergelak dan mulai memunguti keong-keong yang bermunculan ketika laut menyusut.
Aku tersentak! Keong-keong yang bermunculan dari pasir basah menyadarkanku dari lamunan. Gegas kucari tempat untuk mengumpulkan keong-keong itu.
"Ini namanya gonggong, Nayla. Di teluk ini, jika laut menyusut, mereka akan bermunculan dan merangkak naik. Kita tinggal mengumpulkan dan merebusnya untuk makan malam. Kita beruntung karena tidak banyak orang tahu tentang teluk ini. Kapan-kapan Ayah akan mengajarimu menombak rajungan dan menjala udang. Ada sungai kecil yang bermuara ke laut di tengah hutan ini. Udang-udang sungai berdesakan di sana. Sepertinya menunggu kita."
Ayah mengedip padaku, yang kala itu masih mencoba mencerna kata demi kata yang diucapkannya. Tapi kini aku mengerti. Semua pengajarannya, seolah mempersiapkan aku untuk menghadapi saat seperti ini. Ayah pasti tahu, Ibu tak bisa diandalkan.
Malamnya, kami kembali tidur dengan perut buncit dan keras. Aku berhasil mengumpulkan berkantong-kantong gonggong segar. Satu kantong kubawa pulang untuk kurebus sebagai lauk makan malam. Sisanya kujual di tepi jalan. Sepuluh ribu sekantong, orang berebut membeli. Aku punya cukup uang untuk membeli beras dan garam. Kami akan bertahan hidup dan melewati hari-hari dingin tanpa perut kosong lagi.
Hampir setiap sore, aku pergi ke teluk. Mengumpulkan gonggong dan menombak rajungan. Sungai kecil yang banyak udangnya seperti yang diceritakan Ayah, belum kutemukan. Rasanya hutan yang tak seberapa luas itu sudah kususuri tiap jengkalnya.
Uang hasil menjual gonggong dan rajungan lebih dari cukup untuk membeli makanan. Aku mengolahnya sebaik mungkin supaya kami masih bisa membeli pulsa listrik, membayar air, dan membeli alat tulis. Juga keperluan mandi dan mencuci. Sebelum azan subuh memanggil, aku sudah menyalakan kompor. Menggoreng bakwan dan tempe tepung untuk dititipkan di pedagang kue di pinggir jalan. Sesekali aku minta Layla membawa juga ke sekolah untuk dititipkan di kantin sekolah. Kami bilang, Ibu yang membuatnya.

***

Suatu sore, aku terperosok pada lubang di tengah hutan. Di bawah sebatang pohon yang meranggas. Kakiku yang menggapai-gapai, menyentuh permukaan dingin dan sejuk. Air! Dengan penuh keyakinan, kubiarkan tubuhku merosot lebih dalam. Aku terjatuh ke dalam air yang mengalir.
Sungai ini tak seberapa dalam. Airnya jernih dan segar. Di dua sisi sungai, tanaman pakis tumbuh dengan subur. Menutupi aliran airnya yang tenang. Itu yang membuat sungai ini tampak tersembunyi. Aku berjalan menyusuri sungai. Mencoba mencari ke mana hilir dan hulu. Di kedalaman air, aku merasa hewan-hewan kecil bergesekan di betisku. Terasa geli namun ngeri. Ratusan, ribuan, ratusan ribu atau mungkin jutaan udang berebut tempat di dalam air. Ayah benar! Sungai ini tak pernah di datangi orang. Udang-udang ini menungguku!
Aku pulang dengan sekantung udang sungai yang masih berlompatan. Berkantong udang sudah terjual. Sengaja kusisakan lebih banyak agar bisa kubuat bakwan udang untuk kujual besok pagi. Hari ini, keberuntungan dipihakku. Aku berhasil menombak kerapu sungai yang cukup besar. Layla berteriak girang dan segera menyiapkan tempurung kelapa untuk membakarnya. Seperti saat Ayah masih ada.

***

Aroma kerapu bakar memenuhi halaman belakang. Menyusup ke celah jendela. Sela-sela pintu. Menuntun yang terlena untuk pulang pada kesadaran. Membangkitkan kenangan yang terpendam untuk menangisinya dalam sesak. Ia, sosok yang telah lama pergi, berbulan tak kembali, tak peduli jika anaknya mati, hanya peduli pada jiwanya yang bersedih, berdiri nanar di ambang pintu belakang. Mengucap nama Layla, mengucap namaku. Layla menghambur ke peluknya. Tangis berbalas tangis. Peluk semakin ketat. Cium bertubi-tubi. Basah bercampur air mata.
Aku memandanginya dingin. Perih rasa ditinggalkan belum memudar. Tapi ia masih ibuku. Ibu yang selalu mematung dan menatap kosong di kamarnya. Pergi meninggalkan kesadarannya, mencari suami yang tak kan kembali. Kini ia berjalan, berkata-kata, aku bahkan lupa jika ia juga bernapas. Ia tetap ibuku, bagaimanapun bersalahnya ia. Dan tangisku memecah di peluknya.
Kerapu bakar di senja yang berjalan menuju malam, terasa nikmat meski tanpa Ayah di sini. Kerapu bakar, yang kini berlumur sambal buatan Ibu, menuntun Ibu pulang kembali pada kami. Kami bertiga menikmati lezatnya kerapu bakar, sambal terasi, dan sepiring nasi mengepul, tanpa berkata-kata. Semua sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mungkin Ibu masih memikirkan Ayah. Butiran bening mengalir di pipinya saat cuilan kerapu memasuki mulut. Tapi ia tidak menghilang. Sorot matanya menatapku, memastikan bahwa ia tak akan pergi lagi.
Aku, sibuk mengawasi Ibu dan Layla. Bergantian. Kami tidak sempurna saat ini. Tapi kami akan bertahan, saling menguatkan. Kami pasti bisa melewati masa-masa sulit tanpa Ayah. Dan aku akan memastikan, Ibu tak akan menghilang lagi. Ia tak boleh pergi lagi!

Batam, Juli 2016




Komentar

  1. Masya Allah, ini keren banget Mbak Lusi
    Bulir bening hampir jatuh dari kedua pelupuk mataku

    BalasHapus
  2. Huum, keren banget. Harusnya gak sekadar masuk di cerpen apresiasi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS