MEREKA PIKIR SAYA GILA
(Radar Mojokerto, Minggu 26 Maret 2017)
1/
Warga komplek mengira saya gila.
Kenapa?
Karena
setiap hari saya membersihkan rumah berkali-kali hanya untuk menyambut
kedatangan suami.
Apa
itu salah?
Seharusnya
perempuan-perempuan yang berbisik dengan tatapan sinis itu menilai dirinya
sendiri sebelum mengata-ngatai saya. Lihat saja penampilan mereka. Daster yang
baunya bercampur antara keringat dan bumbu dapur, rambut digulung-gulung dan
diikat karet gelang, muka berminyak dan berkilat akibat lelah dan kurang
perawatan. Apa mereka pikir lelakinya akan tampak senang apabila pulang
disambut dengan kekacauan? Kekacauan pada penampilan istrinya, kekacauan pada rumah
tangganya, kekacauan pada penampilan anak-anaknya. Tapi, toh mereka tak jera
menggunjingkan saya. Meski mereka tahu, diam-diam lelaki mereka lebih suka
memandangi foto Raisa di smartphone
mereka.
Saya
pun suka memandangi foto pesohor di smartphone
saya. Tak jarang saya mencari informasi terkini tentang pesohor idola saya.
Sama seperti para lelaki itu, saya sendiri kurang suka dengan tabiat buruk
suami saya. Suka membuang abu rokok sembarangan. Suka meletakkan buku di mana
saja. Dia juga suka menyembunyikan gelas kopi yang baru diminum separuh di
tempat-tempat yang tidak semestinya. Ketika saya protes tentang kebiasaannya
itu, dia hanya bilang jika dia melakukan itu karena saya sering membuang kopi
yang baru diminumnya separuh. Padahal dia bermaksud menghabiskannya
nanti-nanti. Karena baginya minum kopi bukan seperti minum air putih yang
sekali teguk langsung habis.
Tentu
saja saya berkilah atas tuduhannya itu. Kopinya mungkin baru separuh diminum.
Tapi hari sudah berganti. Kopi di sudut kamar atau di kolong kursi sudah
bercampur debu dan dikerubungi semut. Mungkin juga cicak atau lalat pernah
mencicipinya sedikit. Saya geli membayangkannya.
2/
Bicara
soal cicak. Saya pernah memiliki pengalaman traumatis dengan hewan melata yang
satu itu.
Ada
satu pendapat pernah saya baca, jika cicak akan tinggal di tempat yang banyak
persediaan makanan baginya. Seperti nyamuk, lalat, atau serangga kecil lainnya.
Tapi rumah saya sangat bersih. Nyamuk dan lalat saja segan setiap kali mampir
ke dalam rumah. Lalu bagaimana cicak betah hidup di dalam rumah yang tidak
tersedia makanan baginya? Saya memahaminya pada suatu malam.
Ketika
itu, saya terbangun tiba-tiba. Saya merutuki diri sendiri karena tidur tanpa
disengaja. Mungkin saya lelah, karena seharian membersihkan mebel hingga tak
ada debu sedikit pun yang menempel. Seperti namanya, mebel yg artinya moveable, bisa digerakkan. Saya sering
menggerakkannya untuk menghapus debu yang tersembunyi.
Saya
juga sudah mengepel lantai lebih dari tujuh kali. Karena anak tetangga bolak-balik
datang mengantarkan makanan kecil buatan ibunya, yang katanya tester untuk dia jual keesokan hari.
Tujuh tester. Tujuh kali kedatangan.
Tujuh kali mengepel.
Karena
kelelahan itulah saya akhirnya tertidur ketika seharusnya saya mencuci muka dan
gosok gigi, mengganti baju dengan piyama tidur dan memastikan semua barang
teratur dan terletak pada tempatnya. Karena kelelahan itulah saya tidak
mengecek magic com, sehingga yang
seharusnya tertutup, saya temukan menganga sedikit dengan centong nasi
tersembul di salah satu sisinya. Dan pada saat itulah saya melihat seekor cicak
terperangkap di dalamnya. Hewan lembek menjijikkan itu melihat saya dengan
sepasang mata nocturnalnya yang panik.
Akhirnya
malam yang tersisa saya habiskan dengan mencuci magic com berkali-kali dan membersihkan perabot dengan teliti. Pada
saat membuka laci-laci meja kerja suami, saya menemukan bungkusan-bungkusan
keripik dan biskuit dengan serpihan-serpihannya berserakan di dasar laci.
Pantas saja dia selalu melarang saya membongkar lacinya. Jika sudah begini, dia
harus berlapang dada membiarkan saya membersihkan seluruh ruang kerjanya.
Karena di beberapa tempat, saya melihat keluarga cicak membangun sarang.
3/
Suami
saya seorang wartawan media cetak nasional. Di ibukota ini, berita seperti
sampah. Berserakan di sepanjang jalan. Tidak seperti ketika dia ditugaskan ke
daerah-daerah terpencil. Mengorek sumber berita sama sulitnya seperti mencari
berita itu sendiri. Tidak jarang ketika sedang bertugas di daerah rawan
konflik, nyawa menjadi taruhannya. Saya sendiri selalu siap parang panjang di
bawah kasur untuk berjaga-jaga jika suatu saat ada orang-orang yang berniat
jahat mendatangi rumah kami di malam buta.
Bukan
tidak mungkin hal itu terjadi. Ketika suami saya ditugaskan ke provinsi ke-32,
saat itu sedang ada konflik antar suku. Di depan mata suami saya, seseorang
dipenggal kepalanya dan diacung-acungkan ke hadapan suku lawan. Membakar amarah
kedua belah pihak sehingga perang dan kejar-mengejar tidak dapat dihindari.
Dengan tubuh menggigil suami saya bersembunyi di dalam belukar dan berharap
bantuan segera tiba. Doanya terkabul. Letusan senjata peringatan dan
orang-orang berseragam berlarian di antara pohon dan semak. Menyelamatkan yang
bisa diselamatkan, mengamankan yang harus diamankan. Sejak itu, suami saya
tidak bisa tidur nyenyak tanpa senjata tajam di bawah tempat tidurnya.
Ketika
masa tugas di daerah berakhir, provinsi tersebut pun sudah membuka diri untuk
pembangunan. Tidak ada lagi suasana mencekam meski puluhan suku dan ras
berjejalan di pulau berbentuk kalajengking itu. Dengan berat hati, karena
merasa sudah banyak peluang ditebar di sana sini, kami pun harus meninggalkan
pulau itu. Suami saya kembali ke kantor pusat dengan posisi sebagai wartawan
senior dan dibebani pemberitaan yang lebih berat. Tidak jarang dia harus
menulis berkolom-kolom untuk sebuah liputan khusus. Yang artinya, diperlukan
analisa yang tajam dan sumber data dari narasumber yang terpercaya. Untuk
mengerjakan satu liputan khusus dengan tema terkini, pernah suami saya tidak
tidur sampai dua hari. Mata cekung dengan lingkaran hitam di sekelilingnya,
tubuh kuyu, bau badan menusuk, kopi dan asap rokok di ruang kerjanya. Semua itu
membuat saya hanya sanggup mengepalkan tangan dan mempertemukan gigi atas dan
bawah rapat-rapat hingga terasa sakit sepanjang rahang. Saya benci perabotan
kotor, saya benci ruangan berantakan, saya tidak suka benda-benda berserakan.
Dan ketika saya protes padanya, dia hanya bilang, "Aku tidak bisa bekerja
dalam ruangan yang bersih dan teratur. Membuat aku tidak bisa berpikir."
Saya
pun jarang menyentuh ruangannya sejak itu, meski rasa gatal di sekujur tubuh
saya timbul jika membayangkan ada ruangan seperti pasar tradisional di rumah
yang saya tinggali.
4/
Seperti
laki-laki yang mengidolakan pesohor, saya juga punya pesohor pujaan. Saya suka
David Beckham. Bukan hanya karena kegantengannya, tapi karena penampilannya
yang selalu rapi dan bersih. Kadang saya merasa jika saya dan Beckham adalah
dua kekasih yang menunggu waktu yang tepat untuk bertemu. Hingga waktu
pertemuan kami, maka kami harus sabar menjalani takdir masing-masing.
Saya
suka cara Beckham menyusun buku-buku pribadinya. Saya juga sangat terpesona
melihat susunan pakaian di lemarinya. Juga susunan sepatunya. Cara dia mengatur
isi rumahnya. Meletakkan perabotan satu dengan yang lain, juga cara dia
menyelaraskan warna di dalam rumahnya. Bukankah semua akan menjadi lebih sedap
dipandang jika diletakkan pada tempat seharusnya?
Saya
dan Beckham memang suami istri yang sebenarnya. Hidup kami akan segera bertemu
pada satu masa waktu.
5/
Warga
komplek mulai membiarkan saya. Mungkin mereka bosan menggunjingkan saya.
Lagipula saya tidak mengganggu mereka. Tidak seperti orang gila yang mereka
pikirkan. Suka berteriak tak karuan dan berkeliaran mengganggu ketertiban umum.
Saya hanya melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan seorang istri yang
menunggu suaminya pulang.
Sebulan
yang lalu, suami saya minta izin untuk mengantar rombongan wisata ke Pulau Seribu.
Dia bilang, ada bocoran dari sumber yang bisa dipercaya bahwa akan ada kenaikan
bahan bakar dan TDL. Itu artinya, harga kebutuhan pokok akan meroket. Dengan
gaji suami saya saat ini, sebenarnya tidak akan memengaruhi apapun pada
kebutuhan hidup kami. Meski tidak rutin, saya juga punya penghasilan dari
menulis untuk beberapa orang terkenal yang ingin menerbitkan buku. Beberapa
novel misteri saya juga tidak mengecewakan penjualannya. Bahkan ada satu novel
yang sudah dialihbahasakan dan menjadi best
seller di negara tetangga. Dan kami berdua sudah memutuskan tidak akan
memiliki anak. Kami sepakat, memiliki anak butuh modal besar, karena dia adalah
investasi yang tidak murah namun beresiko tinggi. Bagi saya pribadi, anak
adalah sumber ketidakteraturan dan biang sampah tak terduga.
Suami
saya bersikukuh, jika dia harus mengumpulkan receh tambahan agar masa tua kami
berdua lebih terjamin nantinya. Tidak ada istri yang tidak melambung tinggi,
jika suami sudah memikirkan hidup sejahtera berdua di masa tua nanti. Saya
terharu dengan keromantisannya dan memberinya izin untuk pergi. Tapi naas,
takdir menyudahi impian suami saya. Kapal yang ditumpangi suami meledak dan
karam. Orang-orang meninggal silih berganti diangkat dari laut. Satu per satu
mayat mereka diidentifikasi. Satu per satu saya kenali wajah-wajah membiru
kehabisan oksigen. Tak satu pun dari wajah-wajah itu adalah suami saya. Dia
belum ditemukan. Ada yang bilang dia hilang. Saya bilang, dia telah berjanji
akan menua berdua dengan saya.
Mereka
bilang saya gila karena menunggu orang yang hilang di laut. Saya juga menolak
mengadakan tahlilan kematian suami saya. Mereka pikir, saya menolak karena
mengira suami saya masih hidup. Mereka pikir, saya selalu membersihkan rumah
karena menunggu suami saya kembali. Mereka pikir saya hanya menyibukkan pikiran
untuk menghalau kenyataan tentang kematian suami saya.
Tidak.
Mereka salah.
Suami
saya memang sudah mati. Dia tidak pernah menaiki kapal sial itu meski namanya
sudah tercantum dalam daftar penumpang. Saya membuatnya menepati janji untuk
selalu bersama sampai tua. Saya terpaksa melakukannya. Saya harus melakukannya.
Sudah saya katakan saya benci ketidakteraturan dan kotor di mana-mana. Juga di
kemejanya yang bernoda lipstik merah marun sedangkan lipstik saya berwarna
merah muda. (*)
Batam,
Januari 2017

Komentar
Posting Komentar