JANJI SEBELUM TIDUR
(Majalah Tegalredja, September 2017)
Lagi apa?
Biasa. Nidurin Kinan.
Tadi pulang jam berapa?
Biasa. Jam lima sampai rumah.
Ada masalah di kantor?
Hampir tidak ada. Kamu? Sepertinya hari ini sedikit
terlambat sampai di rumah.
Ada sedikit masalah di pengiriman.
Parah?
Enggak. Bisa diatasi, kok.
Syukurlah.
Ummm ... kamu nggak kangen, ya, sama aku?
Aku capek. Kinan sedikit rewel hari ini. Tadi
sewaktu aku pulang, dia menangis keras sekali sambil memelukku erat.
Ah, dia cuma kangen mamanya. Mungkin kamu kurang
meluangkan waktu untuk dia. Terlalu sibuk bekerja.
Enggak jugalah. Kalau sampai rumah aku selalu
ngurusin dia. Kalau weekend juga aku selalu bawa dia ke mall atau berenang.
Kayaknya bukan karena kangen. Mungkin ada hal lain.
Coba besok pagi kamu tanya dia baik-baik. Mungkin
dia mau cerita. Kinan cukup cerdas.
Ya, dong. Seperti mamanya.
Jadi ..., kamu beneran nggak kangen aku?
Mmm ..., mau tahu apa mau tahu banget?? :D
Jangan bercanda, deh, Ras. Aku lagi kangen berat,
nih sama kamu.
Gombal!
Serius! Jam berapa kamu bisa ke sini?
Jam berapa, ya? :D
Sudah kubilang aku sedang tidak ingin bercanda.
Cepatlah ke sini, Ras. Aku tunggu, ya.
Sebentar. Kinan terbangun.
Laras meletakkan ponselnya dan menepuk-nepuk paha
anaknya dengan lembut. Dengan penuh kasih sayang dia mengecup kening anaknya
dan menghapus air mata yang sempat jatuh di kedua pipi gembilnya. Sejak pulang
kerja tadi, Kinan sangat rewel. Tidak mau berjauhan dari Laras. Bahkan ketika
Laras mandi pun, Kinan memaksa ikut mandi juga atau dia akan menangis kuat-kuat
sambil memukul-mukul pintu kamar mandi. Mungkin benar kata Bagas, kalau Kinan
lagi kangen.
Mengingat tentang Bagas, selalu membuat Laras
tersipu. Di balik sosoknya yang acuh dan terkesan tak perduli sebenarnya Bagas
sangat memperhatikan Laras. Bagas jarang berbicara pada Laras. Tapi
pesan-pesannya di whatsapp begitu
cerewet. Dari Laras bangun hingga Laras tidur, Bagas selalu menghujaninya
dengan pesan-pesan perhatian, penuh cinta, atau sekadar cerita keseharian dia
di galerinya. Dan tawaran Bagas tadi sebenarnya sangat menggoda. Jika Kinan
tidak rewel, Laras bersumpah akan menemui Bagas dan mencumbunya penuh cinta.
Ah, Bagas ...
Ting!
Satu pesan masuk.
Ting! Ting! Ting!
Tiga pesan sekaligus. Pasti dari Bagas. Sudah tiga
puluh menit Laras meninggalkan obrolan mereka dan membiarkan Bagas menunggu
jawaban darinya.
Pasti ketiduran, ya?
Tulis Bagas, diakhiri dengan emoticon kesal.
Halo.
Larasss!
Jangan tidur
dulu, please. Aku masih kangen, nih!
Laras tersenyum membaca pesan dari Bagas. Dia
memandang Kinan yang sudah terlelap. Desah napas anak semata wayangnya sudah
teratur dan tenang. Apa cukup aman untuk meninggalkan Kinan dan menemui Bagas
sebentar? Laras mengusap dahi putrinya. Sejak kecil, Kinan tidak pernah tidur
sendirian. Selalu ada Laras di sisinya. Bagi Laras, saat tidur bersama Kinan,
seolah bisa membayar waktu kebersamaan mereka yang hilang.
Aku nggak ketiduran,
kok.
Terus kenapa
lama balas chat. Kamu tahu, nggak? Aku udah kedinginan nungguin kamu.
Pakai saja jaket
atau selimut.
Mana bisa? Aku
pengen dipeluk kamu.
Kamu beraninya
cuma di WA aja.
Jadi kamu mau
aku peluk di depan umum? Beneran, nih? Nggak nyesel?
Kenapa harus
nyesel? Kamu, tuh yang selalu jaga jarak.
Tak ada balasan.
Typing.
Lalu terdiam. Typing. Terdiam lagi.
Sepertinya Bagas berusaha mengatakan sesuatu tapi
gagal menemukan kata yang tepat. Laras meletakkan ponsel di sisinya lalu
memejamkan mata. Selalu begitu. Jika Laras meminta Bagas menunjukkan
perhatiannya di muka umum, Bagas selalu menolak. Bagas bilang, dia ingin
menjaga kehormatan Laras. Sebaliknya, Laras ingin agar orang-orang tahu tentang
hubungan mereka.
Hampir saja Laras terlelap ketika ponselnya
bergetar. Sebuah pesan masuk lagi. Tidak perlu menebak dari siapa, pasti Bagas
yang mengirim. Rupanya dia sudah bisa merangkai kata untuk memberikan jawaban
pada Laras.
Baiklah. Kalau
itu maumu. Kalau kita ada kesempatan pergi bersama, aku akan menggandeng
tanganmu seperti orang buta dan memelukmu seperti Kinan yang ditinggal mamanya
seharian.
Semudah ini? pikir Laras. Bagas yang biasa akan
berkelit dengan kata-kata yang membuat dahinya mengernyit. Bagas yang biasa
akan melempar seribu alasan untuk menolak keinginan Laras. Sekali lagi Laras
membaca pesan dari Bagas. Kalau kita ada
kesempatan pergi bersama. Ini sungguh Bagas?
Tok-tok!
Siapapun yang sedang membajak HP Bagas tolong kembalikan pada orangnya.
Maksudnya apa,
nih, Ras?
Yang nulis tadi
pasti bukan Bagas, kan? Kalau Bagas yang asli nggak bakal semudah itu bilang
iya. Bagas biasanya bakal ceramah abis-abisan sebelum akhirnya bilang kalau dia
bahagia dengan keadaan seperti sekarang. Seolah tak punya hubungan di dunia
nyata, tapi kelewat protektif di dunia maya. Aku bosan tau, Gas! Kita nggak
bisa selamanya kayak gini.
Kamu benar, Ras.
Dan seperti yang selalu kamu bilang. Orang harus berubah.
Lama Laras terdiam. Apa ini ujian dari Bagas, untuk
mengetahui sejauh mana dia serius dengan keinginannya. Setelah keinginan
sederhananya terwujud, mungkin Laras akan menyesal habis-habisan bahkan
menangis. Ketika nanti mereka berdua berjalan di depan umum, orang-orang
mungkin akan memperhatikan mereka. Yang mengenal mereka mungkin akan bergunjing
di belakangnya. Dan setelah penghakiman publik yang dia terima, Laras mungkin
akan membenarkan sikap Bagas yang selalu menjaga jarak. Tapi Laras tidak mau
mencabut kembali keinginannya. Orang memang harus berubah. Termasuk dirinya.
Oke. weekend ini
kita jalan ke mall. Bareng Kinan. Dan kali ini kamu akan bersikap mesra padaku.
Kita bergandengan tangan dan kamu akan merangkulku. Seperti yang dilakukan oleh
mereka yang sedang jatuh cinta.
Kamu tidak akan
menyesal?
Tidak.
Baguslah. Dan
jangan menangis setelahnya.
Kenapa harus
menangis?
Entahlah. Kamu
kadang suka melankolis tanpa sebab.
Aku tidak
begitu!
Sudahlah. Aku
sedang tidak ingin berdebat di WA.
Kamu yang
duluan.
Oke-oke. Aku
minta maaf. Jadi bisa kamu ke sini sekarang?
Jadi hanya agar
aku ke sana, kamu meng-iya-kan permintaanku dengan cepat?
Jangan mulai,
Laras. Kamu tahu kalau aku sebenarnya nggak suka berdebat di WA.
Tapi kamu nggak
bisa diajak bicara baik-baik kalau bukan di WA. Selalu penuh emosi dan
meledak-ledak. Kadang-kadang kamu membuatku takut.
Bagas typing.
Kali ini cukup lama. Sepertinya Bagas mengetikkan sesuatu yang panjang. Laras
mendesah dan melemparkan ponsel ke sisinya. Dia menutup wajahnya dengan bantal.
Mencoba merenungi kembali, apakah hubungan mereka bisa dilanjutkan atau harus
diakhiri? Pertanyaan itu kerap muncul di benak Laras setiap kali mereka ribut.
Kita berdua tahu
pasti alasan keenggananku terlihat di muka umum denganmu Laras. Aku sudah
berulang kali mengungkapkan hal ini padamu. Bagiku selama kamu masih
mencintaiku, itu sudah cukup. Tidak perlu orang lain tahu mengenai kita. Tapi
kalau bagimu hal itu sangat penting, aku akan mengabulkannya. Aku tidak mau
kehilangan kamu. I love you, Laras. Selamat malam. Semoga mimpi indah.
Mata Laras berkaca-kaca membaca pesan terakhir
Bagas. Sepertinya Bagas benar-benar tulus. Sepertinya Bagas memang ingin
berubah dan memperbaiki keadaan. Bagas tidak seegois dugaan Laras. Dan pada
seseorang yang mau berubah, apakah Laras tidak ingin memberikan kesempatan?
Maafkan aku. Tulis
Laras. Aku juga mencintaimu. Aku hanya
takut suamiku yang sangar, tinggi, besar, dan berambut gondrong itu tidak bisa
memahami keinginanku. Dia baik. Mungkin laki-laki terbaik yang pernah kutemui.
Sayangnya dia tidak percaya diri. Dia terlalu rendah menilai penampilannya dan
merasa tidak layak untuk hidup bersamaku. Tapi aku tahu kalau dia sebenarnya
sangat sayang padaku.
Aku tahu
perasaanmu. Karena aku pun terkadang tidak memahami apa kemauan istriku. Dengan
menikahinya, itu berarti aku telah memilih dia untuk menemaniku menua dan
menjadi ibu bagi anak-anakku. Tapi dia selalu merasa bahwa semua itu tidak
pernah cukup. Cinta baginya butuh pembuktian dan pernyataan. Sedangkan aku,
lebih suka merasakan cinta dalam diam.
Apakah istrimu cantik?
Perempuan paling
cantik yang pernah aku temui. Jika tidak, mana mungkin aku mau menikahinya.
Jadi hanya
karena dia cantik kamu mau menikah dengannya?
Ah, sudahlah,
Laras. Jangan mulai lagi. Aku malas berdebat di WA. Jika masih mau melanjutkan
perbincangan ini, datanglah kamu ke sini.
Aku tidak mau
datang. Aku ngantuk.
Ya sudah kalau
begitu. Selamat tidur!
Bagas kesal dengan penolakan Laras. Setelah
menuliskan pesannya, ponsel Bagas tidak aktif. Ini membuat Laras menjadi tidak
enak hati. Dia paling tidak suka jika harus pergi tidur dalam keadaan seperti
ini. Seperti ada yang salah dalam dirinya dan pasti dia akan bermimpi buruk
sehingga besok, dia akan terbangun dalam keadaan sakit kepala. Tapi tetap saja
Laras memaksa matanya terpejam.
Rasanya belum lama Laras menutup matanya ketika
dirasakan ada sesuatu menggelitik pipinya. Aroma musk menyegarkan yang sangat dikenalnya, menggoda penciumannya. Laras
membuka matanya perlahan-lahan.
"Kamu ngapain, Gas?" Laras menghindar
ketika dagu Bagas yang kasar mengenai pipinya.
"Sudah kubilang aku kangen."
"Jangan malam ini. Nanti Kinan bangun."
"Dia nggak akan bangun. Kinan anak baik. Dia
tahu mama-papanya butuh waktu untuk bersama."
Laras hendak protes, tapi
bibir Bagas membungkamnya. Dengan sekali hentakan, Laras merasakan kedua tangan
Bagas di punggung dan tungkainya. Tanpa kesulitan, Bagas membopongnya keluar
kamar Kinan. Membawanya ke kamar mereka yang terletak di sebelah kamar Kinan.
Dalam cahaya terang kamar mereka, Laras bisa melihat
tubuh besar Bagas menjulang di sisi tempat tidur. Sedang mengikat rambut
gondrongnya yang hampir mendekati pinggang. Bagas yang seorang seniman, lebih
suka berpenampilan nyentrik dan awut-awutan. Bertolak belakang dengan Laras
yang mungil dan imut. Yang selalu berpenampilan manis seperti gula-gula. Hal
itulah yang membuat Bagas selalu menolak jalan bersisian dengan Laras, kendati
mereka telah menikah selama enam tahun dan dikaruniai seorang putri cantik dan
lucu.
"Jangan lupa kunci pintunya, Gas," kata
Laras ketika Bagas mematikan lampu. (*)
Batam,
Juni 2017
Komentar
Posting Komentar