ANAK-ANAK BERSAYAP





(Majalah Tegalredja Edisi Juli 2016)


Tuhan tidak pernah tidak adil. Dia selalu tahu mana yang terbaik bagi makhluk-Nya. Mungkinkah aku tidak cukup baik, sehingga Tuhan membiarkan doaku menggantung selama 11 tahun? Hanya Tuhan yang tahu jawabannya.


Gagal lagi! Aku hampir tidak bisa menangis. Ini sudah kedua kalinya kami mengikuti program bayi tabung. Dua-duanya berakhir dengan kegagalan.
"Ada masalah dengan sel telur Anda."
Penjelasan dokter sudah cukup membuatku berhenti berusaha. Apalagi yang bisa kulakukan? Sekalipun rahimku mampu melindungi janin yang akan kukandung, jika sel telur sulit dibuahi, apa yang bisa kulakukan untuk memiliki buah hati darah daging sendiri? Setiap orang selalu mengatakan sabar...sabar...sabar...dan berdoa. Hhh..., tak tahukah mereka lantunan doaku tak pernah putus sejak 11 tahun?
"Sudahlah, Nay. Aku tidak pernah mempermasalahkan soal anak. Selama kita berdua nyaman dengan kehidupan kita, itu cukup! Yang penting kita bahagia, Nay."
Damar bisa berkata begitu untuk membesarkan hati. Dia sehat. Dia normal. Dia bisa membuahi 100 perempuan jika mau. Bukan dia yang harus menghadapi tatapan cemooh ipar-ipar atau nada sinis ibu mertua. Bukan dia yang selalu ditanya kapan punya anak? Apa lagi yang ditunggu? Kok, betah berdua terus?
"Aku ingin punya anak, Mas. Anak kita!"
"Kalau kamu setuju, kita bisa adopsi, Nay!"
"Tapi itu bukan anak kita, Mas! Aku ingin darah daging kita sendiri!" kataku sambil membuang pandang darinya. Memandang ke luar jendela.
Seorang anak lelaki berumur setahun tertatih di jalan depan rumah. Pengasuhnya mengikuti dari belakang. Aku mulai bertanya tentang keadilan. Mereka yang bisa memiliki putra menyerahkan masalah pengasuhan kepada orang lain, sementara orangtuanya sibuk mengejar apa yang dinamakan karir, materi, status sosial, dan segala kebahagiaan duniawi. Sedangkan aku? Teronggok sendirian di rumah tanpa ada pekerjaan yang berarti.
Dulu aku bekerja. Ketika perutku belum juga membuncit setelah tiga tahun menikah, aku dan suami sepakat bahwa aku harus berhenti bekerja agar tidak terlalu lelah. Tapi sekalipun aku tidur seharian tanpa melakukan apa-apa, perutku masih tetap rata.
"Bagaimana jika kamu menikah lagi, Mas?" tanyaku likat menatapnya.
"Otakmu mulai tidak waras, ya?" 
Damar terlihat kesal dan meninggalkanku menuju dapur, mengambil segelas air yang dirasa bisa menjernihkan pikirannya. Aku mengikutinya dari belakang.
"Aku serius, Mas! Kamu menikah lagi saja. Dengan wanita yang lebih sehat! Asalkan setelah anak kalian lahir, berikan padaku untuk kuasuh. Aku tidak menuntut kamu adil, Mas. Aku hanya mau mengasuh anakmu! Anak kita!" 
Kupegang kedua lengan suamiku. Memaksanya menatapku, agar dia tahu aku tak asal bicara. Dia memang menatapku. Dingin dan terhina. Mungkinkah ucapanku keterlaluan?
"Tidak! Dan jangan mencoba mengulangi percakapan ini lagi. Aku tidak serendah itu, Nay. Kalau kamu mau anak, kita bisa adopsi. Masih banyak anak di luar sana yang membutuhkan kasih sayang dari kita. Seharusnya kamu bisa melihat masalah ini dari sisi itu." 
Damar beranjak menuju kamar dan menutup pintunya. Ternyata ucapanku memang keterlaluan.
***
"Mas...." panggilku dari seberang meja ketika kami sarapan.
"Hhmmm....," jawabnya tanpa mengalihkan pandang dari koran pagi. Dia masih kesal. Semalaman dia tidur memunggungiku.
"Aku mau adopsi. Secepatnya jika bisa," kataku sambil mengiris roti bakar. Dia meletakkan korannya dan memandang tajam padaku.
"Kalau kamu serius kita bisa pergi ke panti asuhan hari ini. Aku akan menelpon kantor dan ijin sakit."
Aku menatapnya gelisah. Bukan ini yang kumau. Tapi aku merasa sangat bersalah dengan perkataanku kemarin. Aku mencoba memperbaiki dengan menuruti sarannya.
"Anggap saja ini sebagai pancingan, Nay. Mungkin Tuhan sedang menguji kita, sejauh mana kita siap menjadi orang tua." 
Damar menggenggam tanganku, saat kegelisahan makin terasa ketika kami memasuki halaman panti.
Bagaimana jika aku tidak lulus ujian? Bagaimana jika aku tidak bisa mencintai anak yang kuadopsi? Bagaimana jika aku justru menelantarkannya? Perasaan-perasaan aneh yang timbul membuat perutku mulas. Bukankah ini yang kumau? Seorang anak!
Kegelisahanku menguap ketika melihat bayi lucu menggemaskan berumur 5 bulan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku merasa dia juga begitu. Kami seolah kekasih yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah. Dengan caranya, Damar berhasil membawa bayi itu pulang bersama kami hari itu juga. Sisa hari yang ada kami habiskan dengan berbelanja keperluan Daren, anak lelaki kami.
Malamnya, pintu surga terbuka bagi kami berdua setelah Daren terlelap. Hasrat tanpa tekanan maupun target, membasuh segala lelah dan penat. Entah kapan terakhir kali kami merasakan cinta tanpa batasan seperti saat ini. Manis hingga ke puncak.

***

Hari-hari bersama Daren membuatku sempurna sebagai isteri, dan juga ibu. Meskipun sindiran dan tatapan sinis masih kerap kuterima dari ipar atau ibu mertua. Ini hanya soal waktu, sampai akhirnya mereka lelah dan belajar menerima.
Pagi ini aku berencana mengajak Daren berbelanja ke mall. Seminggu lagi usianya tepat setahun. Aku sudah merencanakan pesta yang meriah untuknya.Dengan lembut, kubalikkan badannya yang telungkup di boks bayi. Dingin. Kuusap pipi gembulnya. Dia masih terdiam. Kusentuh bibirnya yang membiru, lalu kusadari apa yang terjadi.
Daren malaikatku, telah pergi. Menurut dokter, jalan napasnya tersumbat lendir yang belum bisa dia keluarkan sendiri. Ah, dokter selalu punya penjelasan yang bisa diterima akal, kendati aku merasa itu karena keteledoranku. Aku lupa membuatnya bersendawa setelah minum susu malam tadi.
Berhari-hari aku larut dalam kesedihan. Damar menyarankan agar kami mengadopsi anak lagi. Tapi apakah berhak, seseorang yang tidak lulus uji mendapat kesempatan lagi? Tentu saja dia berhak, asalkan banyak belajar. Dan aku belum cukup belajar. Aku belum boleh mencoba meraih kesempatan itu lagi. Tuhan selalu benar, aku belum siap menjadi ibu. Mungkin itu alasan dia belum menitipkan apapun di rahimku.
"Buatkan aku ruangan khusus di halaman belakang, Mas. Untuk tempat melukis. Aku perlu kegiatan baru untuk mengalihkan pikiran," pintaku suatu hari. 
Damar menatap iba. Aku tahu dia akan mengabulkan permintaanku, asalkan aku bahagia. Kesedihanku hanya akan membuatnya merasa gagal sebagai suami.
Aku bukan pelukis dan tidak bisa melukis dengan indah. Aku hanya butuh pelampiasan segala kesal dan amarah. Kupikir, mencoret-coret kanvas bisa cukup membunuh segala emosi yang kadang tak terkendali. Berhari, berminggu, bahkan berbulan kuhabiskan hampir separuh hari-hariku dengan melukis. Ratusan kanvas yang teronggok di sudut ruangan seolah menjadi saksi, bahwa aku sudah mulai bosan melukis. Lukisanku tanpa bentuk! Hanya coretan warna kelam bercampur merah. 
Aku mencoba cara lain. Melukis dinding. Tapi itu tidak berhasil memadamkan segala yang berkecamuk di dalam dada. Lukisan dinding yang buruk malah membuatku makin kesal. Kuhancurkan tembok yang telah terlukis malaikat bersayap. Tidak ada malaikat di dunia ini! Semua malaikat yang terlihat hanyalah iblis yang menyamar. Menunggu titik lengah manusia untuk dihancurkan. Palsu! Munafik!
Lalu kusadari aku telah membuat lubang di sana sini. Aku harus segera menambal lubang itu sebelum Damar tahu. Aku tak mau dia berpikir emosiku tak terkendali, lalu mengirimku ke psikiater. Benarkah dia akan berpikir demikian? Sepertinya pikirannya saat ini sudah terlalu penuh dengan urusan kantor dan tidak bisa lagi di susupi hal-hal remeh tentang aku. Damar mulai acuh sejak aku gemar melukis. Atau mungkin dia bosan menghadapi aku yang mulai dingin? Bahkan di malam yang seharusnya panas?

***

"Keluarga di blok G kehilangan anaknya tadi malam. Ini balita ketiga yang menghilang dari komplek kita." 
Aku menatapnya antusias. Anak menghilang. Damar menyesap kopinya dan menatapku serius.
"Aku tahu kamu pasti merasa kesal. Mungkin beranggapan Tuhan tidak adil dengan mengambil anak-anak itu dan membiarkannya berada di tangan yang salah. Tapi kumohon, jangan mengambil tindakan yang aneh selama aku tidak di rumah. Bisa jadi sebuah sindikat perdagangan anak sedang beraksi dan mungkin mereka sangat kejam. Aku tidak mau kamu terluka."
Aku tersenyum sinis menanggapi kekhawatirannya. Dia ternyata masih peduli padaku. Dia juga pasti tahu, tidak ada anak yang bisa diculik di rumah ini. Kuharap dia tidak sedang mengejek atau menyindirku.
"Kamu pulang larut lagi?" tanyaku. Damar memandangku heran. Yah, tentu saja dia heran, karena selama ini aku hampir tak peduli pada kegiatannya.
“Aku ingin kamu pulang cepat,” kataku sambil merebahkan kepala di dadanya. Dia mengecup keningku lama dan memelukku. Damai terasa. Aku terlalu sibuk mencari kedamaian untukku sendiri, sampai mati rasa merasakan kedamaian yang tersaji di depan mata.
“Aku janji akan pulang cepat.” Dia melepas pelukannya dan menatapku penuh. Ada rasa bahagia juga kerinduan dalam mata itu.

***

Balita menghilang semakin banyak. Tidak dari komplek kami saja, tapi juga menjalar ke komplek sekitar. Damar sering kasak-kusuk dengan tetangga dan security untuk mencari informasi seakurat mungkin. Dia khawatir para penculik itu mulai bosan dengan anak-anak lalu mengincar penghuni komplek yang sering sendirian seperti aku.
Keamanan komplek semakin diperketat. Kamera CCTV mulai bertambah di setiap sudut komplek. Polisi sering mondar-mandir mengumpulkan informasi, namun petunjuk pasti belum juga diperoleh. Beragam spekulasi mulai merebak. Dari makhluk halus yang gemar memangsa anak kecil hingga psikopat atau pedofil yang beritanya sedang marak di media.
Sore yang biasanya riuh dengan anak-anak yang bermain di jalan depan rumah, mendadak lengang. Jalanan menjadi sepi dan setiap rumah mulai memasang teralis. Beberapa majikan pun memberhentikan pengasuh anaknya dan mulai memercayakan pengasuhan kepada kerabat atau orang terdekat mereka. Tidak ada lagi anak kecil berlarian di depan rumah yang bisa kupandangi dari jendela. Tuhan sedang memainkan peran-Nya.

***

"Penculik selalu beroperasi setiap malam atau menjelang subuh. Entah bagaimana caranya penculik itu bisa tidak tertangkap CCTV. Mereka seperti mengenal baik seluk beluk setiap komplek." 
Damar memulai obrolan pagi dengan topik favoritnya. Aku hanya mendengar sambil mengaduk-aduk nasi goreng di piring.
"Kamu tidak tertarik dengan nasib 11 anak-anak itu? Biasanya kamu akan sangat emosional dan mulai menuduh Tuhan tidak adil." Damar terlihat heran melihat aku tak bereaksi menanggapi beritanya.
“Anak-anak itu masih polos, Mas. Mereka tanpa dosa, sama seperti malaikat. Mereka juga memiliki sayap yang bisa terbang untuk mencari pemilik hati mereka sesungguhnya. Mereka pasti bahagia di manapun mereka berada." Damar tertegun. Tidak menyangka aku setenang ini.
"Bukankah kamu mau pergi cepat karena ada rapat?" Aku tersenyum lembut mengingatkan dan menyuruhnya bergegas. Tidak lupa meminta dia pulang cepat karena aku akan memasak makanan kesukaannya.
Aku melihat pancaran bahagia dari wajah dan senyuman Damar. Dia tahu, aku baik-baik saja. Kami tahu, kami akan baik-baik saja.
Masih banyak waktu sampai kepulangan Damar nanti malam. Aku memutuskan akan melukis sebentar, sebelum membereskan rumah dan memasak. Mood-ku sedang baik, dan kurasa lukisanku juga sudah mulai menampakkan bentuknya. Tidak suram lagi. Mungkin karena aku rajin berlatih setiap hari, atau karena kini ada yang menemaniku setiap kali melukis.


Kubuka pintu ruang lukisku. Tembok berlubang bekas aku hancurkan dulu, telah tertutup rapi. Akhirnya aku memutuskan membuat relief anak-anak dengan sayap malaikat yang tersebar di seluruh permukaan dinding. Sebelas anak-anak yang tersenyum polos bermain di angkasa penuh warna. Dunia tanpa sakit, susah, juga perjuangan berat. Tak perlu mereka risau akan masa depan mereka yang berkabut. Mereka bahagia di sini. Di tempat yang kubangun untuk mereka. Karena akulah pemilik hati mereka yang sesungguhnya.

Batam, 12 Mei 2016

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS