MELAMUN DI ATAS ANGKOT



 

(Terbit bersambung dua edisi di Tanjungpinang Pos, 29 Mei 2016 & 5 Juni 2016)
 
Perutnya berbunyi, lapar mulai terasa. Lelah, pusing, dan sedih. Ketika berhadapan dengan HRD, bahkan dinginnya AC tidak bisa menghalangi turunnya butiran halus di pelipis. Ini kali ke sekian Arini melamar pekerjaan. Kali ke sekian tes hingga berhadapan HRD atau user. Kali ke sekian yang sepertinya berakhir dengan jawaban 'nanti dihubungi lebih lanjut'. Arini mulai lelah. Badannya letih, batinnya gundah. Dia mulai hilang harapan pada setiap kesempatan.
Arini memberhentikan angkot biru yang melintas. Duduk di belakang supir dan mulai menghitung pepohonan yang berkelebat. Dia mencoba tak peduli pada keadaan di angkot. Pikirannya menganalisa segala percakapan dengan Ibu HRD tadi. Dari awal masuk ruangan hingga kata penutup diberikan. Apa yang salah? Mereka selalu bilang tesnya bagus, IPK sempurna, CV meyakinkan, tapi mengapa setiap wawancara dengan HRD atau user berujung gagal? Penampilannya juga sopan. Tidak seksi atau kampungan. Perkara gaji, dia tidak menuntut. Berapapun standar perusahaan, akan dia terima. Tidak pernah ada sikap atau kata yang arogan di setiap percakapan. Semua sudah sesuai dengan buku petunjuk yang dia baca, ‘Bagaimana Menghadapi Wawancara dengan Benar’.
Supir angkot menyebutkan tempat tujuan, Arini minta turun. Dia berjalan gontai ke halte. Menunggu angkot Jodoh-Nongsa yang akan membawanya pulang. Perjalanan yang cukup panjang akan dia lalui, melintasi jalan-jalan rotocol di Batam.

***

Tempat favorit di belakang supir tidak Arini dapatkan. Terpaksa dia mundur dua bangku dari belakang agar bisa duduk dekat jendela. Sialnya, jendela tempat dia duduk jendela mati. Artinya dia tidak akan mendapat udara segar secara langsung. Arini mengandalkan angin yang masuk dari jendela bangku di depannya, juga jendela terbuka di sisi seberangnya. Mengapa angin begitu penting? Karena Arini butuh udara segar untuk menghilangkan kekacauan di kepalanya. Dia berdoa, semoga tidak ada nyonya berparfum menyengat atau kakek dengan aroma minyak angin yang akan membuat perut kosongnya bergemuruh semakin kencang.
Angkot mulai berjalan, melanjutkan perjalanan di kepala Arini. Melintasi pepohonan yang berjajar, gedung-gedung yang baru dibangun, juga mobil mewah yang silih lewat tergesa. Begitu banyak gedung dan ruko didirikan, beberapa papan nama masih ditutupi kain merah. Dari sekian kesempatan yang tercipta mengapa tak satu jua yang berjodoh dengannya?
Dia teringat pada beberapa kesempatan, ketika satu ruangan dengan pencari kerja yang lain, beberapa di antaranya ada yang baru lulus atau hanya berpendidikan sekolah menengah atas. Tapi ketika mereka saling bertukar nomor WA dan berjanji untuk saling mengabari, Arini mengetahui bahwa justru di antara merekalah yang terpilih. Arini kecewa. Ingin rasanya membuang selembar kertas yang di tunggunya selama 5 tahun. Pada saat penting, dia menjadi tidak berguna.
            Angkot berhenti di kawasan industri Cammo. Ini belum saatnya pulang kerja, tapi sepertinya supir mencoba mencari peruntungan sebentar di kawasan itu. Pada jam-jam sibuk kawasan tersebut akan dipenuhi baju berwarna-warni para pekerja pabrik yang sering disebut 'Anak PT'. Arini sering memandang sedih pada kerumunan itu. Mereka yang bekerja sebagai operator laksana robot, datang-merakit-pulang, begitu selalu setiap hari. Kadang mereka bekerja lebih dari 8 jam, kadang bekerja dalam shift seven to seven. Lelah dan bosan. Tapi terbayar oleh nominal yang tercetak dibuku tabungan, bisa 2-3 kali UMK. Maka jangan remehkan profesi yang hanya operator. Jika tawaran overtime terus berdatangan, setiap bulan mereka bisa berganti-ganti HP, menambah logam mulia di jarinya atau menopang hidup keluarga di kampung. Tapi umur produktif mereka relatif pendek. Beruntung jika PT masih mempekerjakan mereka hingga usia 26, karena PT lebih suka merekrut tenaga baru yang baru lulus dan lebih segar.
Berbeda dengan orang office, dengan gelar Strata Satu, perusahaan masih bisa menerima tenaga baru dengan batasan usia 35 tahun. Tentu saja dengan ditunjang pengalaman kerja yang cukup. Di situlah Arini mencoba menggali peluang, menjadi tenaga office sebagai administrasi atau bagian quality yang berhubungan dengan supplier. Pernah terfikir oleh Arini untuk mengawali karir sebagai operator kemudian mencari celah agar bisa mencapai posisi lebih tinggi dan lebih aman. Tapi Arini kalah umur. Dia datang ke Batam di usia menjelang 26.
Angkot kembali berhenti di simpang Kabil menunggu penumpang. Entah mengapa dinamakan Simpang Kabil, karena daerah Kabil sendiri masih berkilometer jauhnya dari persimpangan ini. Mungkin maksudnya simpang menuju Kabil, karena Kabil sendiri sangat di kenal sebagai kawasan perusahaan besar tempat pembuatan pipa dan galangan kapal. Itu dulu sebelum sebuah mall besar di bangun di persimpangan ini. Mungkin kini lebih tepat dinamakan Simpang Kepri Mall, sesuai dengan ikon yang mendominasi di simpang ini.
Arini tersenyum memandangi Mall yang terlindung di balik pepohonan peneduh. Dulu, dia dan teman-teman sempat bertaruh berapa lama Kepri Mall akan berdiri. Apa dia akan bertahan, atau akan menemui nasib seperti teman-temannya yang lain. Gulung tikar dan menjadi bangunan berhantu yang tertutup ilalang dan lumut. Menunggu nasibnya yang tak pasti meskipun papan dijual/disewakan terpasang jelas di dindingnya. Nyatanya Kepri Mall bisa bertahan lebih dari 3 tahun, meskipun tenant berganti-ganti ke luar masuk.
Arini masih ingat, di awal berdirinya, Kepri Mall sangat menarik pengunjung dan tenant. Dalam satu bulan saja puluhan bahkan ratusan juta mereka kantongi. Tapi omset terus menyusut dibulan selanjutnya. Pengunjung seperti laron, pindah ke mall lain yang lebih terang, setelah redup mall yang lama. Hidup di Batam memang terkadang membosankan. Tidak banyak pilihan tempat wisata selain pantai dan mall yang menjamur. Bagi mereka yang berkantong tebal bisa mencari nuansa berbeda dengan menyebrang ke Singapura yang hanya sejam dari Batam atau menikmati wisata resort yang tersebar di pesisir Batam. Bagi yang berkantong pas seperti Arini, cukup puas dengan windows shoping dan diakhiri dengan menjilat es krim 5000-an di mall.
Jika cuaca tidak terlalu terik Arini pergi ke pantai. Memandangi ombak dan membasahi kaki. Kadang Arini menapakkan kedua telapak tangannya pada ombak yang datang, berharap ombak membawa serta seluruh bebannya dan membiarkannya karam di tengah samudra. Tapi sayang, angin laut membawa beban itu kembali bersama pasir yang mengonggok di kaki Arini. Sehingga dia terpaksa memungutinya satu persatu kemudian meletakkannya di balik bantal, teman tidurnya dimalam hari. Arini memusuhi pantai jika beban itu bercengkerama dimimpinya dan mati di sana.

***

Satu penumpang menaiki angkot setelah 15 menit menunggu. Satu penumpang yang mungkin hanya bernilai 5000, untuk 15 menit yang melayang. Ibu tua dengan bungkusan plastik hitam itu duduk di dekat pintu masuk, menghalangi angin yang menerpa wajah Arini. Aroma keringat bercampur matahari menusuk hidung ketika angkot mulai melaju kencang. Perut kosongnya mulai memberontak ketika angin berbau itu mendobrak masuk. Arini menahan mual, mulai membujuk otak dengan pemandangan di sisi kiri.
Gerbang-gerbang mewah perumahan menengah ke atas silih berganti melintas. Di sepanjang jalan bebas kelokan ini sangat jarang penumpang memberhentikan angkutan umum. Yang lebih sering terlihat justru kendaraan pribadi yang berkilat tertimpa matahari bergantian ke luar masuk gerbang. Di depan gerbang berjajar kios tanaman dan nursery yang menawarkan aneka tanaman peneduh dan yang tahan bersahabat dengan keringnya Batam. Dulu, daerah yang sekarang berubah menjadi taman atau nursery adalah semak-semak dan hutan yang tersisa setelah tanah di sekitarnya di jadikan perumahan. Arini sempat berpikir ingin membuka usaha taman dan nursery juga. Apalagi dari informasi yang dia terima, sewa lahan tidak terlalu mahal. Tapi siapa yang akan menjaga tamannya jika malam tiba? Karena manusia berhati busuk masih ada yang berkeliaran membawa pick up dan menjarah taman tanpa penunggu.
Apa pun bisa terjadi di Batam. Minggu lalu misalnya, seorang maling yang berusia belia nekat memasuki rumah yang sedang ditinggal penghuninya di sore hari. Dengan mobil Avanza sewaan dia lolos dari kecurigaan security ketika melewati pos pemeriksaan. Dengan penuh keyakinan, dia memarkir mobil di depan rumah dan memasuki rumah layaknya pemilik. Naas, penghuni rumah pulang lebih cepat dan aksinya ketahuan. Maling belia ini pasrah pada pengadilan massa sebelum di serahkan ke polisi. Entah nekat entah bodoh, beraksi di sore hari pada saat asisten rumah tangga dan ibu muda sibuk melepas balitanya bermain di jalan depan rumah. Mungkin dia berpikir kalau aksinya cerdas? Entahlah.
Angkot berbelok memasuki jalan yang lebih kecil dan ramai. Arini mulai mengantuk. Rasa lelahnya mulai mengalahkan lapar. Tiba-tiba dia teringat, di rumah tidak ada lauk apa pun. Tadi pagi sebelum pergi wawancara dia hanya sempat masak nasi. Ah, wawancara. Masih ada dua lagi minggu ini. Mungkinkah dia berjodoh dengan salah satunya?  

***

Kadang dia iri dengan nasib baik tetangganya. Belum sampai badannya di Batam, saudaranya telah memberikan kursi di PT. Sedangkan Arini? Siapa yang akan membantunya membawakan kursi itu? Dia sendirian di Batam. Tak ada satu pun saudara yang bisa meraih tangannya masuk ke salah satu PT itu. Jangankan saudara, teman yang bisa memberi informasi pun tak ada. Dia mengetuk di setiap pintu itu sendirian. Mungkin kesempatan untuknya belum datang, mungkin saingannya terlalu pintar, mungkin dia yang terlalu tinggi mengukur kemampuannya sedangkan perusahaan menilai sebaliknya. Entahlah. Arini menyandarkan kepala pada kaca yang kusam berdebu, lelah dan menyerah. Ibu beraroma matahari telah lama turun, angin segar kembali menerpa wajahnya.
"Halte! Halte ada yang turun, tak!" teriakan kasar dengan logat daerah membangunkan Arini. Dia sempat terlelap sesaat.
"Ya..ya..halte kiri, Bang!"  
Perjalanannya hampir usai. Dia harus mampir ke pasar dulu membeli bahan untuk di masak. Turun dari angkot, dua pasang mata dan senyum menyambutnya di atas sepeda motor butut. Arini meraih putri semata wayangnya dari gendongan sang ayah. Mencium dan memeluknya dengan rindu.
Demi melihat senyum balitanya dan mencium aroma stroberi di rambutnya, segala lelah dan menyerah Arini hilang. Mungkin keinginanmu untuk punya sepeda akan tertunda lagi, Nak, batin Arini. Tapi bunda tak akan menyerah menyusuri jalan di Batam dan mengetuk pintu mereka satu per satu. Sama seperti ayahmu yang juga tak lelah mencari setelah putus kontrak bulan lalu. Bunda hanya perlu waktu sedikit lagi, semoga akan tercipta kesempatan di waktu yang terbatas itu. Semoga.

Batam, Mei 2016




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS