LEBAH PENJEBAK
(Padang Ekspres, 9 Oktober 2016)
“Kamu
harus berhenti bersikap seolah aku tidak ada, Mar," katanya lembut.
Gegas,
kumasukkan buku yang belum selesai kubaca ke tas kerja, menyesap kopi yang sudah
dingin, dan meninggalkan kafe sebelum dia mulai menceramahiku soal logika dan
kebenaran sebuah teori.
Dia
menyusul langkahku, melewati Fountain of Wealth Suntec City Mall. Beberapa
pengunjung terlihat khusyuk mengelilingi air mancur terbesar sedunia versi
Guinness Books of Records 1998. Roman mereka begitu tekun dan serius, seperti
sedang berdoa di kuil-kuil atau rumah ibadah. Mereka percaya, keinginan
terbesar mereka akan terkabul jika memohon pada air mancur yang dibangun
berdasarkan kaidah fengsui itu. Gedung-gedung tinggi disekelilingnya, diibaratkan
jari-jari tangan dengan air mancur sebagai telapak tangannya. Pancaran air yang
memancar ke dalam, diartikan sebagai rejeki yang selalu masuk.
Sekali
waktu, aku pernah mengikuti takhayul yang tercipta entah sejak kapan. Berharap
segala permasalahan hidup usai ketika satu putaran selesai dilakukan sambil
menyentuh pancaran airnya. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan
menjadi tahun. Lalu aku berhenti percaya dan mulai menganggap cerita itu diembuskan
hanya untuk menjala pengunjung. Apa yang tidak menarik di negeri kepala singa
ini? Bahkan ubin dan tiangnya pun punya cerita.
Perempuan
cantik itu masih mengoceh di sampingku. Sebagian ocehannya soal moral, tak
terserap oleh sel-sel otakku yang kelabu. Lagipula, aku sedang malas berdebat
dengannya. Janji bertemu klien demi klien memadati jadwal hari ini. Orang-orang
ini sangat menghargai waktu dan aku menghargai mereka. Aku tak boleh terlambat,
jika masih ingin bermitra dengan mereka.
Kulirik
arlojiku, masih lebih dari cukup waktu yang ada untuk menyambangi seseorang. Aku
bisa terbebas dari perempuan ini sejenak. Dia yang kini berdiri di hadapanku
dalam MRT dan memandangku iba.
"Kau
bodoh, Mar. Kau punya akal untuk berpikir, hati untuk memilih mana yang benar.
Tapi sayang, tak kau gunakan. Jika kau pikir aku menghasutmu, seharusnya kau
tinggalkan selagi mampu."
Aku
mengernyit tak mengerti. Ocehan apa yang mungkin terlewatkan? Benarkah aku tak
mampu meninggalkannya? Atau dia yang tak mampu menjeratku? Sejak pertemuan kita
yang pertama, dia selalu penuh percaya diri.
Saat
itu, aku sedang menikmati kopi pekat di kafe kawasan Orchard. Sepekat masa
depan yang membayangiku. Sewa apartemen yang meningkat, tagihan kartu kredit
yang membengkak, juga kewajiban bulanan yang harus kukirim ke kampung. Dalam
kepalaku, berkelebat ide-ide licik dan gila untuk menambah pemasukan. Aku
sedang memilah dan menimbang tiap ide yang berbaris rapi di kepala. Saat itulah
aku melihatnya berjalan anggun dengan gaun ketat berwarna merah dan stiletto Jimmy Choo.
“Semut
atau laba-laba?” tanyanya langsung, sambil meletakkan Louis Vuitton di atas
meja. Dia tergelak pendek melihat kebingunganku. Tawa yang membuatku mengantuk
dan ingin berbaring di dadanya.
Lalu
dia mulai mengoceh tentang semut yang rakus dan laba-laba yang mengambil
kesempatan. Menurutnya, semut bukanlah binatang pekerja yang giat dan tak kenal
lelah. Semut dalam pikirannya adalah binatang yang berambisi tinggi dan tamak.
Bagaimana tidak? Dalam usia yang tidak sampai setahun (jika tak terinjak
manusia, dibasmi pest control atau
dimangsa trenggiling), semut mampu menumpuk makanan untuk persediaan
bertahun-tahun. Bahkan saking tamaknya, semut mampu memaksa diri memanggul
beban yang berpuluh kali berat badannya. Melewati jalan yang jauh dan berliku
hanya untuk mengumpulkan makanan. Bukankah Tuhanmu telah menjamin rejeki bagi
tiap makhluknya? Tanyanya di pertengahan cerita yang tak ingin kusela.
Ocehannya
berlanjut tentang laba-laba licik yang suka menjebak mangsa dengan keindahan
jaringnya. Aku pun tak tahan untuk terkikik. Setiap makhluk memang diciptakan
dengan keunikan masing-masing. Dan begitulah cara laba-laba bertahan hidup.
Matanya membesar indah, memandangku tak senang. Aku hanya memberikan pandangan
mohon maaf dan mempersilakannya melanjutkan cerita.
Sarang
laba-laba yang bersinar keperakan, terlihat kuat dan tegang. Sesungguhnya dia
teramat rapuh. Apa pun yang berlindung di jaringnya, dapat binasa dalam
sekejap. Bahkan, sang betina tega menghabisi pasangannya setelah mereka
bercumbu. Belum lagi telur yang menetas, berdesakan di tempat sempit, membuat
bayi laba-laba yang lahir saling tindih dan injak ketika mereka berebut
menghirup udara segar. Mengerikan, katanya waktu itu. Hidup laba-laba hanya
untuk mengintai dan menunggu mangsa. Cara bertahan hidup yang kejam!
“Jadi,
kau memilih jadi apa? Semut atau laba-laba?” tanyanya di akhir cerita. Aku
tertegun, lalu menggeleng.
Mukaku
panas, serasa ditampar. Ide-ide licik dan gila berhamburan pergi. Segala
kesulitan yang kuhadapi, tidak akan membuatku menjadi hewan pemangsa yang
selalu mengintai buruannya. Aku tidak akan mengorbankan teman dan relasiku
untuk menyelamatkan diri. Aku juga tak ingin terjebak dalam hidup hedonis yang
mengejar dan menumpuk harta. Lalu tak dimanfaatkan sama sekali. Tidak.
Pernah
aku bertanya padanya, ketika malam menenggelamkan semua warna, mengapa dia tak
menawariku menjadi lebah? Yang hanya makan sari bunga, hidup dalam sarang segi
enam dan disiplin dalam pembagian kerja. Lebah tidak akan menggigit jika tidak
diganggu, lebah menghasilkan madu yang manis juga lilin yang bermanfaat. Bahkan
sengatnya bisa menjadi obat bagi beberapa penyakit. Lagi-lagi tawa empuk itu
menggema, didebur air Marina Bay.
“Karena
bukan tugasku menawarimu pilihan itu."
Maka
kupastikan tak akan menjatuhkan pilihan pada salah satu hewan yang dia
tawarkan. Walau aku tahu, dia tak akan membiarkanku sendirian ketika menjalani
kehidupan semut ataupun laba-laba. Dia akan selalu menemani, bahkan memuluskan
jalanku.
Aku
merasa, dia serupa laba-laba yang mengintai sisi lemahku. Serupa semut yang
giat menggodaku. Tapi dia juga serupa lebah, yang menawarkan manisnya madu. Lebah
yang giat menjebak.
"Oh,
tidak! Jangan bertemu dia lagi! Kamu tahu dia membenciku!" katanya
tiba-tiba ketika aku turun di Stasiun Bugis.
Aku
tersenyum melihatnya merajuk ketika menyadari kemana tujuanku.
Perempuan
cantikku tak menampakkan diri selama aku berbincang dengan pakcik pemilik kios
suvenir di depan Masjid Sultan. Segelas teh tarik dingin ala kafe di sudut
Busaroh Street, menyejukkan tenggorokanku dari teriknya matahari. Sementara
lelaki bijak itu, menyejukkan hatiku dengan tausyiahnya. Kata-katanya lebih
mudah dicerna ketimbang buku-buku tebal yang selalu kubaca. Buku-buku yang
membuat perempuan cantikku selalu mencibir, tiap kali kucoba menelaah isinya.
"Pengalaman
hidupmu jauh lebih berisi daripada buku konyol itu, Mar." Lagi-lagi tawa
empuknya membuatku ingin membaringkan kepala di dadanya.
"Kenapa?
Aku benar, kan? Kita memahami hidup sebaik kita bernapas. Bukankah setiap
kejadian buruk selalu dicari hikmahnya? Mencoba menggali apa kebenaran yang
tersembunyi? Lalu bangkit dari keterpurukan dengan pondasi yang lebih kokoh.
Buku-buku itu hanya menuliskan kembali kejadian yang sudah jelas. Buku-buku itu
hanya membatasi ruang gerak dan pikirmu untuk memahami kebenaran. Seperti kamu yang
membatasi diri untuk memahamiku." Aku memandangnya ragu. Terkadang dia
benar, dengan cara yang salah.
Kusadari
kehadirannya kembali, pada jamuan makan siang di Exhibition Hall Singapore
Expo. Aroma bunga dan manisnya madu menguar di udara. Berbaur dengan aroma
makanan yang menyengat dan harum tape dari gelas-gelas wine. Satu gelas red wine
telah mengisi jari-jarinya yang lentik. Sepertinya dia sudah memulai pesta
tanpaku.
"Kamu
harus mencoba steaknya. Sausnya luar
biasa!" bisiknya lirih ditelingaku.
Kuawasi
dirinya yang seolah melayang diantara para tamu business meeting. Sesekali berbisik dengan satu-dua lelaki yang
pasti menelanjangi lekuk tubuhnya yang menggoda. Cukup dengan sedikit sentuhannya,
pria-pria itu akan terhipnotis lalu bergerak sesuai ucapannya. Dadaku gemuruh.
Aku merasa seperti William Wilson-nya Edgar Allan Poe.
William
Wilson merasa memiliki kembaran yang selalu mengikutinya. Kemunculan seseorang
yang identik dengannya--bahkan memiliki nama yang sama--dirasakan pertama kali
ketika dia tinggal di sekolah asuhan Dr. Bransby. Setiap dia melakukan suatu
perbuatan buruk, Wilson kembarannya selalu muncul mengejek. Kadang kembarannya
itu menirukan laku dan ucapnya. Di lain waktu, ketika dia dewasa, Wilson
kembarannya membeberkan kecurangannya. Tapi Wilson kembarannya jarang
menampakkan diri ketika dia memiliki keteguhan hati.
Pada
suatu hari yang mabuk, Wilson kembarannya muncul. Saat itu dia punya niat tak
baik terhadap istri seorang bangsawan. Kesal selalu dipecundangi, dia menantang
duel Wilson kembarannya. Di akhir duel, dia merasa telah menusuk Wilson
kembarannya. Tak dinyana sebuah cermin memantulkan bayangannya yang bersimbah
darah dan carut-marut. Dia tidak membunuh Wilson kembarannya, tapi dia membunuh
nuraninya sendiri.
Perempuan
cantik itu berjalan melenggang ke arahku. Bahasa tubuh dan raut wajahnya yang
sensual membuat darah lelakiku berdesir. Aku merasa dia seperti Succubus yang
hendak melahap mangsa. Succubus yang jelita. Yang senang memikat pria-pria dan
menggauli mereka. Yang senang mengisap energi seksual korbannya, bahkan hingga
meregang nyawa. Succubus tak pernah hamil. Mereka memilih rahim manusia untuk
mengandung bayi-bayi mereka. Tapi aku membayangkan perempuan cantikku mengandung
cambion-cambion kami--bayi yang terlahir dari hubungan Succubus dengan manusia.
Ribuan sayap mengepak di dadaku.
Tatapan
panas perempuan cantikku menyasar wajah. Membuyarkan bayangan menjijikkan yang
sempat bersarang di otak. Mata bulatnya mengisyaratkan permohonan jawaban, seperti
yang selalu dia lakukan setiap waktu. Aku tersenyum sinis dan memberikan
gelengan tegas. Lalu berbalik meninggalkannya. Meninggalkan segala ingar-bingar
jamuan dengan hidangan yang dapat meracuni keimananku. Seperti dia, yang selalu
mencoba menyusupi setiap celah lemahku dan bergelung di sana.
Batam, April 2016

Komentar
Posting Komentar