BISIKAN ANGIN RINDU
(Tanjungpinang Pos, 14 Februari 2016)
"Kata
orang, jika ingin perjodohan kita kekal, maka kita harus berendam di Sungai Jodoh.
Konon, di situlah tempat bertemunya seorang gadis dan ular besar jelmaan pemuda
tampan yang kelak menjadi suaminya." Aku menggenggam erat jemari pria di
sisiku. Memandangi Sungai Jodoh yang kehitaman di bawah sana. Purnama penuh
terpantul indah dialirannya yang tenang.
"Itu
hanya mitos. Tanpa berendam pun aku akan mengekalkan hubungan kita." Dia
mencium jemariku. Membawa ke dadanya.
Esok
pagi lelaki oriental itu telah menghilang dari sisiku. Berlayar lagi mengarungi
laut dan samudera. Entah kapan dia akan kembali. Tapi janji yang terucap dari
mulutnya sangat mudah kupercayai. Inikah cinta?
Mak
Itam pemilik pondok hanya mencibir padaku dan mengataiku 'Perempuan Bodoh!'
"Kau,
ni macam tak tau je lelaki yang kerap menindih badan kau, tu. Tak ade pun yang
sudi jadikan kau istri! Jika ada pun bayarannya mahal! Tau tak, kau?" Mak
Itam memarahiku ketika menolak melayani lelaki pencari kenikmatan sesaat.
"Kau
pikir murah hidup dengan aku, ni? Belum makan engkau, kamar engkau, dan uang
yang engkau minta tiap bulan untuk kau kirim ke kampung. Sudahlah...elok kau
kerja carikan aku duit. Entah lelaki yang kau tunggu, tu dah bebini. Alangkah
bodohnya engkauuu...nak percaya laki-laki yang datang kemari." Kesal, Mak
Itam meninggalkanku sambil terus merepet.
Aku
hanya tergugu. Mak itam mungkin benar. Mana ada lelaki yang mau memperistri
wanita yang telah dinikmati puluhan orang? Lelaki bejat sekalipun ingin
istrinya kelak adalah perempuan baik-baik dengan rahim yang sehat. Dia akan berharap
anak yang terlahir mewarisi kebaikan ibunya, bukan kebejatan bapaknya.
***
Dulunya,
aku perempuan baik-baik, dengan rahim yang sehat. Aku, suami, dan anak semata
wayangku tinggal di dusun terpencil di Jawa Barat. Tanahnya subur, sawah dan
kebun dimana-mana. Tapi dusun kami belum tersentuh teknologi. Listrik belum
ada, air bersih pun masih dialirkan melalui bambu yang disambung-sambung dari
mata air sampai ke pemukiman penduduk. Tidak setiap rumah memiliki kamar mandi
sendiri. Bahkan bisa dihitung rumah mana yang membangun kamar mandi di dalam.
Bagi warga miskin seperti kami, cukuplah urusan mandi, cuci, dan kakus selesai
di pemandian umum.
Jika
malam tiba dan sakit perut tak bisa ditahan, maka kami terpaksa pergi ke jamban
yang terletak di tengah balong dengan
air mengalir dari bambu selama 24 jam. Hajat kami pun akan jadi santapan lezat
ikan-ikan di balong.
Suamiku,
bercita-cita ingin membangun rumah yang layak dengan kamar mandi di dalam. Tapi
dari upahnya menjadi buruh tani, keinginan itu akan sulit terwujud. Tanah
beserta rumah yang kami tempati adalah harta satu-satunya, warisan dari
mertuaku. Penghasilanku sebagai buruh ikat di kebun sayur juga hanya cukup
untuk menambah uang makan sehari-hari dan jajan anak.
Suatu
hari dusun kami begitu gempita menyambut kepulangan warganya yang telah sukses
di pulau seberang. Padahal maksud kedatangannya hanya menjenguk orang tua yang
sudah sepuh dan sakit-sakitan. Tapi
sedari pagi hingga malam, rumahnya tak henti didatangi warga yang ingin melihat
dan menyentuh bukti keberhasilannya.
"Saya
tinggal di pulau yang belum ada apa-apa, Kang. Pekerjaan masih banyak. Upahnya
juga besar." Begitu kira-kira Pak Nanang membuka tiap percakapan dengan
warga yang ingin mendengar dongengnya.
Warga
pun seperti terhipnotis demi mendengar cerita tentang betapa mudah rupiah didulang
di tanah itu. Tidak terkecuali suamiku.
Ketika
Pak Nanang bermaksud membawa orangtuanya untuk hijrah, dia mencari seorang warga
yang bersedia ikut untuk mengurusi segala keperluan orang tuanya selama di
seberang. Semua biaya perjalanan Pak Nanang yang menanggung. Setiap bulan Pak
Nanang akan memberikan gaji yang besar untuk ukuran warga. Gaji yang cukup untuk
membeli impian kelas kampung.
Warga
pun menyambut berita itu dengan sangat bersemangat. Bahkan sempat tersusun rencana untuk
melakukan seleksi mengingat banyaknya warga yang antusias. Tapi ketika mereka
pulang dan melihat wajah-wajah yang akan ditinggalkan, api semangat itu padam
seketika.
"Makan
nggak makan asal kumpul, Kang." Begitu kata para istri.
Masih
ada satu warga yang bersedia untuk ikut Pak Nanang. Dia adalah suamiku.
Berulangkali dia membesarkan hati kami dan mengajak kami untuk menjadi bagian
dari mimpi-mimpinya. Kami pun seperti terhipnotis dan melepas kepergiannya
dengan sukacita. Bahkan aku sempat mengadakan syukuran kecil-kecilan, agar
kepergiannya berkah dan dia kembali sebagai orang sukses seperti Pak Nanang.
Bertahun
sudah suamiku pergi, tak pernah satu pun kabar terdengar. Entah dia selamat
tiba di seberang ataukah pesawatnya meledak di angkasa. Tak ada sesiapa yang
bisa memberi berita. Pak Nanang pun tak pernah kembali lagi. Tak ada kerabatnya
yang masih hidup di sini. Aku pun hidup menggantung. Janda tidak, tapi suami
tak pernah berkabar, pun mengirimi nafkah.
***
Suatu
hari dusun kami kembali gempita menyambut kedatangan tamu dari kota. Para warga
dikumpulkan di Kantor Desa dan diberikan sedikit penyuluhan. Dari agen TKI. Mereka
menawarkan kehidupan yang lebih baik dengan bekerja di luar negeri. Syarat yang
ditawarkan pun sangat mudah. Tidak perlu ijazah sekolah tinggi, karena
rata-rata dari kami hanya lulusan SD. Jika ingin melanjutkan sekolah ke tingkat
yang lebih lanjut, kami harus pindah ke kota.
Agen
TKI tersebut membebaskan kami dari semua biaya, asalkan kami bersedia terikat
kontrak selama 2 tahun untuk bekerja di Singapura atau Malaysia. Dalam masa
kontrak tersebut upah kami akan dipotong selama 6 bulan untuk mengganti biaya
yang gratis tadi. Aku sangat antusias untuk ikut karena kami akan ditampung
sementara dan diberikan pelatihan di Batam, sebelum diberangkatkan ke negara
tujuan. Suamiku ada di sana! Aku bisa mencarinya!
Aku
pun pergi, setelah menitipkan anak lelakiku pada seorang kerabat. Aku janji
tidak akan seperti ayahnya, yang tak berkabar dan tak pernah mengirimi uang.
Jangankan
bertemu suami, yang akhirnya kuanggap mati, di Batam aku malah terperangkap
dalam lembah prostitusi. Impian menggenggam dolar atau ringgit melayang
seketika. Agen TKI ternyata hanya kedok untuk menggaet perempuan miskin dan naif
untuk dijual tubuhnya. Aku pun terjebak di rumah bordil di kawasan Nagoya
bersama belasan perempuan satu kampung. Kami saling berjanji tidak akan pernah
menceritakan hal memalukan ini kepada kerabat di kampung. Cukup mereka tahu
jika kami bekerja dan kiriman bulanan tidak pernah absen.
Pernah
sekali, kami berupaya melarikan diri. Tapi yang terlihat hanya hutan
dimana-mana. Kami pun tersesat di pulau antah berantah ini. Dengan gontai kami kembali
ke rumah bordil Mak Itam.
Satu
dari pelanggan tetapku adalah seorang pria berkebangsaan Cina, yang bekerja
sebagai kelasi di kapal pesiar. Jika kapalnya merapat di Batam, dia akan minta
libur sehari dua hari untuk melepaskan hasrat lelakinya. Saat itulah dia
bertemu denganku. Pertemuan yang awalnya hanya bisnis syahwat, lama-lama menumbuhkan
perasaan sayang di hati. Apalagi setelah mendengar kisahku yang pilu, dia
berjanji akan membebaskan aku dari Mak Itam dengan membayar sejumlah uang
tebusan. Tetapi dia memintaku untuk bersabar. Uang pembebasan yang harus
disediakan untuk Mak Itam cukup banyak, dan dalam bentuk dollar Singapura.
***
Aku
merindukan lelaki sipitku. Satu putaran almanak telah berlalu, dan dia tidak
kembali. Apakah kapalnya karam atau dia sudah menemukan perempuan baik-baik
dengan rahim sehat? Entahlah. Aku jelas
bukan perempuan baik-baik, dan rahimku tidak berfungsi.
Sebelum
resmi melacur, Mak Itam rutin mengocori tenggorokan kami dengan minuman pahit
berwarna pekat yang langsung membakar perut. Menurut Mak Itam, kami harus minum
itu agar tidak hamil ketika para bedebah menyemprotkan maninya di rahim kami.
Almanak
terus berputar. Aku masih menunggu lelaki sipitku datang menjemput. Aku masih percaya
pada janji yang pernah membelai di telingaku. Sebagian teman-temanku telah
pergi. Mereka memilih ikut agen Singapura menjadi penjaja seks di kawasan
Geylang yang menawarkan bayaran lebih tinggi. Sebagian yang lain, memilih memikat
apek-apek langganan mereka untuk menjadi istri siri dan mencoba hidup normal di
Batam.
“Kecantikan
kita tidak abadi, Ndu. Jika tua dan keriput nanti, siapa yang akan memakai
kita?” tanya Lia ketika mengajakku ke luar dari dunia ini.
“Kamu
punya uang untuk bayar Mak Itam?”
“Apek
yang biasa kukencani, mau menebusku dari Mak Itam. Dia berjanji akan menikahi
dan memberi rumah. Kalau kamu mau, bisa kubilang pada dia untuk mencarikan
temannya untukmu.”
“Tapi
apek , Li. Apek! Apa yang kamu harapkan? Tua dan bau tanah.”
“Setidaknya
aku sempat mencicipi hidup normal, Ndu. Nanti akan kupikirkan cara mencari uang
yang halal. Aku lelah hidup seperti ini, Ndu. Kamu tidak lelah?” Aku
menggeleng.
Tentu
saja aku lelah. Tapi jika aku pergi dari sini, aku tidak akan tahu jika
kekasihku datang mencari.
Malam
pun datang menjemput, lelah akhirnya berlabuh. Aku memilih tertidur abadi di sudut kamar
dengan segenggam obat yang menjanjikan kenanganku abadi.
***
Rinduuu...
Angin
mendesau-desau memanggil namaku di sepanjang aliran Sungai Jodoh yang
menghitam. Siapa yang mau berendam di airnya yang kini berbau busuk? Lalu kusadari
kebenaran dongeng itu. Karena kami tidak berendam di Sungai Jodoh, maka kami
pun tak berjodoh. Mak Itam benar, aku memang perempuan bodoh.
Kecewa
dan amarah menguasaiku. Dimana kekasihku bersembunyi? Tidak ada hati yang
kuiijinkan pergi dari pulau ini. Akan terus kubisikan janji-janji kepada para
pendatang, agar mereka menetap dan tak ingin kembali ke kampung halamannya.
Sekali mereka merasakan sejuknya hembusanku, mereka akan terlena dalam gemerlap
rupiah dan dollar yang bertabur.
Mereka
akan selalu menemaniku di sini, hingga kutemukan kekasihku. (*)

Komentar
Posting Komentar