PADA SEBUAH LANDASAN
Batam Pos, 13 November 2016
Kamu
datang. Aku datang. Kita bertemu pada sebuah meja di ujung bandara. Tepat di
depan retail terkenal, yang berdiri di sepanjang jalan bagai jamur di musim
hujan. Kamu memesan kopi pekat tanpa gula. Aku memesan kopi susu tanpa gula.
Kita menyesap gelas bersamaan, terpejam, lalu saling menatap.
“Jam
berapa kamu terbang?”
Kamu
melirik arloji adventure bertali
kulit. Arloji yang kuberikan padamu sebagai penanda, supaya waktu kekal bagi
kita berdua. Seharusnya.
“Cukup
waktu bagi kita untuk berbagi cerita.”
“Berapa?
Sepuluh menit? Lima belas menit? Jangan katakan satu jam. Kamu tak pernah punya
waktu selama itu untukku,” sungutku.
“Kamu
sendiri? Berapa waktu yang kamu punya untukku? Satu minggu aku di Harmoni One
dan tak semenit pun kamu mengunjungiku.” Kamu merajuk.
“Kamu
tahu kondisi kita….”
“Aku
tahu. Sangat tahu. Berapa pun waktu yang kita punya, akan selalu cukup untuk
melepas rindu.”
Kamu
mengelus punggung tanganku, memandang penuh kedamaian menembus kedua pupilku.
Aku luluh. Selalu takluk pada telaga sejuk di wajah ovalmu. Mengingatkanku pada
saat-saat terindah di Jembatan Fisabilillah.
“Kamu
tahu yang paling kurindukan dari Batam?” tanyamu saat menyusuri jembatan satu
dari lima jembatan penghubung Batam-Rempang-Galang.
“Ada
yang lain selain aku?”
Kamu
tergelak. Membentangkan tangan seolah ingin memeluk cakrawala. Kakimu mengait
pada pagar pembatas jembatan.
“Jangan
berbuat gila, Sani!” teriakku. Orang-orang mulai memerhatikan kami. Menatap
curiga pada gelagatmu.
Kamu
melompat turun dari pagar pembatas. Tanganmu menangkup kedua pipiku. Wajah kita
begitu dekat. Mata bertemu mata, dua telaga bening membanjiri telaga kosong
yang kekeringan. Sesaat, aku merasa kita tak akan berjarak.
“Aku
tidak akan segila yang kamu pikirkan. Percayalah, aku memang merindukanmu
setiap saat. Tapi saat ini, aku lebih merindukan gonggong rebus di ujung
jembatan.”
Kamu
melepas tanganmu dari wajahku, dan berlalu begitu saja meninggalkanku yang
masih termangu.
“Aku
lapar! Kalau kamu tidak bergegas masuk ke mobil, aku akan membiarkanmu berjalan
hingga restoran!” serumu sambil menyalakan mesin dan membunyikan klakson
berkali-kali.
Sialan,
kamu, Sani!
***
“Apa
yang kamu pikirkan?” tanyamu membuyarkan lamunanku. Kopimu tinggal separuh.
Kamu menyelipkan rokok di bibirmu.
“Hanya
berharap seandainya kita berdua terjebak di bandara ini seperti Tom Hanks1.
Sejak kapan kamu mulai merokok lagi?”
“Sejak
menemukan ada rokok murah dan enak di Batam. Rokok tanpa cukai.”
“Jangan
bohong! Kamu sanggup membeli rokok mahal jika kamu mau! Sani…, ingat
paru-parumu….”
Kamu
memandang sinis padaku. Pandangan sama yang pernah kuterima bertahun silam.
“Waktu
kita tinggal sepuluh menit lagi. Kamu tidak ingin menghabiskannya dengan ocehan
tentang bahaya merokok, kan?”
Ah,
Sani…, mengapa waktu selalu menjadi penghalang bagi kita untuk bertemu? Untuk
bersama? Seandainya saja…, seandainya saja aku dulu punya keberanian dan kamu
punya keyakinan, pasti waktu akan takluk pada ketetapan. Aku dan kamu, tidak
perlu mencuri waktu seperti saat ini, Sani.
***
“Perempuan
butuh kepastian, Sani. Bukan pembiaran seperti yang kamu lakukan. Aku harus
apa? Kamu pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan. Bahkan keluargamu tak
tahu kamu pergi kemana. ‘Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.’ Apa
menurutmu pesan itu cukup untuk mereka? Untuk aku?”
Mataku
menatapi deretan pohon palem di halaman Masjid Raya. Takdir Tuhan begitu
misterius bagi kami. Lima tahun tanpa kabar, tiba-tiba Tuhan mempertemukan kami
di pelataran Masjid Raya. Kamu hendak masuk, aku akan keluar. Kamu yang bekerja
di Dinas Pariwisata Kalimantan Barat, sedang mewakili instansimu pada pameran
Sumatera Expo, di mana aku juga salah satu pesertanya. Di sinilah kami saat ini, duduk berdampingan
di anak tangga masjid selepas salat Zuhur. Menatapi pohon-pohon palem yang bergoyang
pelan, ingin tahu kelanjutan kisah kami.
“Dulu aku harus pergi, Rastri. Mencari
kehidupan yang lebih baik untuk diriku. Untuk masa depan kita!”
“Tanpa
memberi kabar? Meski itu pada orangtuamu?”
“Aku…,
aku kalut waktu itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ibuku yang terus-menerus
mendesak agar menjauhi dirimu, juga ibumu yang terus menolak kedatanganku. Aku
bingung, Rastri!”
Aku
juga bingung, Sani. Tapi aku tak pernah lelah membujuk Ibu agar mau menerimamu.
Ibuku memang kolot, sama kolot seperti ibumu. Entah apa yang dipikirkan kedua
ibu kami. Mereka tidak menyetujui hubungan kami karena beda suku. Konyol
sekali! Ini Batam, semua ras dan budaya ada di sini. Jika kami hidup berpuluh
tahun ke belakang, mungkin alasan mereka bisa diterima. Orang Sunda yang lebih
halus tindak-tanduknya tentu akan terperangah jika harus berhadapan dengan
orang Melayu yang lebih keras dan tegas. Tapi sekuat apapun usahaku untuk
meyakinkan Ibu, tak pernah membuahkan hasil, Sani. Apalagi kamu menghilang
tanpa kabar waktu itu. Bagi Ibu, itu semakin memantapkan hatinya untuk mencapmu
sebagai lelaki pengecut yang hanya bisa hidup di bawah ketiak orangtua, tidak
mandiri, dan tidak bertanggung jawab.
“Kamu
lihat, kan? Sani pergi! Tanpa kabar. Apa itu yang namanya laki-laki? Ibu memang
tidak pernah suka kamu berhubungan dengan dia. Ibu tidak mau kamu kelak
memiliki suami yang gemar nongkrong di kedai kopi. Hanya sibuk membual siapa
yang lebih hebat, siapa punya koneksi lebih kuat, siapa bisa melakukan apa.
Seperti Sani. Tanpa pengaruh orangtuanya, dia bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa,
Rastri. Saat pengaruh orangtuanya surut, kalian akan hancur. Ditinggalkan
orang! Ibu yakin, Sani tidak akan bisa berbuat apa-apa saat itu terjadi. Tidak
Rastri, Ibu tidak pernah menyetujui hubunganmu dengan Sani. Cari saja laki-laki
dari suku kita atau Jawa. Titik.”
Apakah
karena ucapan-ucapan Ibu yang seperti itu, kamu akhirnya memilih pergi, Sani?
Ingin membuktikan bahwa kamu tidak seperti yang Ibu katakan? Tapi kamu lupa
satu hal, ada perasaan yang harus kamu jaga dan kamu pelihara. Perasaanku. Kamu
pergi tanpa kabar, sama artinya kamu telah membuangku.
“Jika
kamu meminta aku menunggu, aku pasti akan menunggu, Sani. Tapi kamu tidak
meminta. Ibumu juga selalu sinis setiap aku datang ke rumahmu menanyakan kabar.
Bahkan saat aku mengatakan akan menikah, beliau langsung menutup pintu.”
“Pernikahanmu
hanya membuat Ibu yakin bahwa kamu seburuk perkiraannya.”
Aku
tertawa getir. Yah, aku pasti seburuk itu dalam pikiran ibumu. Perempuan Sunda
materialistis yang hanya gemar mempercantik diri dan akan menghabiskan harta
suami untuk berfoya-foya. Tidak seperti perempuan Melayu idaman ibumu. Pandai
mengaji, santun, dan sederhana.
“Dan
apakah ibumu sudah mengajukan calon untukmu? Perempuan Melayu yang alim?”
sindirku.
“Apa
kamu bahagia, Rastri? Dengan suamimu saat ini?”
Sani
tidak menjawab pertanyaanku, dia mengajukan pertanyaan lain yang membuat
kerongkonganku mengering.
“Rastri?”
Sani
memegang bahuku, memaksa tubuh dan wajahku menghadap ke arahnya.
“Aku
bahagia, Sani.”
“Kamu
bohong,” ujarnya sambil melepas cengkeraman dari bahuku.
***
Aku
memang berbohong, Sani. Kamu tahu aku tidak bahagia dengan pernikahan buatan
orangtuaku. Aku hanya memposisikan diriku sebagai perempuan patah hati karena
mengira kehilanganmu dan harus menerima calon suami pilihan orangtua. Bukankah
pilihan orangtua adalah yang terbaik bagi anak-anaknya, Sani? Suamiku memang
suami terbaik. Ayah terbaik. Menantu terbaik. Tapi bagiku, kamulah kekasih
terbaik. Aku masih dan selalu mencintaimu, Sani. Jika tidak, mana mungkin aku
rela mencuri waktu untuk menemuimu di sini, di bandara. Setiap kamu hendak
pergi ke kota lain atau baru datang membawa cerita lain. Rumahku berjarak lima
menit dari bandara, aku lebih leluasa mencuri waktu.
“Apa kabar orangtuamu sekarang?”
“Mereka sehat. Ayah menjadi petani sawit
di Rengat setelah pensiun. Tidak ada lagi keluargaku yang tinggal di Batam saat
ini. Semua pindah ke Riau.”
“Orangtuaku
juga sudah pindah ke Bandung. Semua terasa berbeda sekarang, ya?”
“Tidak ada yang berbeda, Rastri. Semua
masih tetap sama. Mereka masih tetap orangtua kita yang kolot.”
“Tapi tidak ada mereka di langit Batam, Sani.
Ini suaka kebebasan bagi kita. Seperti rokok tanpa cukai yang kamu hisap. Kita
bebas, Sani.”
“Apa itu artinya kamu siap meninggalkan
suami dan anak-anakmu untuk hidup bersamaku? Seperti yang kamu sarankan dulu?
Lari dan hidup bahagia, di mana hanya ada kita dan cinta kita?”
Aku menatapnya ragu. Sungguhkah saat ini
aku menginginkan itu? Tak ada lagi orangtua yang akan terus-terusan menghalangi
langkah kami. Tak ada lagi norma-norma yang mengekang kami. Juga petuah-petuah
yang membatasi kami. Tidak ada? Kita bebas. Bebas, sebebas-bebasnya. Benarkah?
Sanggupkah aku melukai perasaan suamiku yang telah begitu baik menerimaku tanpa
syarat? Aku yang hanya bisa menjadi istri robot baginya, tanpa perasaan apalagi
cinta. Sanggupkah aku meninggalkan anak-anak yang telah kulahirkan dengan menggadaikan
nyawa? Sanggupkah?
“Jangan khawatir, Rastri. Aku tidak akan
memaksamu berbuat sehina itu. Bagiku, pertemuan-pertemuan kita di bandara sudah
lebih dari cukup. Aku hanya perlu melihat kamu hidup, Rastri. Untuk menjagaku
agar tidak lupa bernapas. Itu saja.”
Sani mengusap pipiku.
“Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik.
Nanti kukabari lagi jika tiba di Batam.”
Kamu berlalu, setelah meninggalkan
kecupan hangat di keningku. Kecupan yang terus membekas bertahun-tahun
kemudian. Ketika, lagi-lagi, kamu menghilang tanpa kabar. Nomor ponselmu
tiba-tiba mati. Media sosial pun non aktif. Apakah kamu sedang menghukumku,
Sani? Atau kamu sudah siap melepasku dan telah menemukan penggantiku? Jika itu
benar, aku akan merasa lega sekali. Ya, lega. Bukan bahagia. Aku lega karena
akhirnya kamu tidak perlu sendirian lagi menghabiskan waktu. Aku lega jika
akhirnya ada seseorang yang lebih berhak memeluk tubuh dan mengusap peluhmu.
Aku lega. Sunguh-sunguh lega jika itu
betul terjadi. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Sani seperti terhapus dari
muka bumi. Aku pun mulai lelah mencari dan membiarkan waktu menua seperti
seharusnya.
***
Sejak
pertemuan terakhir itu, ini pertama kalinya aku duduk di sudut bandara. Kursi
kami telah tergantikan dengan sofa kain berbahan lembut. Kedai kopi yang dulu
hanya menyajikan tiga macam jenis kopi, kini telah berubah menjadi kafe mahal
dengan pilihan menu beragam. Ruangan berpendingin, musik jazz mengalun lembut,
pelayan berseragam yang ramah, dan pencahayaan minimalis yang membuat ruangan
terasa lebih nyaman untuk menanti jam-jam delay yang panjang.
Hang
Nadim kini, tidak hanya memiliki landasan terpanjang di Indonesia, tapi juga
terpanjang se- Asia Tenggara, melebihi landasan di Kuala Lumpur International
Airport. Rajawali-rajawali besi berbadan besar hilir mudik mengangkasa. Terminal
baru terus bertambah. Penumpang tak henti-hentinya datang dan pergi. Dari
jutaan mereka yang berjalan tergesa, aku berharap salah satunya dirimu.
Berjalan ke arahku dengan senyum terkembang dan tangan terulur. Ya, aku
berharap begitu, Sani. Karena saat ini, aku sedang sungguh-sungguh
merindukanmu.
Tuhan
maha baik padaku hari ini. Harapanku terkabul. Pintu kafe terbuka dan kamu
berjalan ke arahku. Tatapan telagamu menumpahkan kesejukan pada rongga mataku
yang telah lama kerontang. Senyummu melelehkan lilin-lilin aromaterapi yang
menguar di setiap meja kafe. Tanganmu terulur, “Sudah saatnya,” katamu.
Tanpa
pikir panjang, aku menyambut uluran itu. Sekali saja, aku ingin melepaskan
beban yang menghimpit paru-paruku. Sekali saja, aku ingin mengirup udara lebih
panjang. Sekali saja, aku ingin berjalan bergandengan tangan denganmu menyusuri
landasan pacu sepanjang 4000 meter lebih. Membiarkan rajawali-rajawali besi
mengudara dengan pikuk. Melangkah menuju rajawali di ujung landasan. Rajawali
yang akan membawa kita mengangkasa lebih tinggi dari rajawali besi manapun.
Rajawali yang akan mendaratkan kita pada bandara yang abadi. Di mana cinta kita
berdua kekal selamanya. (*)

Selama baca ini aku malah kebayang tokohnya BCL...trus soundtracknya lagu BCL yg judulnya 'Sani'...wkkkkkk
BalasHapusHaha, aku mencari nama yang lekat dengan lokalitas. Sani adalah nama mantan Gubernur Kepri:D
HapusHahaha.. Mbak Arum.
BalasHapusAku merasa menikmati sesuatu di sini... Kopi mana, kopi? ^^
kopinya di bawa mbak rie ke aceh. hahaha
HapusSani ... Sani. Betapa malang nasibmu.
BalasHapusSani sudah almarhum padahal baru menjabat :'(
Hapus