PAGI PALING SUNYI


(Koran Dinamika News, edisi 1-14 Desember 2017)


Hari masih sangat pagi, burung pun belum terbangun ketika kabar duka itu tersiar dari pengeras suara masjid. Seseorang yang dikenal sangat baik dan suka memimpin sholat berjamaah telah mengembuskan napasnya untuk yang terakhir kali. Warga Perumahan Cipta Asri berduyun-duyun datang ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir dan menyalami janda almarhum. Memberi sumbangan sekadarnya dan mengucapkan kata-kata untuk menguatkan dan sedikit menghibur.
Raihana duduk menyandar ke tembok ditemani anak perempuan semata wayangnya yang tak berhenti menangis di pangkuannya. Meski darah surut dari wajahnya, kesedihan terlihat menjauh dari kedua bola mata yang terpaku pada wajah suaminya yang tertutup kain batik. Raihana ikhlas, sangat ikhlas melepas kepergian suaminya. Dia percaya bahwa tiap-tiap yang bernyawa pasti harus mati. Satu hal yang ia sesali, ketika mengembuskan napas terakhir, ia tak ada di sisi suaminya untuk membimbing mengucapkan kalimat tahlil.

Semalam, dada suaminya tiba-tiba sesak. Keringat dingin mengucur deras dari kening dan pelipis. Suaminya bahkan membuka baju dengan harapan angin malam akan menyejukkan tubuhnya yang kepanasan. Angin memang berembus, tapi gigil tiba-tiba menggigit hingga pertemuan gigi atas dan gigi bawah menyuarakan harmoni yang mengerikan. Raihana menyelimuti tubuh suaminya dan meletakkan handuk dingin di keningnya. Menit-menit melebur dalam detak jam yang melaju. Tengah malam berlalu dan kondisi suaminya belum kunjung membaik. Dengan mengumpulkan semua keberanian yang dimiliki, Raihana mengendarai motor di tengah malam buta untuk mencari obat bagi suaminya. Malang baginya, apotek terdekat sudah tutup dan ia harus mencari apotek lain yang buka 24 jam.
Jalanan sangat lengang. Deru motor Raihana menjadi satu-satunya suara di udara yang menandakan kehidupan belum mati. Hawa dingin mulai menyelusup masuk dari sela-sela jaketnya. Matanya mulai dibujuk oleh angin-angin nakal yang memintanya menutup. Lampu motor bututnya pun mulai protes. Malam terlalu pekat untuk ditimangi cahaya. Seharusnya ia sudah tidur dalam kemul malam itu.  Bukan melaju di jalanan panjang yang seolah tak memiliki ujung.
“BERHENTI!” Suara keras menariknya dari kedalaman mimpi yang sempat hadir. Raihana mengerem cepat hingga ban motornya berdecit-decit.
Dalam keremangan lampu motor, ia melihat dua pemuda kasar menghadangnya di depan. Dengan takut-takut Raihana melihat keadaan di sekelilingnya. Malam telah membutakan arah dan mimpi sempat merenggut ingatannya. Ia berada di jalan sepi yang tak mungkin dilalui orang. Jalanan besar tak terlihat dan jika ia berteriak belum tentu ada orang yang akan mendengar.
“Ke sinikan barangmu!” seru pemuda dengan wajah penuh jerawat batu sambil menghampirinya. Raihana mendekap tas selempangnya dengan erat.
“Kau dengar kawan aku bilang! Ke sinikan tas kau!” pemuda satunya mengulurkan tangan hendak menarik paksa tas Raihana. Menyadari bahwa barang berharganya akan segera berpindah tangan, Raihana semakin mendekap erat tasnya.
“Ke sinikan tasmu kubilang! Atau kutembak kau, ya!” pemuda berjerawat batu mengarahkan senjata api ke arahnya. Sementara temannya menarik paksa tas miliknya.
“Jangan diambil, Bang. Hanya itu uang saya. Suami saya sakit, saya perlu uang itu untuk membeli obat. Tolong, Bang!”
“Ah, banyak cakap kau! Minggir! Pulang sana ke suami kau sambil jalan kaki! Awas kalau berani lapor polisi, kucari kau sampai dapat biar bisa kupecahkan kepala kau!” Pemuda berjerawat batu menempelkan senjatanya di pelipis Raihana. Lalu dengan keras ia mendorong tubuhnya hingga tersungkur. Dengan terburu-buru ia membonceng temannya mengendarai motor Raihana dan melaju menjauh hingga tak menyadari sesuatu telah terjatuh dari saku belakang celananya.
***
Empat belas tahun mengabdi tanpa pernah merasakan naik jabatan, harus dibayar mahal dengan sebuah surat pemecatan sepihak. Bagi Awang, bekerja sama artinya dengan beribadah. Ia tak pernah menghitung berapa banyak yang sudah diberikan perusahaan kepadanya. Ia juga tak pernah berhitung berapa banyak yang sudah ia berikan pada perusahaan.
“Rezeki Allah yang mengatur, Bu. Besar kecil harus tetap kita syukuri.”
“Ya masa bertahun-tahun jabatan Ayah hanya staff administrasi saja. Sekolah Ayah jauh lebih tinggi dari itu, lho.”
“Jangan pernah berhitung sama ilmu, Bu. Semakin kita menyebarkan ilmu tanpa pamrih, Insya Allah akan menjadi amal jariyah bagi kita. “
“Ah, Ayah, sukanya sedekah terus. Yang disedekahi saja nggak perduli. “
Awang hanya menggeleng melihat kelakuan istrinya yang terus mendesak agar ia meninggalkan kantor tempatnya bekerja saat ini. Istrinya geram melihat bagaimana atasan Awang memperlakukan suaminya. Setiap ada masalah sulit yang tidak bisa dipecahkan atasannya, Awang selalu dimintai bantuan. Namun setiap ada kesempatan jenjang karir atau mengikuti pelatihan gratis dari perusahaan, nama Awang seolah tercoret dari daftar karyawan.
Hingga akhirnya, namanya  benar-benar tercoret selamanya ketika ada perampingan karyawan di tempatnya bekerja.
“Seharusnya, Mas bisa mencoret namaku dari daftar PHK.”
“Terima saja, Wang. Pesangonnya cukup besar, kok. “
“Aku butuh pekerjaan, Mas. Sebesar apapun pesangon, yang namanya uang bisa habis dalam sekejap. Lagipula usiaku sudah di atas 40. Susah bagiku untuk mencari pekerjaan lagi. “
“Ya, pakai saja pesangon itu untuk memulai usaha, Wang. Lagipula, posisi kamu di perusahaan ini memang tidak diperlukan lagi.”
“Kamu yang membuat aku terlihat tidak berguna, Mas! Aku tahu,  kamu takut ketahuan Bos, kalau ternyata semua pekerjaanmu aku yang buat. Kamu takut aku menggantikan posisimu, kan?”
“Jaga mulutmu, Wang! Jangan lupa jika bukan karena aku, kamu mana bisa bekerja di sini. Jika bukan karena membayar hutang budi bapakku kepada bapakmu, mana mau aku membawamu bekerja di sini!”
“Seharusnya kamu nggak perlu khawatir, Mas. Jika mau menjatuhkanmu, sudah lama aku lakukan. Tapi aku selalu diam setiap kali kamu berlaku tidak adil padaku. Aku hanya menjaga amanat Bapak untuk selalu menjaga hubungan baik keluarga kita. Jika bukan karena itu.,sudah lama kutinggalkan kamu, Mas! Oh, ya sampaikan pada bapakmu jika hutangnya sudah lunas. “
Awang meninggalkan atasannya dengan perasaan kesal luar biasa.  Ia memutar otak bagaimana cara menyampaikan berita buruk ini tanpa membuat khawatir istrinya. PHK ini begitu tiba-tiba. Karyawan yang di PHK dipanggil atasan masing-masing dan langsung diberi surat PHK serta pesangon tanpa pemberitahuan lebih dulu. Awang teringat, tadi pagi istrinya mencium tangannya dan membisikkan kata-kata penyemangat di telinganya. Tidak sampai setengah hari ia pergi, ia sudah pulang dengan membawa berita tak menyenangkan.
***
Sebuah mobil polisi berhenti tepat di depan rumah Raihana. Dua orang petugas berseragam turun dari dalam mobil dan berjalan ke arah kerumuna ibu-ibu yang melayat. Mereka bertanya di mana bisa bertemu Bapak Awang Sumpena. Dengan ragu dan sedih, seorang ibu menjelaskan bahwa Bapak Awang baru saja meninggal namun jandanya bisa ditemui di dalam. Kedatangan petugas kepolisian membuat Raihana sedikit gugup. Ini hari pemakaman suaminya, keberadaan dua orang polisi di rumahnya bisa menimbulkan kasak-kusuk dan menyebarkan berita tak sedap.
“Maaf, Bu. Kami datang pada saat yang tidak tepat. Kami hanya ingin memberi tahu jika motor Ibu sudah ditemukan. Semalam Ibu melaporkan peristiwa perampasan yang Ibu alami ke pos jaga, bukan?”
Raihana mengangguk. Setelah berjalan beberapa kilometer dalam gelap, ia melihat pos jaga dengan seorang polisi muda sedang terkantuk-kantuk. Ia pun memutuskan untuk melaporkan peristiwa yang baru dialaminya sekalian meminta polisi muda tersebut mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah, Raihana mengecek keadaan suaminya. Ia berniat membangunkan tetangga untuk meminta tolong jika keadaan suaminya mengkhawatirkan. Namun terlambat, suaminya telah meninggalkan Raihana untuk selama-lamanya. Dengan tubuh yang lunglai, Raihana mengetuk pintu rumah tetangganya untuk minta bantuan. Ia pingsan setelah menceritakan apa yang terjadi pada suaminya.
“O, ya, Bu saya ingin menanyakan satu hal. Semalam, ketika para begal itu mengambil motor Ibu, apa ada sesuatu milik mereka yang terjatuh atau tertinggal?”
Raihana menggeleng. “Suasananya gelap dan saya panik,” jawabnya lirih.
Kedua polisi pun mengangguk. Mereka menyampaikan beberapa instruksi dan mengucapkan turut berduka sebelum meninggalkan rumah Raihana.
Pada saat menunggui suaminya selesai dimandikan, ponsel Raihana berdering. Sebuah berita duka cita ia terima. Raihana mendengarkan penuturan si penelepon sambil mengingat kembali peristiwa semalam.

Sesuatu terjatuh dari saku belakang pemuda berjerawat batu. Raihana memungut dan menyembunyikannya di balik jaket. Ia berjalan terhuyung ke jalan besar dan berusaha mencari rumah terdekat untuk meminta pertolongan. Tapi ia berada di row jalan yang jauh dari perumahan. Dalam kondisi bingung, sebuah mobil menyorotkan lampu padanya. Raihana melambaikan tangan. Mobil pun berhenti lalu ia berlari mendekati sisi pengemudi.
Ketika kaca mobil diturunkan, seraut wajah yang ia kenal menyembul. Wajah yang selama belasan tahun telah berbuat tidak adil pada suaminya. Wajah yang membuat suaminya kehilangan pekerjaan, sehingga terpaksa menerima pekerjaan sebagai security malam di tempat mereka tinggal. Itu dilakukan suaminya setelah uang pesangon yamg diterima habis dipertaruhkan untuk sebuah usaha yang berakhir dengan kebangkrutan. Sayangnya, tubuh suaminya tidak kuat harus berhadapan dengan angin malam setiap hari. Belum lagi siangnya ia harus membantu istrinya berjualan jajanan anak-anak di depan sekolah. Suaminya pun jatuh sakit.
Udara dingin dini hari membekukan akal sehat Raihana. Desiran angin membisikkan bujukan setan yang menjanjikan tunainya sebuah gelisah dan amarah. Dengan satu tarikan pelatuk, Raihana melubangi kepala atasan suaminya.

Setelah membiarkan lawan bicaranya menutup telepon, Raihana memeluk tubuh putrinya yang tenggelam dalam kesedihan teramat dalam. Ia masih menyimpan senjata api para begal di balik bantal. Berbagai rencana berkelebat di kepalanya. Pagi terasa lebih sunyi dari seharusnya. (*)

Batam, 1117




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS