AWALNYA

Bagi saya, memiliki tetangga unik, dalam tanda kutip, bisa menjadi anugerah bisa juga menjadi kutukan. Sejauh ini saya menganggapnya sebagai anugerah. Setidaknya bukan hanya kehidupan saya yang layak ditertawakan, tetapi saya juga bisa menertawakan kehidupan orang lain.

Berdosakah?

Entah. Saya hanya ingin merasa lebih baik dari orang lain dan hidup lebih bersemangat. Terkadang kita butuh mood booster untuk menjalani hari demi hari. Bagi sebagian orang mood booster mereka sederhana. Jalan-jalan ke mall, makan-makan di kafe, main air di pantai, mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang. Tapi permasalahan hidup tidak semudah jalan hidup ninja hatori. Saya butuh tertawa. Tertawa membuat sebagian kekacauan hidup saya terkelupas seperti kulit ari yang mengering. Tertawa seolah mengisi pikiran saya dengan oksigen paling murni dan membuat sel-sel tubuh saya bertenaga. Cara termurah merecharge energi, bukan? Tidak perlu biaya, kostum khusus, pemulas bibir sewarna tas dan sepatu, apalagi selfi-selfi dengan latar khusus untuk kemudian di posting di media sosial yang konon bisa mendongkrak status sosial.

Tidak. Saya tidak butuh semua itu. Saya hanya butuh tertawa. Dan sumber tawa termurah saya dapat dari sekeliling saya. Salah satunya tetangga saya.
Apa kalian berpikir saya membenci mereka, tetangga-tetangga saya itu, dan berniat mengolok-olok mereka dengan tulisan yang tak baik? Tidak. Sama sekali tidak. Hubungan kami baik-baik saja. Kelewat baik malah. Kami saling mengunjungi di jam delapan pagi, jam satu siang, dan sore hari ketika jalanan penuh dengan anak kecil bersepeda roda tiga. Terkadang, pada saat hawa terlalu panas untuk bergelung di dalam rumah, kami saling mengunjungi di malam hari. Bercerita tentang keseharian ibu rumahan yang tanpa variasi. Membanggakan prestasi suami-suami kami yang konon kegantengannya melebihi Sandiaga Uno. Atau sekadar mengomentari mereka yang lalu lalang di depan rumah.

"Ibu itu baru beli mobil mewah. Suaminya baru saja dapet proyekan milyaran. Kata anaknya, bulan depan mereka akan liburan ke Eropa."

"Kasihan bapak itu, baru saja keluar rumah sakit sudah ditinggal istri."

"Enak, ya, jadi orang cantik. Lihat saja suaminya. Saking sayangnya, istrinya saja tidak boleh mencuci karena takut tangannya kasar."

Dan masih banyak komentar sarkas lainnya. Tidak semua komentar itu benar tentu saja. Sebagian malah karangan yang berjudul 'barangkali'. Hebatnya para tetangga saya ini, mereka bisa mengambil satu kesimpulan dari keseluruhan hidup manusia hanya dengan sekali lihat. Hanya karena melihat seseorang mengendarai mobil baru, langsung menyimpulkan dia baru beli mobil. Dibumbui sedikit kemungkinan seperti, mungkin saja baru jual tanah warisan, mungkin saja suaminya dapat kerjaan lebih baik, hingga komentar sarkas seperti dapat lotere. Hari gini? Please beibeh! Padahal kejadian sebenarnya, orang yang dicurigai baru membeli mobil baru ternyata seorang pekerja bengkel yang dipercaya bosnya untuk membawa pulang mobil yang sedang dikerjakannya.

Begitulah kehidupan kami. Namun tidak semua hari-hari kami berjalan bahagia tentu saja. Ada hari-hari mendung bahkan gelap gulita, ketika ada salah seorang dari kami yang berjalan terlalu cepat, berencana sendirian, dan diam-diam memperluas lingkungan sosial. Tidak boleh ada yang 'terlalu' di antara kami. Terlalu pelit, jangan. Terlalu mewah, jangan. Terlalu baik, jangan. Terlalu gaul, jangan. Semua yang serba terlalu itu tidak baik menurut Mbak Vetty Vera. Menurut kami, yang terlalu itu menyalahi prinsip kesamarataan. Satu hal yang membuat kami merasa sehati.

Jika ada seseorang yang dianggap sudah terlalu, ada dua hukuman sosial yang mungkin terjadi. Pertama, dikucilkan. Setidaknya sampai kondisi yang terlalu itu menjadi seimbang. Misalnya, TV Ibu no. 5 terlalu besar. Tanpa dikomando, tiba-tiba saja setiap orang di lingkungan kami menjadi sangat sibuk sehingga tidak ada waktu lagi untuk saling mengunjungi atau berbelanja di Abang Sayur yang sering mangkal di bawah pohon kersen. Tentu saja dalam kasus ini Abang Sayur yang paling dirugikan. Ia pun punya teknik jitu untuk membuat dagangannya dikerubuti lagi seperti gula yang dikerumuni semut. Sambil menagih hutang ke Ibu No. 7, Abang Sayur mengatakan kalau ibu itu tidak boleh merasa minder. Penghasilan sama besar masa iya tidak bisa punya TV yang sama besar. Lagipula, TV sebesar itu bisa dibeli dengan cara mencicil. Nilai bulanan ringan, bunga kecil, bebas administrasi, cukup modal foto copy KTP, TV LED puluhan inchi bisa segera dibawa pulang.

Begitulah gerilya Abang Sayur dari rumah ke rumah. Dalam hal ini dia sangat diuntungkan. Dapat komisi tambahan dari toko elektronik tempat para ibu-ibu mengajak suaminya berhutang ditambah lagi gelaran dagangannya di bawah pohon kersen laris manis. Tidak ada yang bisa menandingi hasrat masak enak yang berlebihan ketika hati merasa bahagia. Dan keseimbangan diperoleh kembali,  kondisi berjalan normal lagi. Setidaknya begitu yang terasa.

Hukuman sosial kedua yang mungkin terjadi apabila tidak ada keseimbangan adalah digunjingkan. Dan ini sungguh berat. Bahkan Dilan tidak sanggup memikulnya. Jika hanya digunjingkan seputaran blok, masih bisa dipikul. Tapi bila digunjingan sejagad dumay, sungguh beban yang dipikul bisa membuat stres 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan berbulan-bulan hingga keseimbangan diperoleh kembali. Bayangkan saja jika satu warga dumay memusuhi, mengatakan hal-hal yang kajol (kagak jolas). Satu orang membuat status, dibaca oleh ibu blok A, blok B, C, D, E, dan seterusnya hingga gosip dumay menjadi gosip dunyat. Dan satu perumahan pun tahu apa aibmu. Belum lagi jika status terbaca oleh rekan perkumpulan arisan, perkumpulan alumni dari TK, SD, SMP, SMA, kuliah hingga perkumpulan alumni kosan dan perkumpulan pecinta cilok depan kampus. Dunia pun seperti ketakutan Abraracourcix, bahwa langit akan runtuh menimpa kita. Gunjingan akan terus berlanjut jika keseimbangan belum tercapai. Dalam kasus TV tadi, keseimbangan dan suasana damai didapat jika lingkungan sekitar sama-sama memiliki TV berukuran besar.

Begitulah kehidupan bertetangga saya. Dalam situasi ini saya hanya penonton. Yang bertepuk tangan jika pertunjukannya bagus dan siap melempar sandal jika pertunjukannya buruk. Meskipun resikonya saya harus beli sandal baru yang penting rasa puas hati bisa terlampiaskan. Dikucilkan adalah hal biasa buat saya. Menjadi bulan-bulanan medsos sudah kebal. Saya pernah stres gara-gara gunjingan di medsos, tapi sekarang sudah kapalan. Ibarat itik yang menjelma menjadi angsa, begitulah mental saya terbentuk. Saya hanya penikmat, mereka pemainnya. Saya suka berlari sendiri dan berencana sendiri. Yang saya lakukan saat ini adalah menikmati segala bentuk pertunjukan di panggung sandiwara tanpa batas waktu. Menakjubkan bukan? Ada kalanya pertunjukan menjadi membosankan dan saya hanya menguap-uap lelah. Dan saya pun mencari pertunjukan lain di panggung lain. Ada sepuluh blok di perumahan saya dan tiap bloknya punya panggung sendiri.

Layaknya tiap pertunjukan, setiap panggung punya pemeran utama. Di panggung saya, pemeran utamanya serang perempuan muda bertubuh semampai, dengan rambut panjang dan dagu yang selalu mengarah ke atas. Saya menjulukinya Si Nyonya. Dialah bintang utama pertunjukan kami.

Komentar

  1. Di rumah yg lama ada yg kayak si pemeran utama. Dituduh ga menjaga ukhuwah bahkan sombong krn ga kasih tahu saya hamil. Lha gmn? Dimasukin WAG RT pun tidak. Saya bed rest total 9 bln. Hrs gmn? Ahahaha
    Alhamdulillah di tmpt yg skrg belum nemu yg begitu dan smg ga ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada aja emg org begitu. Sy kontraktor, sering nemu yg aneh2 😁

      Hapus
  2. Wah, asem manis hidup tetanggaaan.... 😅 😅 😅

    BalasHapus
  3. Boleh beli di saya kalau butuh sendal baru. Sendal jepit tapi...hahahaha

    BalasHapus
  4. Tetangga kita mirip tipis-tipis 🤣😂

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

(3) - MEMORABILIA FEBI