CERITA DI BALIK HUJAN





(Majalah Tegalredja, Edisi Desember 2015 )

Kupandangi undangan yang dikirim ke e-mailku itu. Tulisan sederhana dengan latar batik. Tak banyak kata hanya tanggal dan tempat. Yang jadi perhatianku adalah judul undangan itu. Kutatap terus lekat-lekat.
"Reuni SMU angkatan 1996"
Aku benci tiap reuni. Setiap pulang lebaran, bertubi datangnya undangan-undangan itu. Reuni SD, SMP, SMU, kuliah hingga reuni kos-kosan atau reuni teman sepermainan. Tiba-tiba semua merasa harus membuat acara reunian. Buatku, reuni cuma ajang pamer. Cuma orang sukses yang berani datang di acara reuni. Cuma orang dengan cerita hebat yang berani sodor muka di grup alumni. Mereka yang hidupnya terpuruk, pas-pasan atau biasa saja tak pernah terlihat tampil di acara reuni. Jikapun ada, bisa dipastikan mencoba mencari keuntungan dari kesuksesan teman-temannya. Yess! Buatku reuni nothing! Nggak penting! Cuma bikin pening! Dan biasanya, undangan-undangan reuni akan dengan senang hati aku skip atau masuk keranjang sampah.
Tapi, undangan yang satu ini benar-benar mengusikku. Selain tanggal dan waktunya yang masih sangat lama, 10 bulan dari undangan tersebut dikirim, yang mengusikku adalah nama ketua panitianya. Ada desiran halus ketika membaca nama itu. Ada rindu yang menggeliat pelan dalam tidur abadinya. Ada kebahagiaan aneh hanya dengan membayangkn ingatan-ingatan lalu yang tak sempurna. Potongan-potongan kecil yang berusaha kususun menjadi satu cerita. Agak sulit bagi otak lemahku untuk menembus waktu mundur ke 20 tahun silam. Ada bayangan yang semakin membesar ada juga bayangan yang semakin hilang seolah tak ingin di temukan. Aku ingat..., sangat ingat, betapa nama itu menjadi napasku setiap kupergi sekolah. Tapi aku tidak ingat, kapan nama itu pergi? Dan kenapa? Mengapa ketika mencoba mengingatnya lebih keras, hatiku sangat sakit dan sedih, hingga ingin menangis?
10 bln lagi. Masih cukup banyak waktuku untuk mengumpulkan uang untuk membeli tiket pulang dan hadir di acara reuni. Cukup banyak waktu. Tapi cukup beranikah aku? Entahlah. Akan kucari jawabnya ketika tiket pulangku sudah di tangan.
Ting!
Notif WA ku berbunyi. Biasa. Nanti ketika waktu agak senggang aku cek, pikirku sambil melanjutkan hitungan nota-nota masuk.
Ting! Ting! Ting!
Terus bertubi-tubi tak berhenti. Tumben? Tak pernah seribut ini. Notif grup sudah ku silent, siapa atau ada kabar apa, sih sampai notif WA tidak berhenti? Penasaran. Kuhentikan sejenak hitunganku, kuambil hp ku dan....sudah ratusan pesan WA masuk. Ternyata aku ditambahkn pada satu grup baru. Grup alumni SMU ku. Bukan satu tapi dua ! Satu lagi grup alumni kelas ku. What ??!! Tiba-tiba pesan WA berebut masuk ke hp ku sampai menekan clear message saja tidak bisa. Akhirnya kubiarkn saja pesan itu meluncur menghabiskan kuota. Malas menyimak. Paling say hai ! Kerja dimana, anak berapa ? Tinggal dimana? Dan sederet basa-basi yang buatku gak penting banget. Iseng aku cek member grup siapa saja. Sudah bisa di pastikan, Febi yang memasukkan aku kesitu. Karena hanya dia teman SMU yang masih terus berhubungan denganku.
Ahhh...nama itu, muncul dalam daftar teratas member grup. Lalu ku tambah namanya ke daftar kontakku. Penasaran berat ingin melihat profilnya.
Dia..., masih sama seperti 20 tahun yang lalu. Ketika pria seumuran dia membengkak, dia tetap sama. Guratan halus mulai muncul di wajahnya, menambah kharisma wajah dinginnya. Wajahnya bersih, tanpa kumis atau janggut. Uban mulai nampak mengilat di sela-sela rambut hitamnya. Kupandangi lekat-lekat foto itu..., tanpa sadar aku tersenyum. Teringat 20 tahun silam. Wajah itu yang selalu menenangkan aku setiap pelajaran matematika. Aku paling benci pelajaran itu. Nggak suka dengan gurunya yang terlalu keras ketika mengajar. Sedikit-sedikit mukul meja. Tidak bisa menjawab siap-siaplah dibombardir kata-kata makian dan hardikan.
Aghhhhh!! Selama pelajaran matematika rasanya waktu benar-benar berhenti lamaaaaa sekali. Bahkan aku merasa lupa bernapas setiap Pak Akram memandang ke arahku. Aarrgghhhh!!! Skip! Skip! Skip! Memori yang ingin ku delete, tapi susahhhh...

***

Dia, duduk tepat di belakangku. Jika terlihat aku mulai gelisah, disentuhnya bahuku. Otomatis langsung tenang. Merasakan ujung jarinya di bahuku membuat aliran oksigen ke otakku menjadi lancar. Aku ikhlas, waktu berhenti lebih lama. Ehh...baru kusadari, seharusnya aku berterima kasih kepada Pak Akram. Karena berkat beliau aku bisa memiliki momen-momen indah walau singkat. Aditya...tanpa sadar aku menyebut namanya. Adityaaaaaa...aku pernah berteriak kepadanya. Saat itu hujan dan aku memandangi punggungnya yang menghilang di sembunyikan hujan.

"Aku tidak bisa berlari mengejarmu Dit.., .kamu memakuku di tempat. Kamu pergi dalam hujan dan aku menggigil menahan tangis. Aku menangis..., tapi tanpa air mata. Kamu pergi tidak sendirian. Kamu melepas sebagian rohku mengikutimu."

Dan aku menangis lagi. Aditya..., 20 tahun melupakanmu dan kini aku mengingatmu. Aditya…, sakit itu datang dan tak bisa terobati kini. Aku harus menemuimu Dit, mencari penawar atas racun yang kau tanam di pikiran dan hatiku. Aku harus pulang!

***

1,5 jam naik pesawat, di tambah 8 jam menggunakan travel, akhirnya aku sampai di kota kecil tercinta. Kota buntu yang damai. tanpa macet, kecuali di depan pasar induk. Jalannya besar-besar dan mulus, nyaman banget. Tidak perlu ngebut dan berangkat cepat untuk sampai ke tujuan. Yang terpenting, kuliner nya luar biasa ! Dari jajanan pasar sampai masakan hotel, semuanya mak nyusss! Dari sarapan, hingga makan malam, selalu ada tempat enak untuk di kunjungi. Aku memilih tinggal di guest house teman SMU-ku. Bukan saja harganya sangat terjangkau, tapi lokasinya dekat dengan tempat reuni dan tidak susah mencari makan. Acara puncak reuni besok malam, aku masih punya sedikit waktu untuk jalan-jalan dan ke salon.
Reuni itu diadakan di gedung yang sama tempat aku menikah dulu. Gedung milik perusahaan BUMN terbesar di kotaku. Gedung yang menua tapi tetap kokoh dan berkharisma. Di gedung ini dulu aku bersanding dengan suamiku. Dengan pesta mewah dan undangan melimpah. Tapi sosok yang istimewa tak terlihat di antara undangan yang tampak kecil dari tempat berdiriku dulu. Ahhh, seharusnya aku tidak berharap dia hadir. Undangan pun tak kuberikan. Sekalipun aku yakin sahabat baiknya menyampaikan berita pernikahanku, tapi apa lagi yang kuharapkan?
Saat itu, aku benar-benar ingin cepat-cepat pergi dari kotaku. Melepas segala kenangan, sakit, dan airmata. Memulai hidup baru dengan napas baru. Tapi aku salah, salah besar! Karena rasa sakit itu tak pernah diobati. Luka itu mengecil tapi tak pernah hilang. Seharusnya aku mengobati dulu sakit itu. Menyembuhkannya baru melupakannya. Dan, disinilah aku berada sekarang. Mencari obat bagi rasa sakitku itu.

***

Aku melemparkan pandang ke seluruh ruangan. Terlalu cepat aku datang rupanya. Diantara wajah-wajah yang hadir, tak satupun yang familiar bagiku. Sangat berubahkah mereka atau ingatanku yang buruk ? Jangan-jangan aku yang sangat berubah sehingga belum satupun teman menyapaku. Ketika aku sedang mencari-cari, seseorang menepuk bahuku.
"Shila?"
Aku membalikan badan.
"Febiii? Ya ampunnn!!!" seruku sambil mencium dan memeluk sahabat baikku dulu. Kami pun segera mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
"Kapan datang?" tanya Febi memulai pembicaraan kami.
"Kemarin."
"Nginep dimana? Ortu masih di sini, kan?"
"Enggak lagi, Feb. Ortu ikut adek di Jogja. Di sini sudah nggak ada siapa-siapa lagi. Kamu sendiri, gimana? Apa kegiatanmu sekarang?"
"Masih sama, Sil. Nerusin usaha keluarga."
Dan pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut kami, sampai ketika MC membuka acara pun kami masih sibuk dengan obrolan kami. Bertahun- tahun aku tidak bertemu Febi dan obrolan kami ini seolah membayar kerinduan diantara kami. Dan perbincangan pun terhenti ketika MC memanggil ketua panitia reuni untuk memberikan sambutan. Spontan mataku nanar ke arah panggung. Mencari sosok yang seharusnya kurindukan. Aku memang merindukannya, terasa jantungku mencelos ketika memandangnya dari kejauhan. Aku tersentak ketika kurasakan sentuhan lembut di tanganku, dan kulihat Febi sedang menatapku penuh pengertian.
"Kalian belum sempat bertemu lagi sejak perpisahan SMU, kan ?" tanya febi.
Aku menggeleng.
"Kalian harus bicara Shila. Selesaikan yang belum selesai. Supaya kamu pun tidak harus berlari setiap saat. Kamu lelah, bukan?" Aku mengangguk. Mataku mulai panas.
"Bicaralah dengannya. Temui dia," kata Febi sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.

***

Aditya Dharmawan, sedang berdiri di tepi meja cocktail dan berbincang dengan seseorang. Tertawa, dan sesekali serius. Kuperhatikan Febi menyela diantara keduanya dan dengan isyarat matanya menunjuk ke arahku. Agak salah tingkah aku ketika mata Adit sedikit terkejut memandangku. Dan dia menghampiriku. Mengulurkan tangannya...
"Cila? Kamu datang?"
Dia memelukku. Tak peduli pandangan orang-orang yang sedikit heran. Agak risih aku melepaskan pelukannya.
"Sorry," katanya.
Lama dia hanya memandangiku. Kucoba memecah kesunyian diantara kami.
"Hai, Dit! Apa kabar ?" Basa-basi yang standar sekali.
"Nggak pernah sebaik ini. Kamu benar-benar berubah, Cil. Cantik dan dewasa," pujinya.
Kuakui aku sedikit tersipu. Tiba-tiba MC memanggil namanya dari pengeras suara.
"Cila…, temui aku di parkiran sejam lagi, ya. Banyak yang mau kujelasin. Aku mau koordinasi dengan panitia yang lain dulu " katanya sembari berlalu.
Cila..., panggilan spesial dia buatku. Ya Tuhan…, kuatkan aku!

***

"Ini foto keluargaku," katanya ketika dia menemuiku di depan gedung.
"Dona?" tanyaku memandang foto wanita cantik yang pasti istrinya.
"Yah, Dona istriku. Adik kelas kita yang aku berikan les privat.”
"Cila, kamu ingat hari dimana kita janjian mau pergi bimbel bareng di Jogja,” tanyanya sembari memandangku. Aku mengangguk. Hari dimana aku melepasnya dalam hujan. Sekarang aku ingat!
“Hari itu juga Dona ingin bertemu denganku. Katanya, dia ingin memberi kenang-kenangan buatku. Tapi ternyata lebih dari itu, Cil. Dia bilang dia akan menungguku selesai kuliah jika aku memberinya kesempatan. Kamu tahu, kan, aku tidak bisa. Jadi aku menolaknya," Adit menundukkan kepala, suaranya bergetar. Kurasakan kepala ku mulai pusing mendengar cerita Adit. Sel-sel kelabuku mulai bergetar mencoba kembali ke-20 tahun silam.
"Dia mulai menangis. Mulai meracau. Aku mencoba menenangkannya. Tapi dia menolakku dan berlari meninggalkanku."
Kepalaku semakin pusing. Tanpa sadar aku memegang keningku, berharap bisa mengurangi sakitnya.
"Dia menyebrang jalan tanpa menoleh kanan kiri. Beberapa kendaraan mengerem dan membunyikan klakson. Aku berteriak memanggilnya tapi dia tidak peduli dan terus berlari. Lalu sebuah mobil menabraknya dan dia luka parah. Aku..., aku tidak bisa meninggalkannya Cil,” katanya sambil memegang bahuku.
Mataku mulai basah. Kucoba mengalihkan pandang dari wajahnya.
“Itulah kenapa aku tidak bisa menepati janjiku pergi bersamamu."
Teringat olehku kejadian di antara hujan.
"Kamu tidak memberiku penjelasan waktu itu, Dit " Aku mulai terisak.
"Aku bingung,Cila. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanya membantu Dona supaya cepat pulih. Kupikir kamu akan mengerti jika nanti kujelaskan."
"Tapi kamu tidak pernah menjelaskan, Dit."
"Karena Dona semakin tergantung padaku. Dan..., kakinya tidak bisa pulih karena kecelakaan itu. Dia pincang, Cila. Dia cacat karena aku!" kata Adit sambil menatap mataku yang kini benar-benar basah.
"Kamu menikahinya karena kasihan," kataku datar.
Adit mengangguk dan melepaskan tangannya dari bahuku.
"Apa kabar Dona sekarang?" tanyaku memecah keheningan yang mulai terjadi diantara kami.
"Dia meninggal karena pendarahan sewaktu melahirkan anak kedua kami. Tepat sebulan sebelum kamu menikah."
Aku terkejut memandangnya. Airmata semakin cepat menuruni pipiku.
"Maaf. Aku tidak tau." Adit tersenyum.
"Aku pun tidak ingin memberitahu dan merusak hari bahagiamu," katanya sambil menghapus airmataku dengan jarinya.
Tuhan…, hentikanlah waktu! Kumohon!
"Cila...," kata Adit sambil memegang tanganku.
"Aku tahu kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Seandainya bisa akan kuperbaiki semuanya dan kembali kepadamu. Begitu inginnya aku melakukan itu.” Kulihat ketulusan di matanya ketika dia mengatakan itu.
“Bertahun-tahun aku menunggu saat ini, hanya untuk bilang...., maafkan aku Cila. Maafkan aku. Karena aku, kamu menjauh dari kota ini dan juga teman-temanmu. Karena bukan aku pria yang bisa membahagiakanmu. Maafkan aku karena ingkar janji padamu, Cila."
Aku melepaskan genggaman Adit. Ternyata Tuhan tidak mengabulkan pintaku. Waktu tidak terhenti.
"Kamu benar Dit. Kamu benar. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Tidak ada. Aku....aku...aku mau pulang, Dit. Salam untuk kedua anakmu," kataku sambil cepat membalikkan badan.
"Cila....” Panggilannya mengurungkan langkahku. “Aku antar, ya ?"
"Tidak! Jangan! Aku pulang dengan Febi saja!"
Tuhan tau aku tidak bisa menahan diriku jika berlama-lama dengannya. Dan itu tidak boleh terjadi.
"Cila..., jangan pergi," katanya lirih.
Aku membalikkan badan, menyentuh wajahnya, menggelengkan kepalaku dan tersenyum. Lalu aku berbalik dan berlari meninggalkannya.

***

Febi hanya membiarkanku menangis sepuasnya di mobilnya ketika dia mengantarku ke penginapan. Sampai di parkiran penginapan pun aku masih sesenggukan.
"Kamu pulang kapan?" tanya Febi ketika tangisku reda.
"Pesawatku dua hari lagi. Tapi besok aku mau ke Jogja dulu. Menginap semalam di rumah adikku sebelum pulang ke anak dan suamiku."
"Kamu akan baik-baik saja, kan, Shil ?" tanyanya prihatin.
Aku mengangguk tersenyum.
"Semua sudah berakhir, Feb. Terimakasih sudah bersamaku," kataku sebelum keluar dari mobilnya. Febi mengangguk.
"Tetap hubungi aku, ya ? " Aku pun mengiyakan.
Mobil Febi mulai menghilang dari pandanganku. Hujan pun mulai turun. Hujan di musim kemarau? Ahhh..., sepertinya langit ingin membasuh air mataku.
Kutengadahkan mukaku memandangi air hujan yang berebutan turun. Sakit terasa saat butirnya menyentuh pipiku. Kupejamkn mata. Kubiarkan tubuhku basah dan kedinginan.

Hujan...hujan...
Membawamu pergi 20 tahun lalu...
Hujan...hujan...
Mengikis habis kenangan tentangmu...
Biar semua pergi bersama hujan...
Biar semua larut bersama hujan...
Hujan...hujan...

Desember, 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS