HUJAN DI AWAL TAHUN


(Batam Pos, Minggu 21 Februari 2016)

http://jembia.com/2016/02/21/hujan-di-awal-tahun-cerpen-l-keian/




Orang bilang hujan di awal tahun itu berkah. Katanya, kemakmuran akan terus menyertai sepanjang tahun yang baru. Bukankah hujan itu sendiri adalah anugerah? Jadi mengapa harus menunggu sepanjang tahun untuk sebuah berkah? Allohumma Shoyiban Nafi'an .

Dimas terus memandangi hujan yang membentuk tirai di hadapannya. Dia tidak mungkin menerobos hujan yang begitu rapatnya. Dari emperan ruko tempatnya berteduh, pandangannya terhalang tirai air itu. Hanya bayangan-bayangan kabur yang melintas di sana. Entah itu manusia atau kendaraan. Sudah satu jam Dimas numpang berteduh. Pinggiran ruko yang belum beroperasi ini sangat kecil, sehingga dia harus mepet ke dinding ruko agar terhindar dari percikan hujan yang seolah ingin menjangkau tubuhnya. Hp nya mati. Dia tahu Laras menunggunya dengan khawatir. 

"Ah, kekasih. Bagaimana aku bisa menghubungimu? Kau tahu diriku lebih memilih berada di sampingmu yang hangat, daripada berdiri hampir beku terhalang hujan. Maafkan aku kekasih, yang sekali lagi tak tepat waktu menemuimu."

Dimas ingat, Laras mengingatkannya untuk pulang cepat hari ini.

"Hari ini tepat setahun kita berumah tangga. Pulanglah lebih cepat, sehingga kita punya waktu lebih banyak untuk bersama," pintanya sambil bergelayut manja di lengan Dimas tadi pagi ketika dia hendak pergi kerja.
Masih lekat diingatannya wajah Laras ketika mengantarnya dengan senyum. Dimas berjanji untuk segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini dan pulang lebih awal agar bisa melihat senyum itu lagi. Tapi kenyataan berkata lain. Pak Bos meminta Dimas tinggal lebih lama untuk lembur. Dimas tak kuasa menolak. Dia sedang mengincar posisi asisten manajer. Tapi dia juga tak sanggup mendengar suara kecewa Laras, sehingga diketiknya pesan singkat.

'Pak Bos memaksaku lembur. Hp low'

Tidak ada jawaban. Mungkin Laras marah, pikirnya.

***

Hujan turun deras sekali. Laras semakin gelisah menunggu suaminya yang belum juga pulang. Berkali-kali dia mencoba menghubungi hp Dimas. Masih mati. Dia sudah pulang dari kantornya sejam yang lalu. Dia pasti sedang berteduh di luar sana. Menghindar dari derasnya hujan. Laras kesal karena Dimas tak bisa pulang cepat hari ini. Seharusnya dia tidak heran. Dimas sering kali tidak tepat waktu. Apalagi saat ini Dimas mengincar posisi asisten manajer, pasti dia harus bekerja ekstra giat agar mendapat poin lebih dari atasannya. Seharusnya dia memahami, tapi kali ini dia tidak ingin paham. Hari ini ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Setelah banyak orang meramalkan gagal, ternyata mereka bisa bertahan satu tahun tanpa konflik.

***

Hujan tak mau mengurangi derasnya. Entah mengapa langit begitu sedih sehingga mencurahkan air begitu lebatnya. Dimas mulai gelisah sambil memandangi arloji di pergelangan tangannya. Sedikit saja hujan reda dia akan nekat menerobosnya. Dia tidak mau membuat wajah manis Laras menjadi sedih di hari ulang tahun pernikahan mereka. Dimas ingat, banyak orang menyangsikan pernikahan mereka akan langgeng.
Laras anak manja dari keluarga berada sedang dia hanya anak pegawai yang hidup sangat sederhana. Keluarga Laras bahkan bertaruh, Laras tidak akan kuat hidup dengannya. Bahkan dalam tempo tidak sampai satu tahun Laras akan kembali ke rumah orang tua karena rindu akan kemewahannya. Nyatanya Laras bertahan. Dimas tak tahu apa Laras bahagia bersamanya atau gengsi pulang ke rumah orang tuanya. Tapi Dimas bertekad akan mengembalikan kemewahan yang biasa Laras nikmati. Untuk itulah dia bekerja keras.
***
Laras mulai menangis. Ingin rasanya ia menerjang hujan mencari Dimas. Bagaimana jika Dimas kecelakaan? Dia ingat motor Dimas belum di servis, bannya pun sudah hampir botak. Terkadang remnya blong tanpa sebab. Seandainya Dimas mau menerima tawaran papa untuk bekerja di perusahaannya tentu Dimas tidak harus berteduh ketika hujan turun. Tapi Dimas menolak segala fasilitas yang ditawarkan papa. Dimas ingin berjuang sendiri. Dia menikahi Laras karena cinta bukan karena harta keluarga Laras. Dia ingin membuktikan pada semua orang jika dia bisa sukses tanpa pertolongan orang tua Laras. Itulah yang membuat Laras terikat kuat pada Dimas. Dia rela membuang segala kemewahan yang dia miliki untuk hidup dengan Dimas. Tidak mengapa mereka tinggal di rumah kontrakan, asal selalu hangat dan bahagia.
***
Langit masih saja bersedih. Kini dia berteriak marah. Cambuk apinya mulai berkilat menerangi bumi. Dimas mengetatkan jaketnya. Hawa dingin mulai menyusupi badannya. Dia tidak mungkin memaksa masuk di antara rapatnya hujan. Motor tuanya mulai sering mengeluh sakit-sakitan. Dia tidak bisa memaksa si tua itu bekerja lebih keras. Dia takut si tua ngambek dan dia tidak punya kendaraan untuk membawa Laras jalan-jalan. 


Tiba-tiba dia tersenyum mengingat kebingungan Laras ketika dibonceng pertama kali.

"Aku belum pernah naik motor," kata Laras.

"Kamu harus terbiasa Laras. Hanya ini kendaraan yang kupunya.” Laras pun naik di belakang Dimas dan memeluk erat pinggang Dimas, seolah angin akan membawa terbang tubuhnya yang mungil.

Berulangkali Dimas memotivasi diri sendiri agar bisa membeli kendaraan baru. Tapi selalu gagal di tengah jalan. Ketika terkumpul cukup uang, ibunya masuk rumah sakit. Ketika terkumpul lagi, adiknya butuh dana untuk kuliah. Selalu begitu. Tetapi sedikitpun Laras tidak pernah terlihat mengeluh mendampinginya. Bahkan Laras mulai terbiasa dibonceng olehnya, memasak sendiri, mencuci dan menyetrika baju sendiri. Pekerjaan yang dulu selalu Laras percayakan kepada pembantu.

***

Langit tiba-tiba menjadi terang seperti disapa lampu sorot ribuan watt. Laras bergerak menjauhi jendela. Hujan semakin rapat. Butirannya menikam setiap permukaan bumi yang dia temui. Tanaman-tanaman di halaman mulai pasrah menerima siraman hujan dari langit. Mereka tertunduk seolah memohon ampun pada penguasa alam.

Laras semakin gelisah. Dia membayangkan Dimas berteduh di emperan ruko dan menggigil kedinginan. Seharusnya dia membalas sms Dimas selagi hp nya masih hidup. Tapi dia terlalu sibuk menenangkan hatinya agar tidak kecewa. Dia malah sibuk merapikan isi kepalanya agar tidak berserakan dan tumpah di mulutnya. Dimas pasti berpikir dia marah, merajuk atau menangis. Dia takut Dimas tiba-tiba nekat menerobos hujan karena merasa telah mengecewakan Laras. Seharusnya dia lebih mendukung apa yang sedang Dimas perjuangkan saat ini.

Dulu papa pernah menasihatinya, jangan sampai dia menyesal telah memilih Dimas. Dia bukan Roy, pemuda pilihan papah, yang bisa memperlakukannya seperti ratu. Memberinya uang belanja dan mengajaknya jalan keliling Eropa. Bersama Roy hidup Laras akan terjamin secara materi. Ada pembantu yang mengurusi masalah kebersihan rumah dan memasak, ada tukang kebun yang menjaga dan merawat tanaman dan ada supir yang siap mengantar Laras kemanapun. Tapi Roy bukan Dimas dan Dimas bukan Roy.

Dimas lembut, berada di samping Dimas saja sudah membuat Laras bahagia. Segala amarah dan kesal seketika hilang jika Dimas membelainya. Di pelukan Dimaslah tempat bahagianya. Saat dipelukan Dimas tak ada kesedihan maupun kesusahan mengiringinya. Saat di pelukan Dimas, hanya gravitasilah yang menahan Laras untuk tetap di bumi. Karena dipelukan Dimas waktu seakan berhenti, dunia seakan melayang, susah jadi senang. Dan laras sadar, Dimas sudah jadi candu baginya dan dia tak bisa lepas lagi dari Dimas.

Mama pernah khawatir dengan perasaannya yang menurut mama terlalu berlebihan. Kata mama Laras dipelet Dimas. Mama sampai membawa orang yang dipanggil kyai ke rumah dan membacakan ayat-ayat di hadapan Laras. Berbagai ritual harus Laras jalani. Bahkan mandi kembang dan minum ramuan pun dia turuti demi menyenangkan mama. Tapi Laras percaya, jika memang Dimas jodohnya tak ada manusia manapun di dunia ini yang sanggup memisahkan mereka.

Kak Sinta bilang, mama papa tidak boleh memaksakan kehendak kepada Laras, mereka harus berkaca dari rumah tangga Kak Sinta. Hanya demi menjaga warisan keluarga, Kak Sinta menikah dengan lelaki baik dari keluarga baik. Tapi pernikahan tanpa dasar cinta itu hancur di tengah jalan. Tak ada yang mengikat mereka satu sama lain. Jika harus bercerai pun apa susahnya? Kak Sinta memimpin satu perusahaan papa, uang tidak masalah baginya. Suaminya pun begitu. Perempuan seperti Kak Sinta bisa dia dapatkan dengan mudah selama uang berkuasa.

Akhirnya papa mama pun menyerah ketika Laras tetap memilih Dimas. Dengan satu syarat. Jika Laras tidak bahagia dengan pernikahannya maka ia boleh kembali ke rumah papa dan mama. Tapi sekali kembali dia tak akan bisa bertemu Dimas lagi.

Dan Laras pun berjanji, sesulit apapun hidup bersama Dimas dia tak akan mengeluh. Meski tangannya mulai kasar, meski mukanya mulai berminyak, dan rambutnya mulai kusam Laras bertekad tak mau kehilangan tempat bahagianya. Lagipula Dimas tak pernah mengeluh jika masakannya tak enak, tak pernah mengomel setrikaannya tak rapi atau rumah kurang bersih. Laras tahu, Dimas lebih kesal pada dirinya sendiri karena merasa telah merenggut segala kemewahan yang biasa Laras nikmati dan membawa Laras ke kehidupan yang sangat sederhana.

***

Hujan menolak berhenti. Langit seakan menjawab doa penduduk bumi yang terus mengeluh menengadah memohon hujan turun. Langit seolah menurunkan kesombongannya dan berkata, inilah air yang kau minta. Tampunglah dan lepaskan dahaga kalian. Hingga tak ada lagi kaki-kaki pohon yang sanggup menahan curahannya. Lalu kalian akan mengeluh lagi menengadah agar hujan cepat berhenti sebelum kalian tenggelam.

Dimas masih memandang langit gelap, seakan melihat siluet sedih wajah Laras terlukis di ricisan hujan. Samar namun jelas, yang mana air hujan, yang mana air mata. Akhirnya Dimas pun menyerah pada perasaannya. Dia harus menerobos hujan ini! Dia harus segera menghapus wajah duka itu. Dimas tak ingin membuat Laras menunggu lagi. Sudah terlalu sering Laras menanti kehadirannya. Sedari mereka pacaran, Dimas tak pernah bisa tepat waktu ketika mereka janji untuk bertemu. Tapi Laras tak pernah marah, Laras selalu menyambut kedatangannya dengan senyum.

“Aku tahu kamu pasti datang, Sayang. Meskipun terlambat aku yakin kamu pasti datang.”

Dikenakannya jas hujan dan helmnya. Motornya sudah pasti akan memberinya masalah ketika dia memaksa si tua itu melaju menembus hujan. Dengan lembut dibelainya si tua, Dimas memohon dengan sangat agar si tua berdamai dengannya kali ini. Setelah tugasnya berakhir malam ini, si tua boleh cuti panjang dan beristirahat. Dan derung knalpot bocor pun melaju menerobos derasnya hujan. Tidak terlalu cepat. Dimas sangat berhati-hati supaya dia bisa sampai dengan selamat di rumah. Dia ingin bertemu Laras di rumah 36 mereka, bukan di bangsal rumah sakit. Tunggu aku, Kekasih. Aku akan datang!

Si tua mati, ketika mereka tiba di rumah mungil dengan halaman penuh dengan tanaman milik Laras. Hobby baru Laras untuk membunuh sepi ketika menunggu Dimas pulang. Tapi rumah itu tertutup dan lampu dalamnya gelap. Dimas memutar gagang pintu dan ternyata tidak terkunci. Hatinya mulai berdebar ketika lampu dinyalakan dan dia tidak menemukan Laras di manapun di sudut rumah. Bayangan buruk mulai menghampiri Dimas. Mungkinkan Laras kecewa dengannya dan pulang kembali ke rumah papa dan mama. Tiba-tiba Dimas merasa gagal sebagai suami. Dibukanya lemari pakaian, masih utuh dan rapi. Tidak berkurang satu helai pun. Dompet dan tas Laras pun masih tergeletak di meja riasnya. Begitu bencikah Laras padanya sehingga dia pergi tanpa membawa apapun dari rumah ini? Dimas merasa kecewa sekali pada dirinya. Ingin dia melampiaskan amarah pada hujan yang menderu di luar sana. Ingin dia berteriak pada langit yang menyeringai mengejeknya. Tapi dia hanya bisa terduduk sedih di depan secangkir teh panas di meja makan. Jika Laras pulang ke rumah orang tuanya dia tidak akan bisa bertemu Laras lagi.

Secangkir teh yang masih panas? Laras belum lama pergi. Dia harus berjalan dulu ke ujung jalan agar bisa mencegat taxi yang lewat. Mungkin Dimas masih bisa mengejarnya dan membujuk Laras untuk pulang. Tak terpikirkan sebelumnya Laras akan pergi, tidak dalam hujan sederas ini. Sehingga Dimas pun tak memperhatikan siapapun yang berselisih jalan dengannya tadi. Bergegas Dimas mengambil payung dan hendak ke luar rumah mencari Laras, ketika seorang wanita cantik muncul di depan pintu rumahnya.

“Aku menunggumu di pos satpam di ujung jalan. Tapi kamu tidak melihatku,” kata wanita cantik itu.

“Aku begitu sibuk memenuhi pikiranku dengan wajahmu sehingga aku tidak memperhatikan hal yang lain.” Dibawanya wanita cantik itu ke dalam pelukannya. Dirasakannya kehangatan dan dilepaskannya segala kelegaan.

“Kupikir kamu pergi meninggalkanku,” kata Dimas.

“Meninggalkanmu?” 

Laras terkekeh sambil melepaskan pelukan Dimas. 

“Tak pernah sedikit pun terlintas di pikiranku. Apalagi ketika kuberikan kado ini untukmu.” 

Laras mengeluarkan kotak kecil dari sakunya dan memberikannya kepada Dimas.

“Bahkan aku tidak menyiapkan kado untukmu,” kata Dimas sedih. 

Dibukanya kotak kecil itu. Sebuah benda kecil panjang dengan 2 garis merah terpajang manis di kotak itu. Dimas memandang tak percaya bergantian kepada Laras dan isi kotak. Di ciumnya kening Laras dan di peluknya erat tubuh Laras. Tawa bahagianya berderai lebih keras dari suara hujan.

“Aku akan jadi ayah!” teriaknya pada langit yang kini menangis bahagia. 

Batam, 090116




Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS