SEMINGGU TUJUH AYAT
(Solopos, Minggu 17 Juli 2016)
Hari pertama
Aku
tidak tahu cara melepasmu pergi. Kemarin, puisimu memasuki e-mailku. Dia
tertimbun di sana bersama surat-surat berisi angka dan tawaran wisata ke tempat
eksotis. Beberapa mengabarkan pertemuan ini dan itu dari grup-grup alumni yang menjamur
di whatsapp. Salah satunya, mungkin
salah duanya, akan mengantarkanku menemuimu. Di suatu tempat di tanah kelahiran
kita. Tempat segala cerita bermula.
Puisimu
terus menerus berkedip padaku, memohon agar aku tidak mengirimnya ke tempat
sampah dan membuatnya permanen di sana. Satu ketukan saja, cukup satu ketukan,
akan membuatku kembali tenggelam dalam praharamu. Dalam. Semakin dalam. Terus
hingga ke dasar dan mengendap di sana. Aku akan merasakan ketenangan. Selamanya
ingin terbenam. Tak ingin bangkit apalagi sadar.
Tujuh
ayat kukirimkan, tanpa puisimu kukembalikan. Hidup kita sudah berakhir. Tamat.
Hari kedua
Aku
terbangun dalam gelisah. Menatapi langit-langit yang tak lagi merah.
Sudut-sudutnya telah menumpul, membuat celah bagi hewan merayap itu bersarang.
Satu. Dua. Mereka berebut meraih sayap-sayap kecil yang kerap berdenging di
telinga.
Pada
hari yang biasa, dengan cepat aku mengambil sapu dan pemukul nyamuk. Hewan
merayap itu menyebalkan! Mereka gemar bertahi di mana-mana. Membayangkan mereka
merayap di atasmu ketika terlentang, lalu dengan jahilnya menjatuhkan diri,
cukup membuat tidurmu terbangun seketika. Melupakan mimpi-mimpi yang sempat
terajut, membiarkan benangnya terurai dan menjadi kusut.
Pada
hari yang tak biasa, hewan merayap bebas berkelana. Sama seperti mataku yang
menjelajahi sudut kamar. Menghitung berapa lubang air yang terbentuk oleh
tetesan hujan. Menghitung berapa pengait pada tirai atau menghitung ada berapa
warna coklat pada gradasi di lemari pakaian. Kutelusuri bingkai-bingkai pada
tembok dua warna. Paku-paku masih menjadi tempat kenangan-kenangan tergantung.
Tak satu pun kenanganmu di sana. Aku pun akan jadi terkutuk tingkat wahid, jika
berani meletakkan kenangan kita di paku-paku yang menancap di dinding. Kita tak
memiliki kenangan yang banyak. Beberapa di antaranya bahkan tak ingin kukenang.
Beberapa di antaranya hanya menimbulkan air mata yang lebih banyak untuk
kuhapus. Meski menyakitkan, aku tetap menyimpan rapi semua kenangan itu dalam
satu tempat. File bernama: hati.
Tujuh
ayat kukirim lagi, mengganti segala kenangan yang tak tergantung.
Hari ketiga
Pertama
kalinya aku ke halaman, setelah hujan menjatuhkan tetesan terakhir. Kucoba
menghirup kenangan sedalam-dalamnya. Dan kulihat dirimu mengayuh sepeda di
kejauhan. Kau terengah-engah. Merah muda mukamu, tetesan hujan jatuh di
pelipis, udara mencoba mengaliri ruang kosong di kepalamu.
"Aku
akan pergi ke Jogja. Boleh kuminta alamatmu? Semua alamat yang kau punya. Aku
akan mengirimimu surat."
Tanpa
memberimu ruang untuk menghimpun tenaga, aku cepat mencari kertas dan
menuliskan semua alamatku di sana. Alamat rumah, alamat sekolah, bahkan alamat
teman karibku seandainya beritamu tertahan di pintu gerbang. Pernahkah
surat-suratmu tiba? Tidak! Karena kau mengirim dirimu kembali padaku. Bersama
senyum sehangat matahari jam delapan, yang membuat bunga turnera berebut
membuka. Menyentuh portulaca untuk segera bangun. Mengingatkan sri rejeki agar
segera tidur.
Kau
yang mengayuh sepeda di ujung jalan perlahan memudar. Meninggalkan sesal telah
membiarkan kaki melangkah ke halaman. Matahari jam delapan perlahan menghangat.
Hatiku menggigil kedinginan. Aku merinduimu! Mengharap hari-hari yang tak
pernah kita miliki itu kembali. Memutar ulang segala kemungkinan-kemungkinan.
Aku ingin kembali! Memaksamu menatap lekat mataku, mengharuskanmu duduk di
antara dua mereka. Kau harus bilang! Seperti apa jalan yang kau pilihkan
untukku! Sebesar apa kau bangun rumah bernaung kita! Seluas apa kau siapkan
hatimu demi aku. Aku! Aku yang ingin kau perjuangkan! Kau hanya geming. Menatap
satu-satu kenangan yang berhamburan ke tanah. Membiarkan angin meniupnya pergi.
"Aku
tak bisa. Mereka orangtua kita. Perintah mereka adalah doa bagi kita. Kata-kata
mereka adalah perpanjangan pesan dari Allah. Kita harus menurutinya."
Anak-anak
sungai meninggalkan hulunya. Berlomba siapa tercepat mengalir tiba di hilir.
Aku ingin menggali lubang denganmu saat itu juga. Terus menggali hingga kuku
kita patah dan berdarah. Terus menggali hingga menembusi sisi lain bumi. Tempat
bermuara kenangan dan keabadian. Dan kita akan membangun rumah kita di sana.
Membesarkan anak-anak kita jauh dari siapapun yang menghalangi jalan. Kau yang
pulang saat senja hampir menua, membentang tangan menunggu buah cinta menghambur
ke pelukmu. Menyisakan sedikit tempat untukku menciumi aroma matahari yang
menguar dari tubuhmu. Matahari dan kayu-kayuan. Aku menangis mengingatmu.
Sungguh!
Aku butuh tujuh ayat itu untukku. Tapi untukmu, selalu tersisa satu bibir untuk
mengucapnya.
Hari keempat
Tak
ada lagi mimpi buruk! Mungkin kau telah melepasku. Secepat itukah? Tiba-tiba
aku ketakutan dalam sepi. Tak ada lagi rindu yang bisa kuharapkan.
Hari kelima
Dia
sang pemilik hati datang berkunjung. Mengolah lahan yang siap dicangkul. Menyiangi
dan menaburi benih.
Datangilah
ladang-ladang itu dengan cara-cara yang disukai.
Dia
mendatangiku sebagai petani. Memetik ranumnya jambu-jambu penuh air. Mereguk
segarnya telaga seharum cendana. Bermain di kubangan yang bergetar-getar
menelannya. Hingga lelah menjemputnya pulang. Dan tertidur dalam senyum yang
menjembatani mimpi. Bukankah cinta itu nyata? Seperti telunjukku yang menyentuh
anak rambut di dahinya.
Dia
terlalu sering membiarkanku sendiri. Membebaskanku menyusuri setiap jalan
kenangan tanpanya. Aku dan dia tak memiliki kenangan. Apa yang bisa kuingat?
Meski kutahu cintanya teramat besar bagiku, pun sentuhnya begitu lembut
kunikmati, dan akan terus membekas mencanduiku jika dia selalu memasuki. Tapi
dia tak ada untuk selalu ada. Dia pergi terlalu lama untuk menyisakan getar di
tubuhku. Tiba terlalu singkat untuk membangkitkan indera perasaku. Memberi jeda
terlalu panjang untuk kabut-kabutmu menyelimutiku. Membekap rindu. Menghangati
ujung-ujung kaki hingga ke hati.
Tujuh
ayat menyusup dalam selimut. Kukirim dia padamu. Bersama langkah menjauh
pemilik hati. Meninggalkanku yang kembali kerontang.
Hari keenam
Pagi
hari yang sejuk. Embun-embun bergelung merajuk. Tak ada sesal pun gelisah.
Semua dahaga sudah pun basah. Secangkir kopi mengepul di udara. Dua sendok
kerucut arabica dan dua sendok kerucut gula basah. Diaduk penuh rasa 33 kali.
Dengan air 90 derajat. Racikan pas untuk jelang hari yang sempurna.
Kupilih
warna senada lembutnya pagi. Jatuh menjuntai berpadu hangatnya tanah.
Kumantapkan hati melewati satu per satu mimpi. Ini hari baik untuk mengenang.
Kau yang namanya selalu kusebut, dalam rintih-rintih sepi malam berkabut, dalam
kekacauan hidupku yang sempat kalut, pun saat jarak kita berupa selaput. Hari
ini kupersiapkan waktu memuja datangmu. Bersama matahari yang sebentar lagi
menguning.
Tepi
pantai Teluk Penyu tempo dulu. Kita tak pernah menyusuri pasir padat tanpa alas
kaki. Kau terlalu enggan membasuh jemari dengan air asin. Tatapmu hanya
bergerak mengikuti lakuku, yang membungkuk-bungkuk memunguti kerang tanpa
penghuni.
Segenggam
kulit kerang aneka bentuk kusodorkan padamu."Bagus-bagus."
Kau
tersenyum, dan meraih satu dari tanganku. "Di kios suvenir itu lebih bagus
lagi. Bersih dan tidak pecah-pecah."
"Tapi
tidak gratis." kataku. Kau tergelak.
"Tidak
ada yang gratis untukmu. Bahkan untuk melarikan waktu berdua denganmu seperti
saat ini, aku harus membayarnya dengan kebohongan," ungkapmu perih menatap
pulau kecil di ujung Nusa Kambangan.
"Maafkan
aku," sahutku lirih. Satu per satu kulit kerang berjatuhan dari telapak
tangan. Aku terduduk pada lembutnya pasir pantai.
"Aku
juga pengecut. Tak berani membawamu lari, juga memaksa keyakinan
orangtuamu." Kau ikut duduk di sisiku, menatapi kaki langit yang menelan
titik-titik hitam kapal minyak. Kusandarkan hati dan tubuhku pada bahumu.
Tangan kita saling menggenggam erat serupa santo memanjat doa. Tidak bisakah
waktu hanya sampai di sini? Atau biarkan kami membeku di antara ramainya orang
lalu lalang. Tapi takdir tak pernah sekalipun ingkar. Ia tepat waktu seperti
biasa. Senja semakin menua dan kami harus kembali.
Aroma
kopi tak lagi tajam menusuk. Hangat beralih menjadi dingin. Seperti bekunya
hatiku saat malam-malam memandang punggungmu menjauh. Seharusnya kau tak membuat
luka baru di samping hati yang telah tergores. Tapi kau lakukan juga. Menatap
dua jemari bertukar sebentuk cincin, berharap tempatnya tergantikan olehmu.
Tapi takdir selalu tepat waktu. Tak ada namamu dalam lauh mahfudzku. Hati
mencoba berdamai dengan airmatamu yang tak pernah jatuh. Tujuh ayat terucap
lagi untukmu.
Hari ketujuh
Entah
mengapa, hari ini matahari seperti mengejekku. Cukup sudah aku kerontang saat
ini. Jangan lagi matahari mengeringkan perasan-perasan keringat. Entah mengapa
aku tak bisa bersedih seperti biasanya. Semut-semut seperti menjalari seluruh
tubuh. Aku tidak sedang merinduimu. Rinduku tidak seperti ini, rinduku seperti
gerimis. Liris dan mengusik. Lekas kukirimkan 7 ayat padamu. Tujuh ayat yaumul
kitab yang senantiasa setia menemaniku melewati hari tanpamu.
Dering
SMS membuyarkan gelisah. Namamu tertulis di layar HP.
'Baca
e-mail.'
***
'Naura...terima
kasih atas kiriman Al-Fatihahmu seminggu ini. Perlahan rasa kalut harus
melihatmu menikah menipis dari hatiku. Tadi pagi, aku menyusuri jalan kenangan
kita yang pahit. Sesaat aku tenggelam di dalamnya. Penuh amarah dan dendam.
Hingga mobilku oleng ke kanan tanpa sadar. Sebuah mobil di depan melaju sangat
kencang. Aku merasakan tanganmu di kemudi, senyummu hangat di sampingku. Entah
apa jadinya aku jika tanganmu tak gegas memutar kemudi ke kiri. Naura, Al-Fatihah
akan kukirimkan juga padamu selama seminggu. Semoga kita bisa menjalani sisa
takdir kita sampai nanti saatnya takdirku dan takdirmu bertemu.'
Batam,
Mei 2016

Susah utk berkomentar lagi
BalasHapuskkkk...tersepona ya? :P
HapusDi-share linknya ke fesbuk dong ^^
BalasHapusudah ^^
HapusSatu kata untukmu. Hanya satu: Menakjubkan. ^_^
BalasHapusSatu kata untukmu. Hanya satu: Menakjubkan. ^_^
BalasHapusmba lelii...dirimu juga menakjubkan! \^^/
BalasHapus