MATI DI BULAN JUNI

(www.floressastra.com; http://dlvr.it/LhF0V5)
Jatuh
cinta di bulan Juni, itu biasa. Saat hujan tak pernah berhenti menetes dan
aroma kelabu memenuhi udara dengan khayalan. Bulan Juni saat paling tepat untuk
mendesah di balik jendela, sambil melukis bentuk hati dan namanya pada kaca
yang berembun. Berharap saat hujan turun, kau dan dia terperangkap bersama.
Selama-lamanya.
Aku,
tidak memilih jatuh cinta di bulan basah. Tidak pada manusia. Aku menjatuhkan
cintaku pada sosok yang lebih gelap dari gumpalan awan mendung, pun lebih
menakutkan dari gelegar guntur. Aku memilih kematian untuk menemaniku
menghabiskan waktu pada saat gerimis. Terkejut? Wajar saja. Bagi sebagian
orang, kematian adalah takdir yang ingin dihindari. Bagiku tidak. Aku menjemput
mati sebelum dia datang. Bahkan aku sempat mengundangnya beberapa kali, kita sempat
bercumbu seperti kekasih.
Pada
satu perjumpaan kami, kematian sempat bercerita perihal ibu. Yang dia jemput
saat hujan deras, saat ibu berjuang mengeluarkan adik bungsuku dari dalam
perut. Menurutnya, ibu pergi dengan bahagia. Menggendong adik di lengannya. Ibu
pasti tahu, taman surga menanti pejuang-pejuang sahid sepertinya. Apa ibu
memikirkan diriku? Aku bertanya pada kematian. Kematian menggeleng. Yang
tertinggal di dunia biarlah mengurus dirinya sendiri. Aku semakin membenci ibu
karenanya.
Sudah
sewajarnya aku benci ibu. Dia menitipkan aku pada paman dan bibi daripada
mengasuhnya sendiri. Ibu lebih memilih mengasuh adik lelakiku yang baru
dilahirkannya. Aku yang masih batita hanya akan membuat tenaganya habis karena
lelah. Mungkin ibu berpikir aku akan bahagia. Ya, pasti begitu. Paman dan bibi
sangat kaya, tapi tidak punya anak. Aku akan menjadi putri raja di rumah mewah
mereka. Benarkah? Aku memilih berkawan dengan kematian daripada menjadi putri
yang bahagia.
Aku
tumbuh menjadi anak yang murung. Tidak percaya diri. Merasa semua memusuhiku
tanpa alasan yang jelas. Teman-teman berusaha mendekatiku. Mengajakku dalam
kelompoknya. Tapi aku terlalu sinis untuk menerima kebaikan mereka. Tidak ada
yang gratis dalam hidup ini. Ketulusan pun ada harganya. Aku memilih menjadi
asing dan hidup di luar lingkaran.
Aku
bertahan. Tidak ada yang berani mengusikku. Tiap jam istirahat tiba, aku
menimbun diriku dalam tumpukan buku berdebu di perpustakaan daripada
menghabiskan waktu berkeliaran di kantin dan sibuk menilai penampilan semua
orang. Tapi aku perempuan. Dengan hormon progesteron yang terbakar pada usia
yang tepat. Seasingnya diriku, pada seseorang yang terlihat menarik, aku akan
menjatuhkan pilihan. Tentu saja aku hanya bisa menyukainya dalam diam. Hingga
waktu habis dan kami harus terus berjalan, aku tetap menyukainya dalam diam.
Tak mengapa. Karena jika malam tiba, aku akan menyusup dalam mimpi-mimpinya.
Apa
kau pikir aku ingin mati karena patah hati? Tidak. Sama sekali tidak. Seorang
remaja di China mengabadikan saat-saat sebelum kematiannya melalui akun
instagram. Dia patah hati dan memilih mati. Mungkin dia ingin kekasihnya
merasakan kepedihan saat melihatnya terjun dari gedung bertingkat. Atau mungkin
dia ingin kekasihnya selalu ingat saat kematian menjemputnya di jalanan
beraspal. Saat tengkorak kepalanya membuyarkan kenangan-kenangan indah mereka.
Entahlah. Tak ada yang bisa menduga apa yang dipikirkan seseorang sebelum
mereka mati. Sama seperti kematian yang tak pernah bertanya untuk apa dia
datang.
Seorang
remaja bahagia, tiba-tiba memilih menggantung lehernya di dalam lemari dengan
kaki tertekuk. Meninggalkan lubang pertanyaan yang teramat dalam pada sanak
keluarga. Mengapa? Ada apa? Apa yang salah? Tak satu pun terjawab meski dengan
teori yang diutarakan para ahli jiwa. Tak perlu alasan untuk mati.
Seperti
Kurt Cobain yang tiba-tiba menggamit kematian di puncak karirnya. Sama seperti
Marilyn Monroe atau Elvis Presley. Mereka tak perlu alasan jelas untuk mati.
Tiba-tiba saja mati begitu menyenangkan untuk dilakukan. Tapi mereka, kita, aku
lupa pada satu hal. Kematian bukan permainan pada play station yang bisa di reset atau di ulang kembali bagaimanapun
menyenangkannya dia. Kematian adalah jalan satu arah yang tak bisa diputar
balik.
***
Menurutmu,
bagaimana cara terbaik aku mati? Aku memilih bulan Juni untuk mati, itu pasti!
Saat airmata bercampur hujan. Karena sejatinya aku tak menyukai siapapun
menangis di pemakamanku. Untuk apa? Aku tidak pernah merasa dekat dengan
siapapun. Ayahku yang kawin lagi. Adik kandungku yang memilih tinggal dengan
nenek. Atau adik-adik tiriku yang lucu dan manis yang menganggapku sangat hebat
dan menjadikanku pahlawan mereka. Tapi sebagian pahlawan mati sebelum mereka
dibilang pahlawan. Maka aku harus benar-benar mati sebelum menjadi sebenar-benarnya
pahlawan mereka.
Aku
tidak mau caraku mati menyakitkan. Atau tampilanku buruk menjelang mati.
Seperti seorang penulis Jepang yang melakukan Seppuku. Mengiris perutnya dengan
irisan mematikan lalu meminta orang lain memenggal kepalanya. Tidak…tidak….
Jasadku akan tampak buruk sekali. Isi perut terburai dan kepala yang terpisah
dari tubuh. Aku tidak memilih cara itu. Juga menggantung diri, yang akan
membuat lidahku terjulur dengan bola mata hampir keluar. Orang-orang akan
mengenangku sebagai sosok mengerikan. Bahkan kematianku akan dijadikan simbol
untuk menakut-nakuti. Aku tidak mau!
Aku
ingin keluargaku masih bisa mengubur jasadku. Menabrakkan diri ke kereta api
yang sedang berjalan, terjun dari pinggir jurang atau gedung bertingkat tinggi,
menenggelamkan diri ke arus deras, atau menusukkan benda-benda tajam ke tubuh,
tidak menjadi pilihanku. Aku ingin mati dengan tersenyum, seperti dalam tidur.
Bahagia. Karena aku memang bahagia berkumpul dengan teman lamaku, kematian.
Pilihanku
jatuh pada racun atau obat-obatan. Overdosis sepertinya tidak menyakitkan. Tetapi
aku harus berhati-hati dengan dosis. Harus benar-benar mematikan. Jangan sampai
ada kemungkinan selamat yang malah akan membuatku mendapat pengawasan ketat
bahkan masuk pusat rehabilitasi. Aku tidak mau menghabiskan waktu dengan
seseorang yang pura-pura telah mengenalku bertahun-tahun hanya dalam lima menit
pertemuan pertama. Lalu mereka berusaha menunjukkan simpati yang dalam dan
memberi saran ini itu. Seolah aku semudah komputer yang bisa sehat kembali
dengan diinstal ulang. Mengerikan! Memang mereka pikir mudah meletakkan
kepercayaan pada seseorang setelah 32 tahun menghindari orang-orang?
Obat
sedikit beresiko. Bagaimana dengan racun? Sianida sepertinya masih menjadi
favorit untuk mengakhiri hidup. Cepat, mematikan, dan tanpa jejak. Terbukti
pada Munir yang sampai kini kasusnya meruap di udara. Atau kopi Mirna, yang
melarutkan nama Jesica dengan bukti-bukti yang belum tuntas.
Tapi
aku tidak mau menenggak minuman beracun yang berbau menyengat dengan rasa yang
membakar lidah, tenggorokan, usus, lambung, sebelum akhirnya menghentikan jantungku.
Tidak. Aku tidak mau terlihat kejang-kejang dan berbusa. Menjijikan. Sekali
lagi, aku ingin tetap berbentuk manusia utuh saat mati.
***
Perempuan itu datang ke pinggir tebing tanpa alas kaki. Penampilan yang ganjil untuk seorang pelancong. Tanpa membawa HP atau kamera. Tatapannya terlalu fokus pada satu titik di cakrawala. Tidak terlihat kagum pada pemandangan menakjubkan yang ditawarkan Tuhan. Perempuan itu, berdiri di tepian pagar pengaman sambil memandang langit yang masih sama di mana-mana. Biru dengan larik putih yang tak banyak.
"Pemandangan
yang indah, bukan?" Seorang lelaki tua menyapanya lembut. Di tangannya
secangkir teh mengepul hangat.
"Terlalu
dingin untuk bulan Juni." Perempuan itu memandang lelaki tua seolah mereka
teman lama.
"Kau
tentu tak keberatan sedikit mengubah suasana menjadi hangat di pondokku?"
Senyum tanda mengerti mengiringi perjalanan mereka ke sebuah pondok nan asri
sebelum tanjakan.
"Minumlah."
Lelaki tua bertubuh gagah menyodorkan secangkir teh panas dengan daun mint yang
mengambang.
"Aku
tahu, kau akan mengajakku minum teh. Untuk kemudian mempengaruhi pendirianku.
Tapi kau harus gagal kali ini."
"Setidaknya
aku berhasil menjauhkanmu dari pinggir tebing."
"Menurutmu
begitu?"
"Menurutmu
tidak?" Lelaki tua menatap penuh selidik. Perempuan tanpa alas kaki
membuang pandang.
"Tak
satu pun keluargaku tahu aku di sini. Aku terlalu jauh dari rumah."
Perempuan itu menatap hijau yang menghalangi tebing The Gap, di negeri Kanguru
berlompatan. Tempat ini terlalu indah untuk dijadikan pilihan mati. Atau
mungkin 50 orang yang terjun dari tebing setiap tahun itu menemukan surga
sebelum mereka terjun? Pasti begitu. Tak ada surga setelah kematian yang
dipaksa. Bukankah begitu dalam kitab-kitab? Perempuan itu tak peduli. Di dunia,
dia bersahabat dengan sakit dan kepedihan. Sudah biasa, pikirnya.
"Kamu
rindu rumah?" Lelaki tua memecah hening. Perempuan itu menggeleng.
"Aku
rindu kematian."
"Mau
kau berbagi cerita denganku?"
"Aku
mau berbagi ini denganmu." Perempuan itu menyerahkan tas kecil yang
disandangnya sedari tadi.
Lelaki
tua veteran perang itu, meraih tas kecil berwarna hitam dengan mata penuh
pertanyaan. Perempuan ini ingin mati itu jelas. Tapi bukan terjun dari tebing.
Nyatanya, dia masih duduk di hadapannya dan sedang bersiap meminum teh yang tak
lagi berasap.
"Seharusnya
kau tidak pernah meninggalkanku, Ibu," ucapnya lirih sembari memejamkan
mata. Kedamaian menyelimuti wajahnya yang tenang.
Lelaki
tua yang telah menyelamatkan ratusan nyawa dari usaha bunuh diri, memandang tak
mengerti pada perempuan yang telah pergi. Satu hal yang dia tak tahu, perempuan
itu diam-diam telah memasukkan sianida pada cangkir tehnya.
Batam,
Juni 2016
Komentar
Posting Komentar