HATI YANG BARU UNTUK DIAZ




(http://ikasmaricap.com/2016/01/25/hati-yang-baru-untuk-diaz/)


“Dia datang! Tak terlihat di antara teman-teman baikku. Kombinasi yang aneh, dia sendirian laki-laki di antara teman perempuanku. Apa yang dipikirkannya? Seharusnya malam ini adalah malamku bersama teman perempuanku. Midodareni, malam ketika para bidadari memberikan kecantikannya pada pengantin wanita. Dan dia tidak seharusnya datang!”

Sabtu ini alumni angkatanku berusia 20 tahun. Luar biasa rasanya! 20 tahun berpisah sudah jadi apa, ya mereka semua? Aku sendiri masih sering berhubungan dengan sahabat-sahabatku semasa SMA dulu. Kami berempat dijuluki Geng Jumbo. Karena untuk ukuran anak SMA kami termasuk besar. Nggak gendut, cuma besar! Ira misalnya, dia jangkung tapi tidak kurus makanya dia terpilih sebagai paskibraka wakil dari sekolah kami hingga ke provinsi. Sedangkan Dyan, tubuhnya terlalu matang untuk ukuran SMA. Aku dan Uli pun sama. Kami tinggi meskipun tidak setinggi Ira dan lebih padat dibanding teman kami yang lainnya. Yah, pokoknya kami menolak kalau ada yang bilang gendut. Nggak gendut, kok cuma montok! Hihi...

Bagian melankolis dari kengototanku untuk ikut reuni adalah untuk bertemu Diaz! Ingin mengetahui kabar teman-teman, iya juga tapi alasan no. 1 adalah ingin bertemu Diaz. Ingin melihat seperti apa dia sekarang. Kuakui aku sedikit rindu padanya.
Kabar terakhir yang kudengar dia telah bercerai dengan istrinya dan sekarang tinggal di Jakarta. Diaz, cinta pertamaku. Lelaki yang rela menyakiti perasaannya hanya untuk melihatku bahagia.

Tidak banyak kenangan kami semasa SMA karena kami memang tidak pacaran ketika itu. Dan juga tidak ada yang tahu tentang kisahku bersama Diaz, bahkan geng jumbo sekalipun. Aku ingat ketika kami baru lulus SMP, tiba tiba Diaz muncul di depan rumahku. Berpeluh karena harus mengayuh sepeda 10 km dari rumahnya menuju rumahku, hanya untuk bertanya," Kan, boleh minta alamat rumahmu yang lengkap? Karena aku mau sekolah ke Jogja."

Dia berjanji akan mengirim surat kepadaku selama sekolah disana. Aku agak ge-er waktu itu. Diaz, cowok basket keren ternyata suka padaku? Dan bunga-bunga pun tiba-tiba bertaburan di atasku.

Tapi alangkah herannya aku ketika hari pertama masuk sekolah di SMA favorit di kotaku ini, Diaz terlihat  berbaris paling depan di deretan anak-anak kelas satu! Dan Diaz tidak pernah mengatakan perasaannya padaku selama 3 tahun di SMA. Dia malah asik pacaran dengan adik kelas yang hitam manis, modis dengan rambut panjang di kepang klimis. Miris.
Ah, Diaz aku jadi patah hati.

Kembali kuingat masa-masa setelah lulus SMA, aku kuliah di Bandung dan Diaz di Jogja. Jarak yang jauh justru membuat kami semakin dekat. Aneh! Diaz sering menelpon ke kosanku dan juga rajin mengirim e-mail. Awalnya aku mengira dia hanya mempermainkan aku. Ketika kami dekat dia pacaran dengan cewek lain. Ketika kami jauh dia mendekati aku. Apa aku ini cuma serep? Selingan ketika dia sudah putus dari pacarnya yang hitam manis itu dan ketika kesepian belum ada pengganti dia menghubungi aku?

"Kok, kamu gitu mikirnya ? Aku betulan suka kamu dari SMP, tapi setiap kali ada di dekatmu aku nggak percaya diri, Kan," jawabnya di telepon ketika aku bertanya kenapa dia nggak nembak aku di SMA.

"Jadi kalau jauhan gini juga buat apa? Mau ketemu juga susah, Diaz," kataku sedikit memancing. Ingin tahu hubungan seperti apa yang dia inginkan sebetulnya.

"Kania, sebenarnya aku, tuh takut kehilangan kamu. Waktu di SMA, biarpun aku pacaran dengan cewek lain tapi aku sering memerhatikan kamu. Aku pikir nggak apa, deh nggak jadi pacar kamu juga yang penting aku bisa liat kamu tiap hari. Sudah cukup buatku," jawabnya.

Suaranya terdengar sedih dan aku merasa dia tulus mengatakan itu. Aku nggak merasa lagi digombalin. Dan aku pun menjadi jatuh hati lebih dalam kepadanya.

"Diaz, aku pengen ketemu kamu. Bolehkah?" pintaku memelas ditelpon.

"Aku pasti datang menemuimu Kania. Untuk memastikan dan menjemput cintaku," janjinya.
Diaz tidak pernah datang.

*****

Hari ini sehari menjelang reuni, aku berjalan di samping Uli -yang kini mengajar di almamater kami- mencoba mengatur napas yang tiba-tiba memburu mengetahui bahwa Diaz ada di sekolah kami. Aku mengutuki diri sendiri karena memaksa datang ke sekolah hanya untuk nostalgia. Harusnya aku tidak heran jika Diaz pasti ada di sini ketika H-1, dia kan salah satu panitia. Aku hanya tidak siap bertemu dengannya. Sama tidak siapnya ketika Diaz datang di acara lamaranku.

Tak sekalipun aku memberitahunya kapan tanggal lamaran itu berlangsung. Tapi dia datang tepat setelah acara lamaran selesai. Setelah aku dan keluargaku mengatakan ‘ya’ dan menentukan tanggal pernikahan.

Diaz tertunduk di ruang tamu ketika aku menemuinya. Menjabat tanganku dan mengucapkan selamat dengan pandangan kesakitan. Diaz menjabat tangan orangtuaku dan dengan riang mengatakan kebetulan datang ke sini dan ingin bertemu denganku. Tidak tahu jika hari ini aku resmi di pinang. Diaz juga menjabat tangan calon suamiku dan mengatakan semoga kami menjadi keluarga yang bahagia.

Di akhir kunjungan dia berjanji akan datang dipernikahanku. Aku hampir tidak sanggup menatap matanya. Begitu terluka dan kesakitan. Rasanya aku ingin memeluk dan mengajaknya pergi. Membangun surga kita berdua, tapi kita berdua tahu itu tidak mungkin dilakukan.

*****

"Diaz..., Arry..., ada yang inget Kania? Dulu kami sekelas di Bio 2. Kalau nggak salah Diaz dan Kania pernah satu kelas, kan di SMP?" Uli mencoba memperkenalkan kami kembali ketika bertemu. Aku menjabat tangan Arry dan..., Diaz.

"Kudengar kamu jadi dosen di Bandung, ya ? " tanya Diaz sambil menggenggam tanganku. Aku mencoba menarik tanganku tapi dia menahannya.

"Wah, Bu dosen pake batu akik juga ? Ikut trend, ya ?" tanyanya sambil membalik tanganku sehingga cincin bacanku jelas terlihat. Arry dan Uli yang sedang memerhatikan orang-orang yang mengangkut kursi spontan menoleh pada kami. Langsung kutarik tanganku cepat-cepat sambil tersenyum padanya. Dia balas tersenyum padaku. Manis tapi sepi.

Ah, Diaz. Takdir tidak berpihak pada kita. Kamu pernah berjanji akan datang menemuiku, tapi sampai aku mendapat kerja di New Mount, kamu tidak juga datang. Entah harus kupercaya atau tidak semua janji dan ucapanmu. Bodohnya aku memang memercayainya. Aku terbuai oleh kata dan janji manismu. Tentang surga yang akan kita bangun bersama.

Diaz, aku tetap merindukanmu dalam kesendirian. Sedangkan kamu membunuh rindu itu dengan berkencan dengan wanita teman kantormu. Jika memang kau kesepian tanpaku, mengapa tak kau sampaikan maksudmu kepada orangtuaku? Kamu hanya terus menunda dan berdalih. Sementara waktu terus berjalan dan aku tidak bisa terus menunggu. Orangtuaku mendesak untuk segera menikah, Diaz dan kamu bukan pilihan kuatku. Mereka kolot dan tidak mengenalmu. Mereka terlalu takut untuk melepas anak semata wayangnya pada lelaki beda suku.

Maafkan mereka jika rasis, Diaz. Maafkan aku yang memilih patuh daripada memperjuangkan cintaku padamu. Seandainya kamu memberiku keyakinan untuk berjuang, aku mungkin akan mengulur waktu untuk membuat mereka percaya kaulah sumber kebahagiaanku. Tapi yang kudapat darimu hanya alasan demi alasan. Maafkan aku Diaz...

"Ada yang mau maksi, nggak ? Sayang sekolah lagi libur, kalau nggak makanan di kantin enak-enak, lho. Tapi mi ayam depan sekolah masih buka. Mau kesana ?" ajak Uli membuyarkan lamunanku. Kami semua mengiyakan. Selain Uli, kami bertiga tinggal di luar kota. Arry bahkan tinggal di luar Jawa. Bernostalgia dengan mi ayam depan sekolah yang dulu jadi tempat favorit buat nongkrong, tentu akan jadi pengobat rindu bagi kami.

Keluar dari lobby sekolah, kami bertemu dengan Pak Ketua panitia reuni. Dia punya rencana lain dengan mengajak kami makan siang di tempat Arira, teman kami yang sekarang memiliki rumah makan, kafe dan guest house. Yanti dan teman panitia lain sudah menunggu di sana. Reuni kecil sebelum reuni besar? Kedengarannya mengasyikan. Aku tidak munafik, aku suka memiliki banyak waktu bersama Diaz.

"Aku sudah bercerai, Kania," katanya tiba-tiba ketika kami tiba di parkiran rumah makan. Langkahku terhenti. Kubiarkan teman-teman yang lain berjalan lebih dulu.

"Aku tahu," sahutku pendek.

"Kamu tidak mau tahu ceritanya?"

"Tidak perlu. Tidak penting bagiku," jawabku sambil berjalan mendahului dia.

"Kania, aku masih berharap padamu.”
Diaz menangkap pergelangan tanganku. Aku menoleh dan melihat ke dalam matanya. Masih mata yang kesepian.

"Diaz, tidak cukupkah bagimu semua yang telah kita alami ini? Tidak satupun tanda-tanda kita berjodoh. Berhentilah meyakinkanku kalau aku cinta sejatimu. Karena aku tidak akan menghancurkan pernikahanku, Diaz," kataku menggeleng dan melepaskan tanganku darinya. Dia menunduk.

"Cobalah menerima kenyataan, Diaz. Berbahagialah dengan pendampingmu nanti.”

 "Aku tidak bisa, Kania. Saat bersama istriku dulu aku terus membayangkanmu. Aku tidak bisa terus-menerus berpura-pura mencintai istriku. Apalagi aku tidak terlalu mengenalnya karena kami dijodohkan. Baru kusadari jika aku benar-benar mencintaimu Kania," katanya sambil menatap mataku.

"Sudah terlalu terlambat untuk menyadari itu, kan?" tanyaku dingin sambil berjalan meninggalkannya menuju rumah makan di mana yang lain telah menunggu kami.

"Kamu yakin tidak ada kesempatan bagiku?" tanya Diaz ketika kami tinggal berdua saja di rumah makan. Lagi-lagi dia berhasil menahanku. Membiarkan yang lain pulang lebih dulu. Aku menggeleng.

"Apa yang harus kulakukan sekarang ?"

"Diaz...," panggilku sambil menyentuh tangannya, "kamu tahu aku ingin sekali bersamamu."

"Kalau begitu lakukanlah! Kita bisa mulai dari sekarang.”

"Aku tidak bisa mengkhianati dia, Diaz. Dia begitu baik dan begitu sayang padaku.”

"Apa aku tidak cukup baik bagimu? Apa aku tidak cukup sayang?"

"Diaz, aku tidak bisa menyakiti orang yang tidak pernah menyakitiku.”

"Artinya aku pernah menyakitimu, kan?" tanyanya sambil tertawa sinis.

"Tinggalah bersamaku malam ini, Kania. Semalam saja bahagiakanlah aku," ujarnya memelas. Seaat ingin rasanya aku memasuki perangkap syetan ini dan menikmati racun cinta yang mematikan. Hatiku bergetar. Aku sibuk mencari pembenaran permintaanmu itu. Benarkah dia mencintaiku tulus atau hanya ingin bersenang-senang denganku? Tak terasa air mataku meleleh. Sudah berakhir Diaz, sudah berakhir!

"Bukan dengan aku, Diaz. Bukan aku yang harus membahagiakanmu. Kamu harus mencari kebahagiaanmu sendiri," kataku terisak.

"Sudah kutemukan kebahagiaanku tapi dia menolakku," sahutnya perih.

Kata demi kata yang diucapkan Diaz terngiang terus di ingatanku. Aku merasa dia menyalahkan aku atas ketidak beruntungan cintanya. Dia seolah menudingku perempuan yang tidak mau memperjuangkan cintanya. Diaz selalu minta bukti! Bukti kalau aku mencintainya. Dulu dan sekarang, selalu itu yang diinginkannya.

"Jika kamu benar mencintaiku, kamu selalu punya 99 alasan untuk bersamaku. Dan hanya ada satu alasan untuk ketidakmungkinan." Itu kata-kata yang cukup menghujamku ketika dia datang di malam midodareni. Malam terakhir aku sebagai wanita bebas.

"Aku ingin membawamu lari Kania, jika kamu mengijinkan. Mintalah..., maka akan kularikan kamu sekarang," katanya di malam itu.

"Tidak, Diaz. Menikah tanpa restu orangtua bagaikan membangun surga beralaskan kerikil panas. Aku tidak bisa mengecewakan mereka.” Diaz tersenyum sinis.

"Kania gadis mamah yang membanggakan! Itulah kenapa aku tak pernah percaya diri mendekatimu. Gadis cerdas dengan banyak prestasi. Tak pernah sebanding disandingkan denganku. Pemuda biasa," katanya getir.

Diaz, selalu itu alasanmu. Merasa tidak pantas untukku? Kamu selalu istimewa Diaz, selalu! Jika aku mau mencari-cari kesalahan, banyak perbuatanmu yang bisa menyudutkanmu. Tapi itu hanya akan menyakiti kita berdua, kan?

"Aku akan bersikap dewasa, Kania. Jangan takut dan jangan bersedih. Aku akan memberikan ucapan selamat di pelaminan besok dan melepasmu dengan senyuman."
Dia tersenyum padaku. Perih dan kecewa. Ahh, Diaz hatiku menangis untukmu.

*****

Aku melihatnya. Tersenyum bahagia kepada satu persatu tamu yang menyalami. Aku pernah memimpikan saat-saat seperti ini, berdiri sebagai mempelainya. Tanpa sadar aku ikut tersenyum melihat senyuman bahagia Diaz.

Reuni setahun yang lalu tidak saja mempertemukan kita kembali tapi juga mempertemukan Diaz dengan cinta sejatinya, Nayla. Teman kita juga yang memiliki nasib yang sama dengan Diaz. Dulu aku pernah menawarkan persahabatan, tapi Diaz menampiknya.

"Buat apa aku ada di dekatmu tapi tidak bisa memilikimu?”

Walau kamu menolak kata ‘sahabat’ namun aku berharap suatu hari nanti kamu akan menerimanya. Aku berharap kita bisa tertawa bersama tanpa ada beban. Aku berharap suatu hari nanti kita bisa saling bercerita tanpa ada yang merasa tersakiti.

Aku bahagia Diaz, menerima takdirku dengan ikhlas. Aku harap kamu juga begitu. Sejak reuni itu hampir setiap hari aku menghadiahkan Al=Fatihah untukmu, agar kamu segera menemukan kebahagiaanmu seperti aku. Akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Aku disini sekarang, melihatmu bersanding di gedung yang sama, panggung yang sama tempatku bersanding dulu. Ini pernikahan keduamu dan aku bersyukur bisa mengucapkan selamat dan doa restu untukmu.

Kamu selalu di hatiku Diaz, menjadi kenangan terindahku. Cinta memang tidak harus memiliki, tapi merasakan rasa cinta itu sendiri sama dengan memiliki cinta. Aku memilikimu Diaz, memiliki rasa cinta kepadamu. Dan aku akan hidup dengannya.

Saatku hampir tiba, aku hampir sampai di tepi pelaminan. Saatnya bagiku mengucapkan selamat dan melepasmu untuk bahagia. Seperti yang kau lakukan dulu padaku dan suami.

Kamu melihat ke arahku dan kamu tersenyum. Senyum termanis dan terindah yang pernah kulihat. Aku tahu kamu bahagia, aku bisa merasakannya. Tidak ada kepedihan dan kesepian di matamu. Kamu telah memiliki hati yang baru.

"Selamat berbahagia Diaz."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(6) - PEREMPUAN MASA LALU

LET'S EAT!

MEN IN THE LOCKERS