Postingan

JANJI SEBELUM TIDUR

(Majalah Tegalredja, September 2017) Lagi apa? Biasa. Nidurin Kinan. Tadi pulang jam berapa? Biasa. Jam lima sampai rumah. Ada masalah di kantor? Hampir tidak ada. Kamu? Sepertinya hari ini sedikit terlambat sampai di rumah. Ada sedikit masalah di pengiriman. Parah? Enggak. Bisa diatasi, kok. Syukurlah. Ummm ... kamu nggak kangen, ya, sama aku? Aku capek. Kinan sedikit rewel hari ini. Tadi sewaktu aku pulang, dia menangis keras sekali sambil memelukku erat. Ah, dia cuma kangen mamanya. Mungkin kamu kurang meluangkan waktu untuk dia. Terlalu sibuk bekerja. Enggak jugalah. Kalau sampai rumah aku selalu ngurusin dia. Kalau weekend juga aku selalu bawa dia ke mall atau berenang. Kayaknya bukan karena kangen. Mungkin ada hal lain. Coba besok pagi kamu tanya dia baik-baik. Mungkin dia mau cerita. Kinan cukup cerdas. Ya, dong. Seperti mamanya. Jadi ..., kamu beneran nggak kangen aku? Mmm ..., mau tahu apa mau tahu bang...

MEREKA PIKIR SAYA GILA

Gambar
(Radar Mojokerto, Minggu 26 Maret 2017) 1/ Warga komplek mengira saya gila. Kenapa? Karena setiap hari saya membersihkan rumah berkali-kali hanya untuk menyambut kedatangan suami. Apa itu salah? Seharusnya perempuan-perempuan yang berbisik dengan tatapan sinis itu menilai dirinya sendiri sebelum mengata-ngatai saya. Lihat saja penampilan mereka. Daster yang baunya bercampur antara keringat dan bumbu dapur, rambut digulung-gulung dan diikat karet gelang, muka berminyak dan berkilat akibat lelah dan kurang perawatan. Apa mereka pikir lelakinya akan tampak senang apabila pulang disambut dengan kekacauan? Kekacauan pada penampilan istrinya, kekacauan pada rumah tangganya, kekacauan pada penampilan anak-anaknya. Tapi, toh mereka tak jera menggunjingkan saya. Meski mereka tahu, diam-diam lelaki mereka lebih suka memandangi foto Raisa di smartphone mereka. Saya pun suka memandangi foto pesohor di smartphone saya. Tak jarang saya mencari informasi terkini tent...

PANGGUNG-PANGGUNG KESEDIHAN

Gambar
http://www.readzonekami.com/2016/10/cerpen-lusi-anda-sudjana-panggung.html (ReadZone, 22 Oktober 2016) (1) Symphoni Tchaikovsky mengalun lembut, mengiringi kawanan angsa yang menari di atas danau. Pangeran Siegfried mengangkat tubuhku tinggi, waktu seolah terhenti. Danau berkilau tertimpa cahaya purnama. Dark Wood tidaklah sesuram namanya.   Ketika Pangeran Siegfried melepas tangannya dari pinggangku, udara kembali hangat. Siegfried, akankah kau bebaskan aku dari sihir Rothbart? Lalu membunuhnya dan kita akan bahagia selamanya? "Aku mencintaimu, Odette. Sekalipun aku hanya bisa menemuimu dalam gelap, aku tetap mencintaimu." Bisikanmu laksana alunan orkestra yang mengiringi tarian kita. "Tidak Siegfried! Aku tidak ingin bertemu dalam gelap. Aku ingin mencintaimu pada saat matahari, bulan, dan bintang bersinar. Aku ingin selalu bersamamu merajut waktu. Menikmati sepotong croissant dan secangkir teh bersama. Aku tidak ingin terkurung di danau ini!...