Postingan

MATI DI BULAN JUNI

Gambar
 (www.floressastra.com; http://dlvr.it/LhF0V5 ) Jatuh cinta di bulan Juni, itu biasa. Saat hujan tak pernah berhenti menetes dan aroma kelabu memenuhi udara dengan khayalan. Bulan Juni saat paling tepat untuk mendesah di balik jendela, sambil melukis bentuk hati dan namanya pada kaca yang berembun. Berharap saat hujan turun, kau dan dia terperangkap bersama. Selama-lamanya. Aku, tidak memilih jatuh cinta di bulan basah. Tidak pada manusia. Aku menjatuhkan cintaku pada sosok yang lebih gelap dari gumpalan awan mendung, pun lebih menakutkan dari gelegar guntur. Aku memilih kematian untuk menemaniku menghabiskan waktu pada saat gerimis. Terkejut? Wajar saja. Bagi sebagian orang, kematian adalah takdir yang ingin dihindari. Bagiku tidak. Aku menjemput mati sebelum dia datang. Bahkan aku sempat mengundangnya beberapa kali, kita sempat bercumbu seperti kekasih. Pada satu perjumpaan kami, kematian sempat bercerita perihal ibu. Yang dia jemput saat hujan deras, saat ibu be...

HUJAN DI AWAL TAHUN

Gambar
(Batam Pos, Minggu 21 Februari 2016) http://jembia.com/2016/02/21/hujan-di-awal-tahun-cerpen-l-keian/ Orang bilang hujan di awal tahun itu berkah. Katanya, kemakmuran akan terus menyertai sepanjang tahun yang baru. Bukankah hujan itu sendiri adalah anugerah? Jadi mengapa harus menunggu sepanjang tahun untuk sebuah berkah? Allohumma Shoyiban Nafi'an . Dimas terus memandangi hujan yang membentuk tirai di hadapannya. Dia tidak mungkin menerobos hujan yang begitu rapatnya. Dari emperan ruko tempatnya berteduh, pandangannya terhalang tirai air itu. Hanya bayangan-bayangan kabur yang melintas di sana. Entah itu manusia atau kendaraan. Sudah satu jam Dimas numpang berteduh. Pinggiran ruko yang belum beroperasi ini sangat kecil, sehingga dia harus mepet ke dinding ruko agar terhindar dari percikan hujan yang seolah ingin menjangkau tubuhnya. Hp nya mati. Dia tahu Laras menunggunya dengan khawatir.  "Ah, kekasih. Bagaimana aku bisa menghubungimu? Kau tahu di...

SEMINGGU TUJUH AYAT

Gambar
(Solopos, Minggu 17 Juli 2016) Hari pertama Aku tidak tahu cara melepasmu pergi. Kemarin, puisimu memasuki e-mailku. Dia tertimbun di sana bersama surat-surat berisi angka dan tawaran wisata ke tempat eksotis. Beberapa mengabarkan pertemuan ini dan itu dari grup-grup alumni yang menjamur di whatsapp . Salah satunya, mungkin salah duanya, akan mengantarkanku menemuimu. Di suatu tempat di tanah kelahiran kita. Tempat segala cerita bermula. Puisimu terus menerus berkedip padaku, memohon agar aku tidak mengirimnya ke tempat sampah dan membuatnya permanen di sana. Satu ketukan saja, cukup satu ketukan, akan membuatku kembali tenggelam dalam praharamu. Dalam. Semakin dalam. Terus hingga ke dasar dan mengendap di sana. Aku akan merasakan ketenangan. Selamanya ingin terbenam. Tak ingin bangkit apalagi sadar. Tujuh ayat kukirimkan, tanpa puisimu kukembalikan. Hidup kita sudah berakhir. Tamat. Hari kedua Aku terbangun dalam gelisah. Menatapi langit-langit yang tak lagi merah...